Jogja Memanggil, Aksi Tolak Omnibus di Tengah Pandemi

Foto oleh: Syibly Adam

Gelombang protes terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja yang disahkan DPR RI dan pemerintah telah dilayangkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari akademisi, buruh, mahasiswa hingga organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah pun turut serta mengkritisi dan meminta adanya kejelasan terkait bagaimana RUU yang dikenal sebagai ‘Omnibus Law’ ini seharusnya dirancang.

Dimulai dari tanggal 5 Oktober kemarin, saat DPR bersama pemerintah resmi mengetok palu, tanda bahwa undang-undang ini telah sah, mulailah muncul tagar #MosiTidakPercaya. Tagar ini adalah bentuk tuntutan terhadap keputusan DPR dan pemerintah, yang kemudian disambut dengan aksi turun ke jalan yang mulai semarak diadakan dari pelbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di kota istimewa, yaitu Yogyakarta.

Aksi di Yogyakarta yang bertajuk #JogjaMemanggil ini memuat berbagai tuntutan, seperti: turunkan Jokowi-Ma’ruf Amin, cabut UU Cipta Kerja, bubarkan DPR, dan bangun Dewan Rakyat. Meski memang, yang menjadi concern paling utama dan cenderung bisa lebih diterima banyak pihak adalah untuk menuntut dicabutnya UU Cipta Kerja. Aksi ini dimulai dari konsolidasi dan teknis lapangan (teklap) pada 6 Oktober 2020, yang kemudian menelurkan tuntutan-tuntutan yang telah disebutkan di atas, serta menetapkan 8 Oktober sebagai tanggal pelaksanaan dari aksi.

Pada Kamis 8 Oktober 2020, massa dijadwalkan berkumpul di Bundaran UGM sejak pukul 09.00 WIB. Pada waktu yang telah ditentukan tersebut, terlihat banyak sekali orang yang ikut hadir dan berkumpul. Baik itu mahasiswa dengan jas almamater khas kampus mereka masing-masing, serikat buruh, maupun perwakilan dari komunitas atau NGO. Bahkan, terdapat siswa SMA dan SMK yang turut serta meramaikan aksi kali ini. Aksi dengan sistem long march ini memiliki tujuan akhir ke DPRD Yogyakarta, melewati Tugu Jogja dan Malioboro.

Meski demo ini bersifat darurat dan dirasa sangat mendesak untuk diikuti, kondisi Indonesia saat ini masih dalam keadaan pandemi. Kasus positif Covid-19 masih melonjak tinggi. Sehingga, pentingnya protokol kesehatan saat aksi penting untuk diperhatikan, mengingat adanya kerumunan tidak mungkin terhindarkan. Mereka yang sudah memiliki gejala disarankan untuk tidak mengikuti dan bisa menyuarakannya melalui media sosial.

Solidaritas dan kesadaran akan protokol kesehatan saat aksi juga tidak kalah pentingnya. Seperti yang dilakukan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UGM yang membagikan hand sanitizer dan masker bagi peserta aksi yang kebetulan tidak memakai atau maskernya tidak sesuai standar. Mereka juga memberikan air mineral bagi yang kehausan. Kegiatan seperti ini sangat penting agar peserta aksi tetap aware dengan persebaran Covid-19 yang semakin masif. Harapannya, semoga sudah tidak ada lagi virus dan masalah Omnibus Law di antara kita, dengan tetap bersuara mengenai bahaya pandemi dan kebijakan yang dirasa kurang berpihak kepada rakyat kecil.

Oleh: Syibly Adam

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Pentas Besar KRST 2018: Virtual Realita