Being A Good Housewife and Daughter – Sexism in A Nutshell?

Mengintip Kehidupan Wanita di Korea Selatan dari Kisah Fiksi Kim Ji-young

               Industri perfilman Korea Selatan sedang disorot beberapa bulan terakhir ini. Apalagi, kalau bukan karena film Parasite. Bagaimana tidak, film tersebut berhasil memboyong sejumlah penghargaan internasional bergengsi – salah satunya Best Picture pada Academy Awards (Oscar) 2020.

Poster resmi film
Kim Ji-young: Born 1982

                 Dirilis pada penghujung tahun 2019 lalu, sebuah film yang juga berasal dari Korea Selatan berjudul Kim Ji-young: Born 1982 juga mendapat cukup banyak perhatian – terutama dari para perempuan di Korea Selatan sendiri. Akan tetapi, bukan karena sinematografi dan plotnya yang apik seperti halnya Parasite,  melainkan film ini diangkat dari novel yang dapat dibilang agak kontroversial. Novel  yang berjudul sama dengan filmnya tersebut bercerita tentang kehidupan sehari-hari dan masa lalu dari seorang ibu rumah tangga yang bernama Kim Ji-young. Meski merupakan kisah fiksi, sang novelis – Cho Nam-joo – mampu menggambarkan betapa beratnya menjadi seorang perempuan yang tinggal di Korea Selatan.

               Novel tersebut dianggap seperti mengungkap hal tabu – yang telah berlangsung lama dan cenderung terkubur – oleh banyak kalangan pria di Korea Selatan. Sejumlah selebritas Korea Selatan menjadi korban cyberbullying karena mendukung film serta novel ini, begitu juga Jung Yu-mi – yang memerankan Kim Ji-young dalam film.

               Nah, sepertinya hari ini – 8 Maret 2020 yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, yang tahun ini bertema #EachForEqual – merupakan momen yang cukup tepat untuk membahas situasi seksisme Korea Selatan yang terpapar lewat kisah fiksi Kim Ji-young.

Foto promosional untuk pose #EachForEqual, tema Women’s International Day 2020.

Tulisan ini tidak memberikan bocoran terkait jalan cerita film dan/atau novel, hanya membahas pelajaran serta penggambaran kondisi seksisme di Korea yang ditampilkan di film saja. Juga tidak berniat untuk menyamaratakan.

Berdasarkan filmnya, perempuan di Korea Selatan harus bertahan dengan 3 image perempuan ideal berikut:

  1. A good and accomplished women is when they’re married and gave up their dreams

Perempuan baru dianggap “berhasil” ketika sudah menikah dan “terhormat” saat merelakan impian atau pekerjaannya demi menjadi ibu rumah tangga. Stigma yang satu ini memang cukup universal – pernah terjadi di banyak negara, termasuk Korea Selatan – tapi cukup lawas. Meskipun begitu, pendapat seperti itu masih kerap dijumpai di lingkungan dengan pandangan konvensional. Perempuan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi (kuliah) sering kali dicibiri, “untuk apa sekolah tinggi-tinggi dan mahal-mahal? Buang-buang uang saja, toh, nanti akhirnya juga menikah dan jadi ibu rumah tangga.”

Apabila perempuan memutuskan untuk keras kepala dan berhasil lulus kuliah pun, cobaan belum selesai. Tetap ada diskriminasi yang menghalangi pada konteks yang seharusnya profesional. “Perempuan tidak usah diberi jabatan tinggi-tinggi, nanti kalau menikah dan hamil, akhirnya malah cuti, terus resign. Bikin repot perusahaan.”

Mengundurkan diri dari pekerjaan dianggap sebagai tindakan terpuji dan normal bagi perempuan yang telah menikah dan melahirkan. “Ibu serta istri yang baik itu harus mengurus anak dan membereskan rumah”, kata orang-orang. Padahal anak merupakan tanggung jawab bersama, begitu juga rumah. Akan tetapi, hanya perempuan yang diminta berhenti bekerja.

  1. A good daughter

Yang satu ini masih kerap terjadi di sejumlah keluarga. Sejak kecil, hanya anak perempuan yang “dididik” untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mencuci piring, hingga tugas sepele seperti sekadar membuatkan teh – baik untuk tamu atau anggota keluarga lain. Alasannya, sih, karena perempuan itu lebih telaten.  Padahal, ya belum tentu juga.

Preferensi orang tua kepada anak laki-laki sudah menjadi rahasia umum. Anak laki-laki dianggap lebih mampu menghasilkan uang serta menaikkan martabat keluarga. Padahal, ya, mereka sendiri yang menghimbau perempuan berhenti kerja.

Meski diskriminasi serta favoritisme yang eksplisit sudah banyak berkurang, faktanya pada situs media sosial Rusia, orang tua terbukti lebih sering menyebut anak laki-laki mereka daripada anak perempuan (Sivak & Smirnov, 2019). Postingan dengan anak laki-laki pun mendapat likes lebih banyak. Sepertinya, budaya patriarki tetap mendarah daging pada beberapa negara, sehingga secara tidak sadar dan implisit tetap ada perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan.

  1. A “product” to entertain the perverts’ eyes (alias korban CCTV tersembunyi)

Kasus perempuan menjadi “produk” seksual sudah sering terdengar. Sejak tahun 2015, perempuan di Korea Selatan dihantui oleh maraknya CCTV atau kamera tersembunyi. Molka (sebutan popular untuk spy cams atau CCTV tersembunyi di Korea Selatan) bisa terpasang mulai dari kamar motel, toilet perempuan (baik di tempat publik maupun kantor), hingga ruang ganti pusat perbelanjaan.


                Mengemas ketiga permasalahan tersebut, film Kim Ji-young menjadi salah satu pendorong utama gerakan feminisme di Korea Selatan – yang tentunya, tetap saja ditentang oleh sejumlah laki-laki di sana.  Dalam hal ini diharapkan bagi Industri perfilman – sebagai industri yang digemari dan juga digeluti oleh berbagai kalangan dan berbagai usia, dapat menjadi wadah yang turut berkontribusi dalam gerakan seperti feminisme – dalam konteks ini film Kim Ji-young. Dengan harapan, apa yang menjadi pesan dan konteks utama gerakan tersebut dapat lebih tersampaikan secara emosional maupun substansial, baik kepada para penikmat film, masyarakat awam,  atau khalayak manapun.

Catatan: per tanggal 8 Maret 2020 saat tulisan ini diterbitkan, film Kim Ji-young: Born 1982 belum dirilis secara legal di media manapun. Penulis menonton saat film masih di layar lebar.

Penulis: Septania Nurdika

Editor: Gita Dewantry

Pustaka:

Sivak, E., & Smirnov, I. (2019). Parents mention sons more often than daughters on social media. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(6), 2039–2041. doi: 10.1073/pnas.1804996116

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Sikolastik #2: Talkshow Kritik Sosial Lewat Media Kreatif