Cancel Culture: Kritikan atau Hujatan?

"Kritikan membangun, kok!" - warganet

If everyone is thinking alike, then no one is thinking,”

–Benjamin Franklin

Keberadaan public figure di tengah-tengah masyarakat sebagai sosok yang dijadikan panutan dalam berperilaku tentunya tidak luput dari pro dan kontra. Banyak orang beranggapan – secara sadar maupun tidak sadar – bahwa menjadi seorang public figure berarti menjadi sosok tanpa cela karena ia memberikan pengaruh kuat bagi masyarakat. Namun di sisi lain, public figure tetap manusia biasa yang pasti tidak luput dari perbuatan salah. Kesenjangan dari ekspektasi publik dan realita inilah yang menyebabkan kemunculan fenomena cancel culture yang kerap dialamatkan kepada public figure. Tunggu dulu, apa itu cancel culture?

Cancel culture, atau biasa juga dikenal dengan sebutan call-out culture, adalah sebuah fenomena ketika seorang individu dipermalukan oleh publik karena suatu tindakan tertentu. Ketika seseorang mendapatkan cap ‘cancelled’ dari masyarakat, karier mereka akan terhambat secara kultural dengan berkurangnya penggemar atau tidak adanya kesempatan untuk tampil (Romano, 2019). Pada umumnya, cancel culture ditujukan kepada sosok terkenal yang secara sengaja maupun tidak sengaja melakukan perbuatan kontroversial.

Setelah menjadi target cancel culture, terkadang apapun perkataan dari seorang public figure seperti pembelaan diri, klarifikasi, dan maaf tidak lagi didengar.

Public figure dapat menjadi sasaran cancel culture dengan intensi yang berbeda-beda. Sebutlah Jefri Nichol sebagai salah satunya. Usai tersandung kasus penyalahgunaan narkoba, Jefri kembali membuat heboh media sosial Twitter karena salah satu cuitannya yang dinilai termasuk ke dalam body shaming. Warganet pun beramai-ramai menyerang akun media sosial Jefri dan menyerukan kalimat ‘Jefri Nichol is totally cancelled’. Dalam kasus ini, intensi warganet dalam melakukan cancelling terhadap seseorang didasari oleh keinginan untuk mengkritik orang tersebut atas tindakannya.

Lain halnya dengan Ardhito Pramono, seorang musisi yang juga pernah menjadi sasaran cancel culture karena beberapa status yang ditulisnya di Twitter pada tahun 2010. Tulisannya tersebut dinilai bersifat rasis dan homofobia. Kejadian ini menjadi kontroversial karena meskipun cuitan Ardhito memang tidak sopan, tetapi di sisi lain, menguak jejak digital dengan maksud menjatuhkan citra baik seseorang juga bukanlah tindakan yang bisa dianggap benar. Selain itu, ada pula yang beranggapan bahwa cuitan tersebut ditulis saat Ardhito masih belia, sehingga bisa dimaklumi.

Dari dua kasus di atas, kita dapat mengetahui bahwa cancel culture ini sangatlah dilematis. Ada kalanya kita merasa sangat tergelitik untuk mengomentari suatu hal yang bertentangan dengan pandangan kita. Kita berharap bahwa seorang public figure dapat menjadi panutan yang baik bagi penggemarnya. Perasaan-perasaan ini kemudian berpotensi menimbulkan kekecewaan dan menuntun kita untuk berkomentar dengan bahasa yang keras, pedas, bahkan hingga menghujat kelakuan public figure serta memberikan label cancelled terhadap mereka. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa di balik akun media sosial yang kita hujat itu juga seorang manusia yang memiliki perasaan dan bisa sakit hati?

Orang-orang merasa bisa memberikan label cancelled pada public figure dan menghujat sesuka hati karena media sosial memang menyembunyikan identitas asli mereka. Namun, kalimat-kalimat tersebut tentunya sangat menyakitkan bagi public figure yang menerimanya. Bayangkan saja, sebagai sorotan publik, mereka secara tidak langsung seperti dipaksa untuk menerima hujatan terbuka dari berbagai orang yang tidak pernah mereka temui sama sekali. Padahal, kita saja kadang tetap sakit hati menerima kritik dari orang yang kita kenal. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap jika ingin berkomentar atau sekadar mengingatkan kesalahan yang dilakukan oleh public figure?

Konsekuensi menjadi seorang public figure adalah mereka harus hidup dengan berbagai label dari orang lain, entah itu label yang baik atau buruk.

Sebelum berkomentar, pastikanlah bahwa berita yang beredar bukan berita palsu. Selain itu, kita harus sebisa mungkin mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Hal apa yang menyebabkan terjadinya kesalahan tersebut? Apakah tindakan itu memang melanggar etika moral dan hukum yang berlaku?

Pastikan pula kita memiliki alasan yang kuat untuk menyatakan pro atau kontra terhadap suatu kasus. Kemudian, jika kita memutuskan untuk berkomentar, maka gunakanlah bahasa yang sopan dan hindari penggunaan kata-kata sindiran, baik satire maupun sarkasme. Kita harus belajar untuk mampu membedakan kalimat seperti apa yang merupakan kritik membangun dan kalimat seperti apa yang merupakan hujatan serta berpotensi menjatuhkan hidup orang lain.

Setelah mengetahui fenomena cancel culture dan cara menyikapi yang tepat, kita harus berusaha untuk menjaga komentar kita terhadap seseorang. Setiap orang memiliki pendapat masing-masing, termasuk public figure yang kita idolakan. Terlepas dari status mereka yang dijadikan panutan dan sorotan bagi banyak orang, mereka tentunya memiliki kehidupan dan masalah pribadi yang tidak pernah sepenuhnya kita ketahui. Kalaupun memang tindakan mereka salah, kita tetap tidak punya kuasa penuh untuk ikut menghakimi.

Yuk, jadi warganet yang cerdas!


Penulis: Nur Nisrina Hanif Rifda

Editor: Septania Nurdika

REFERENSI
Romano, A. (2019). Why We Can’t Stop Fighting About Cancel Culture. Diambil dari https://www.vox.com/culture/2019/12/30/20879720/what-is-cancel-culture-explained-history-debate

More Stories
[SIKLUS April 2020] Psychology’s Take on Crisis and Emergency