[Cerpen] Hyperthymesia’s Boy

HYPERTHYMESIA's boy.jpg

Oleh: W

Hyperthymesia merupakan kondisi individu yang mampu mengingat sebagian besar kejadian semasa hidupnya. Istilah hyperthymesia berasal dari bahasa Yunani “thymesis”, yang berarti “mengingat” dan “hyper” yang berarti “berlebihan”.

@#@#@

Dia adalah teman masa kecilku. Kami pernah berjanji satu sama lain, untuk saling menjaga. Sampai suatu hari, ia dikirim ke Jerman untuk melanjutkan sekolah tingkat SD. Itu berarti, kami terpisah. Sebelum dia pergi bersama mobilnya, kami berdua sempat saling berpesan untuk tidak pernah melupakan satu sama lain. Aku bisa melakukannya tapi bagaimana dengan Ovin? Apakah dia akan mengingatku terus? Dia berbeda denganku. Aku memiliki ingatan yang begitu kuat. Mereka menjulukiku, anak laki-laki yang mengingat segalanya. Aku Helmi, anak laki-laki dengan hyperthymesia. Sebuah kondisi langka, pengidapnya mampu mengingat sesuatu yang bagi orang pada umumnya tidak perlu dan tidak tersimpan ke dalam memori. Aku bisa mengingat banyak hal tanpa aku berusaha mengingat. Aku baru tahu, tidak semua sama sepertiku. Aku berbeda dan aku baru menyadarinya.

Dua belas tahun kemudian. Usiaku kini sudah 20 tahun. Aku masih mengambil S1 Teknik Nuklir di salah satu universitas nomor satu di Yogyakarta. Sebuah kota yang penuh dengan keramahan. Aku lahir dan dibesarkan di kota gudeg ini oleh kedua orangtuaku. Sebenarnya aku bukan anak tunggal. Semenjak ditinggal pergi adik semata wayangku yang terkena penyakit jantung bawaan lahir, aku merasa seperti anak tunggal.

“Helmi, ada yang mencari kamu.” Aku mendengar Ibu mengetuk pintu ketika aku sedang mengerjakan tugas kuliahku yang kurasa tidak pernah ada habisnya, seperti kasih Ibu. Aku pun berjalan menuju pintu, melihat Ibuku di sana, wanita yang telah melahirkanku ke dunia, lewat operasi caesar. Dia tersenyum padaku tapi tidak memberitahu kepadaku, siapa tamu itu. Ibu seperti sengaja membuatku penasaran.

“Turun dan kamu akan lihat sendiri.”

Aku semakin penasaran. Kamarku ada di lantai dua. Aku perlu turun tangga untuk melihat yang sebenarnya terjadi. Aku juga sempat mengintip dari atas tapi aku tidak bisa menebak, siapa tamu itu. Aku tidak melihat wajah mereka. Yang aku tahu, tamunya berjumlah dua orang. Aku pun segera turun, sebelum mati penasaran.

Begitu aku sampai di bawah, betapa aku terkejut melihat wajah perempuan itu. Dia adalah sahabatku. Sahabat yang telah lama pergi dan kini sedang duduk di sofa rumahku. Dia sama sekali tidak berubah. Aku ingat sekali gigi taring gingsul beserta lesung pipinya yang khas. Semuanya terasa seperti mimpi. Ovin telah kembali. Itu artinya, dia tidak melupakanku.

Tapi tunggu, dia datang bersama dengan siapa? Seorang laki-laki yang terlihat begitu bahagia, duduk di sebelah Ovin. Siapa laki-laki itu? Aku sama sekali tidak mengenalnya. Ya Tuhan, laki-laki itu juga memiliki wajah bule yang membuatku syok.

“Halo, Helmi. Kamu masih ingat aku nggak?” Ovin berdiri menyambutku. Seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal itu padaku. Aku masih Helmi yang dulu. Helmi dengan hyperthymesia. Helmi yang telah menunggunya hingga dua belas tahun. Helmi yang selalu setia menanti kepulangan gadis yang dicintainya sejak masih kecil. Apakah, aku dan Ovin, akan berakhir pada sebuah istilah bernama bestfriend zone? Aku tidak mau! Ini tidak adil!

“Aku masih ingat dan masih sangat ingat. Kita pernah membuat istana pasir di pantai saat 27 Januari 2003. Hari itu kamu memakai dress tanpa lengan berwarna putih selutut dengan bunga-bunga kecil. Kamu juga bertelanjang kaki waktu itu. Setelah selesai membuat istana pasir, kita berdua minum es kelapa muda bersama. Tepat pukul dua lebih sebelas menit siang hari, kamu tersedak minumanmu. Kamu menangis, aku ingat itu. Aku berusaha menenangkanmu tapi aku gagal sehingga Ibumu yang harus turun tangan untuk membuatmu berhenti menangis. Kamu juga digigit nyamuk di betis sehingga betismu bentol-bentol. Pada 1 April 2004, kita mengukir nama kita di pohon depan rumahku dan berjanji untuk saling menjaga dan mengingat. Kamu tidak perlu takut aku akan melupakanmu karena aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Akan tetapi, aku perlu mencemaskanmu karena kamu bukan gadis dengan hyperthymesia. Andai saja kita berdua sama-sama mengidap hyperthymesia…”

Aku tahu, aku bicara terlalu panjang. Aku juga bisa melihat wajah dungu bule itu yang aku yakin dia tidak paham pada ucapanku. Aku tidak menyangka, Ovin tetap tersenyum setelah aku banyak mengoceh. Apakah Ovin tidak percaya jika aku menyukainya?

“Aku senang kamu masih ingat semuanya tentang aku. Setelah bertahun-tahun, kamu tidak berubah. Yah, harus aku akui kalau kamu tambah cakep. Haha. Sebenarnya, maksud kedatanganku ke sini, ingin memberikan ini…”

Kalian tahu apa yang aku rasakan ketika Ovin mengangsurkan sebuah kertas ke arahku? Rasanya seperti kesetrum. Aku sudah menduga yang macam-macam dan dugaanku benar. Ovin memberiku surat undangan pernikahan.

“Minggu depan, aku akan menikah. Dengan dia.” Ovin menunjuk ke arah calon suami yang ia temukan saat kuliah di Jerman, kurasa. “Namanya Peter. Pete, this is my bestfriend, Helmi.” Ovin memperkenalkanku kepada laki-laki itu. Cih! Laki-laki itu mengulurkan tangannya tapi aku tidak sudi menjabat tangan itu.

“Ovin… Kamu benar-benar melupakanku.”

Wajah Ovin menjadi bingung. “Aku nggak melupakan kamu, Helmi.”

“Kamu melupakan aku. Buktinya, kamu akan menikah.”

“Apa maksud kamu?”

Aku bingung harus berkata apa. Jadi, selama ini, selama bertahun-tahun aku menanti Ovin kembali, tidak ada gunanya? Ovin sama sekali tidak tahu isi hatiku. Dia tidak tahu betapa aku merindukannya dan ingin menghabiskan sisa usiaku dengannya dalam ikatan pernikahan. Tapi… Dia malah memberiku undangan pernikahannya dengan Peter. Aku harus apa? Aku bisa apa? Aku hanya bisa membatin dan menelan pil pahit kenyataan.

Sebagai pria dengan hyperthymesia, aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Dengan kelebihanku ini, aku jadi bisa terus mengingat kebersamaanku dengan Ovin. Aku menjadi tidak kesepian. Selalu ada Ovin dalam hati dan ingatanku berkat karunia yang Tuhan berikan yaitu kemampuan ingatan luar biasa. Tapi… kini aku merasa sangat terpukul. Aku akan selalu mengingat hari ini dan hari sebelum sekarang. Perjalanan panjangku, berakhir begitu tragis. Rasanya seperti ingin mati saja. Tapi… jika Ovin bisa bahagia dengan Peter, aku akan berusaha mengikhlaskan mereka untuk bersatu. Dan aku bersumpah jika Peter menyakiti Ovin, aku akan menghajarnya–bahkan membunuhnya–dan langsung merebut Ovin darinya. Aku bersumpah.

_TAMAT_

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Glass Ceiling: Kaca Penghalang Bagi Wanita Karier