Di Balik Layar: Co-Fasilitator PPSMB UGM

Sebuah pengalaman dan testimoni dari cofas PPSMB UGM 2019

Apa yang teman-teman pikirkan setelah mendengar kata co-fasilitator?

Mungkin, seketika memori teman-teman tentang PPSMB akan terangkat kembali. Saat menginjakkan kaki pertama kali sebagai Gadjah Mada Muda, saat pertama bertemu dengan co-fasilitator masing-masing. dan teringat kebersamaan dengan cofas dan teman gugus selama empat hari. Bahkan, mungkin beberapa dari kalian ada yang menginginkan untuk menjadi co-fasilitator PPSMB 2020 yang akan telah dibuka pendaftarannya. 

Co-fasilitator, atau yang biasa disingkat menjadi cofas bertugas membimbing gamada selama kegiatan PPSMB UGM berlangsung. Sebelum bertugas pada hari-H PPSMB UGM, Cofas melalui serangkaian kegiatan dimulai dari Open Recruitment hingga pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk mempersiapkan performa cofas. 

Dunia cofas tidak hanya terpampang di depan layar saja. Ada banyak cerita di balik senyum lebar para cofas ketika menyapa Gamada. 

Selama persiapan menuju hari-H, cofas diharuskan untuk roleplay hampir setiap harinya. Dalam proses roleplay ini, cofas belajar untuk menghadapi Gamada serta menyampaikan materi dengan baik dan benar. Ada berbagai bentuk roleplay yang tentunya sangat menantang dan menguras energi – baik secara mental maupun fisik. Semua hal itu ditujukan agar cofas benar-benar siap untuk bertemu Gamada. 

Tak dapat dipungkiri, menjadi cofas sendiri adalah sesuatu yang menantang. Sedari awal, kami sudah ditekankan bahwa cofas adalah role model. Sebagai seorang role model, cofas dituntut agar senantiasa memperlihatkan sisi positif. Cofas juga merupakan figur orang dewasa pertama yang gamada temui setelah masuk ke UGM. Cofas harus ini. Cofas harus itu. Cofas tidak boleh ini. Cofas tidak boleh itu. Saya akui, pressure yang diberikan kepada seorang cofas tidaklah main-main.

Seorang cofas harus bisa menjadi sosok yang mendekati sempurna. Beratnya tanggung jawab yang dibebankan kepada cofas – secara sadar ataupun tak sadar – membuat beberapa dari kami sedikit berkecil hati,

bisa tidak, ya, saya melakukan itu semua?” 

Fanisa, saat menjadi cofas pada PPSMB 2019

Memimpin satu kelas yang berisi sekitar 40 gamada bukanlah hal yang bisa dikatakan mudah. Ada berbagai karakteristik gamada yang harus dipahami oleh seorang cofas agar dapat membawa suasana kelas menjadi menyenangkan. Dalam membimbing sebuah kelas, cofas tidak bekerja sendirian. Satu kelas minimal akan diisi oleh dua cofas yang saling bekerja sama untuk menyampaikan materi dan membawa suasana kelas menjadi menyenangkan. Bekerja berdua tentunya terasa lebih mudah dibandingkan bekerja sendiri. Namun, menyatukan isi dari dua kepala untuk memimpin satu kelas bukanlah hal yang mudah. Perselisihan dengan partner masing-masing seringkali terjadi. Perselisihan itu asalnya bisa dari hal yang remeh hingga hal serius – yang dapat membuat antar partner merasa sangat sangat tidak cocok. Beratnya lagi, sebesar apapun ketidakcocokan dan konflik yang terjadi antarpartner, kami harus professional dan ‘terlihat’ baik-baik saja saat berhadapan dengan para gamada. 

Di sisi lain, bekerja dengan orang lain selama lebih dari sebulan juga terkadang menumbuhkan perasaan yang katakanlah, in a romantic way. Hal tersebut didukung dengan pemasangan partner yang mengharuskan cofas laki-laki dipasangkan dengan cofas perempuan. Tidak jarang ada pasangan cofas yang terlibat cinta lokasi selama atau sesudah PPSMB. Namun, kembali lagi ke peraturan sebelumnya, selama di depan para gamada, cofas harus terlihat profesional. 

Ada banyak pengalaman-pengalaman menjadi cofas yang saya rasa patut untuk dicoba oleh semua orang. Saya akui bahwa keputusan untuk bergabung dengan Panitia PPSMB 2019 sebagai cofas adalah keputusan yang sangat saya syukuri hingga sekarang.  Ada banyak pelajaran yang tidak saya pelajari di tempat lain. Bahkan, ada salah satu teman yang mengatakan, “seseorang minimal harus merasakan pengalaman menjadi cofas, sekali dalam hidupnya.”

It was hard. But it was a fun ride. 

Penulis: Dzulfani Solikhatunnisa

Editor: Septania Nurdika

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Tugu, Saksi Mata Euforia Kelulusan SMA