Earth Hour, Lebih Dari Sekedar Mematikan Lampu

point IMG_0410Sabtu (23/3) Yogyakarta bersama berbagai kota di Indonesia dan dunia menggelar Switch Off Ceremony dalam rangka Earth Hour. Acara yang digelar di Titik Nol Kilometer Kota Jogja ini dihadiri oleh ratusan masyarakat. Selain lokasi tersebut, seremoni serupa juga diadakan di Hotel Sheraton, Hotel Plaza, Hotel Melia, Hotel Aston, Knock Café, Kalimilk, dan House of Balcony. Acara dimeriahkan oleh sembilan pengisi acara yang berasal dari komunitas dan kampus-kampus di Yogyakarta.  Pada kesempatan ini pula, secara resmi Pos Indonesia meluncurkan sampul peringatan filateli bertema Earth Hour.

Tahun ini, Earth Hour masih menggunakan tema yang sama dari tahun lalu dan akan digunakan pula pada tahun depan, yaitu ‘Ini Aksiku, Mana Aksimu?’. Devi Suraji mengatakan bahwa tema tersebut digunakan  sebagai undangan untuk melakukan aksi nyata. “Aku udah berbuat ini nih, ayo kamu juga ikutan berbuat,” kata Devi. Kali ini, Earth Hour menonjolkan lebih dari sekedar kampanye, tapi juga aksi nyata yang melibatkan masyarakat. “Selama ini kan orang-orang taunya kita campaign. Di sini kita mau walk to talk,” terang Felix Krisnugraha selaku koordinator acara.

Selama satu jam, pukul 20.30-21.30, listrik dipadamkan serentak bersama kota-kota yang turut berpartisipasi. Pemadaman tersebut, sebagai ritual yang menjadi puncak acara, dipandu oleh perwakilan dari WWF, Dinas Perindustrian dan Usaha Kecil Menengah DIY, Dinas Pariwisata yand diwakili oleh Dimas dan Diajeng, Kantor Pos, dan Badan Lingkungan Hidup DIY. Beberapa simbol kota Yogyakarta pun ikut serta memadamkan lampu, yakni Titik Nol Kilometer, Tugu Yogyakarta, Candi Prambanan, Jalan Mangkubumi, Jalan Malioboro, serta 30 museum di Yogyakarta. Cahaya lampu jalan digantikan dengan rangkaian lilin yang membentuk tulisan ‘60+’.

Switch Off Ceremony Earth Hour ini merupakan inti dari serangkaian acara. Rangkaian dimulai sejak bulan Februari silam hingga April mendatang.  Kampanye di sekolah-sekolah dasar, senam bersama, dan street campaign di Titik Nol Kilometer merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan. Kemudian diadakan pula bersepeda bersama dengan tajuk Sepakat Earth Hour (Sepeda Pagi Ramaikan Kampanye Earth Hour) dan Semarak Earth Hour (Sepedaan Malam Ramaikan Kampanye Earth Hour). Diadakan pula kegiatan menanam pohon, membersihkan pantai dan konservasi penyu di Pantai Samas. Sedang berlangsung pula Green E(ART)H Exhibition tanggal 21-26 Maret 2013 yang berisi karya-karya seni dari barang bekas dan workshop menghias tote bag.

Rangkaian acara tersebut merupakan bentuk-bentuk kamapanye yang dibuktikan dengan aksi nyata.  “Jadi kalau kita bilang ‘ayo hemat energi, ayo hemat bbm’, kita naik sepeda. Kita juga kampanye ‘Ayo kita nanem pohon’, kemaren kita sempet nanem bakau,” jelas Felix. Lebih dalam lagi, sebagai penutup rangkaian Earth Hour 2013, konser mini akan digelar di Pantai Baru pada 28 April. Acara akan digelar dengan memanfaatkan tenaga kincir angin yang ada di pantai tersebut. “Kita mau membuktikan kalau ternyata energi-energi yang tidak dari bahan bakar fosil, itu bisa dimanfakan untuk kegiatan yang ngepop dan deket sama anak muda, yaitu bentuknya konser musik mini,” terangnya.

Agus Setyanto, perwakilan dari Badan Lingkingan Hidup DIY, mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan Earth Hour adalah sebagai awal kagiatan-kegiatan hemat energi lainnya. Ia menekankan betapa pentingnya energi harus diselamatkan untuk memelihara kelangsungan hidup makhluk hidup. “Bayangkan kalau listrik padam 1 minggu. Kalau sudah begitu, baru kita sadar kalau energi itu harus diselamatkan,” tutur Agus dalam sambutannya. [Luisa]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Festival Ajisaka 2019: Cipta Karya Insan Kreatif Peduli Lingkungan