Supra Wimbarti bersama jajarannya pada acara SNSD (22/10)

Fasilitas: Tuntutan Awal untuk Dekan

Supra Wimbarti bersama jajarannya pada acara SNSD (22/10)

Lebih dari separuh responden mahasiswa Psikologi UGM mengeluhkan masalah fasilitas kampus, khususnyanya di fakultas. Sebegitu parahkah kondisi fasilitas fakultas? Bagaimana Dekan priode 2012-2017 menanggapinya?

Yogyakarta –  22 Oktober lalu Lembaga Mahasiswa Psikologi (LMPsi), Departemen Advokasi dan Aspirasi Kemahasiswaan, kembali mengadakan sharing antara mahasiswa dan Dekan baru Fakultas Psikologi UGM, Supra Wimbarti. Dalam acara bertajuk Sharing Nyantai Sama Dekanat (SNSD) ini, LMPsi telah melakukan penjaringan aspirasi mahasiswa Psikologi UGM terkait hal-hal yang perlu dilakukan oleh pihak dekanat demi kemajuan fakultas. Hasil penjaringan aspirasi tersebut didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa, khususnya S1, merasa perlu dilakukan pembenahan di bidang fasilitas.

Lebih lanjut, survei tersebut mengungkapkan sebanyak 57% responden mengeluhkan masalah fasilitas kampus. Fasilitas di sini, terkait wi-fi, gedung kuliah, AC, ruang diskusi, mushola, buku-buku di perpustakaan, keberadaan tempat penitipan helm, parkir sepeda yang kurang, kebesihan toilet, kurangnya stop kontak, keberadaan fasilitas olah raga, dan kondisi gedung F yang kurang luas dan panas. Sementara 20% lainnya mempersoalkan aspek akademik, 16% masalah pelayanan fakultas, dan 7% lainnya terkait kemahasiswaan.

Masalah fasilitas wi-fi memang cukup segar dibicarakan. Hasil penjaringan aspirasi mengemukakan bahwa fasilitas wi-fi yang tersedia masih kurang cepat dan jangkauannya kurang luas. Terkait hal tersebut Supra menyatakan bahwa kini hal tersebut sudah dikelola secara terpusat oleh Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PPTIK).

Namun, ia mengingatkan bahwa memang badwidth yang ada terbatas karena biayanya pun mahal. “Dulu, 10 tahun yang lalu, internet kita bandwidth-nya se-UGM 6 MB, kemudian naik 16, naik 30, kemudian naik-naik-naik terus. Pada saat itu UGM harus membayar sebulan senilai 1 mobil Camry,” tutur Supra. Untuk itu, ia menyarankan mahasiswa untuk menggunakan freewill-nya sebagai manusia dewasa dalam penggunaan fasilitas wi-fi, yakni untuk tujuan kependidikan. “Pada saat peak hours banyak sekali yang mengakses, entah kelompok dosen atau tenaga kependidikan atau mahasiswa, tetapi bukan untuk tujuan pendidikan,” ungkap Supra.

Fasilitas lain yang juga dikeluhkan adalah masalah gedung yang terpisah. Gedung kuliah S1 dan S2 Sains terletak di bagain utara Jalan Humaniora. Sedangkan gedung kuliah S2 Profesi, ruangan dosen, perpustakaan, kantin, sekretariat Badan Kegiatan Mahasiswa (BKM), laboratorium dan ruangan lainnya terletak di selatan Jalan Humaniora.  Menanggapi keluhan tentang gedung kuliah yang terpisah sehingga mengurangi kenyamanan mahasiswa dalam menjalani kegiatan di kampus, Supra cukup pesimis.  “Kalau masalah kenyamanan ruang kuliah dan laboratorium bisa kami usahakan,” ujarnya. Tetapi Supra belum bisa memberikan kepastian untuk perluasan. Ia mempertimbangkan luas Fakultas Psikologi yang notabene paling kecil dibanding fakultas lain.

Selain itu masalah pembangunan memang sudah diatur univesitas lewat Rencana Induk Pengembangan, di mana diantaranya adalah tidak boleh membangun pondasi baru dan maksimum bangunan lima lantai. Oleh karena itu perluasan dalam jangka dekat memang tidak memungkinkan. Namun untuk menindak lanjuti keluhan akan mushola yang kurang luas, ia mengajukan kemungkinan untuk menukarnya dengan ruangan lain di fakultas.

Sementara aspirasi terkait fasilitas kampus lainnya, hampir semua dapat terjawab. Tentang keengganan mahasiswa untuk memanfaatkan G400, kini tinggal menunggu waktu. G400 merupakan ruangan yang disediakan untuk diskusi mahasiswa, namun suhu udara yang panas membuat mahasiswa enggan untuk memanfaatkannya.  Menyambung dari yang telah dijanjikan oleh dekan sebelumnya pada acara serupa, Faturochman, pengadaan pendingin ruangan di ruangan tersebut kini sudah dalam pemrosesan.

Kemudian keberadaan lapangan voli di Selatan Gedung B sebagai fasilitas olahraga fakultas, masih dirasa kurang cukup. Namun Supra menegaskan bahwa fakultas cukup bertanggung jawab pada bagian pembinaan. “Kalau fakultas menyediakan fasilitas itu optional,” tuturnya. Dalam rangka mendapatkan fasilitas yang optimal, mahasiswa memang perlu menjamah area di luar fakultas, yakni area universitas. Supra memisalkan fasilitas fitness yang disediakan di lembah.[Luisa Krismaningrum]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Workshop Jurnalistik