Festival Ajisaka 2019: Cipta Karya Insan Kreatif Peduli Lingkungan

 

Jumat (25/10), Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi membuka rangkaian acara Festival Ajisaka 2019. Di tahun ke-7 pelaksanaannya ini, Festival Ajisaka hadir dengan berbagai kegiatan, yakni kompetisi, talkshow, pop-up market, seminar, dan eksibisi karya finalis. Tahun ini, Festival Ajisaka mengusung tema “Abhipraya Darani: Meluak Plastik”. Filosofi dari tema ini diambil dari Bahasa Sansekerta yang bermakna Harapan Bumi: Mengurangi Plastik. Dikutip dari rilis pers yang diterbitkan oleh penyelenggara, Festival Ajisaka 2019 hadir sebagai seruan bagi Insan Kreatif seluruh Indonesia untuk dapat menciptakan harapan bagi bumi melalui ide kreatif berkaitan dengan urgensi isu sampah plastik.

Sesi Press Conference Festival Ajisaka 2019

Festival Ajisaka 2019 resmi dibuka dengan diadakannya press conference dan talkshow yang berjudul Environmentalk di Auditorium Lt. 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM. Sesi press conference diisi oleh Lisa Lindawati, S.I.P, M.A. selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, Hafidzullah selaku perwakilan dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Pusat yang merupakan mitra kerja sama kompetisi pada acara ini, dan juga Juan Daniel selaku ketua kompetisi. Dalam sesi ini dijelaskan bahwa Festival Ajisaka 2019 dihadirkan untuk memberikan ruang pembelajaran di luar kurikulum bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi pada khususnya dan mahasiswa di seluruh Indonesia pada umumnya terkait realitas industri dan kondisi lingkungan yang mungkin akan dihadapi dalam beberapa waktu ke depan.

Dengan tema “Pirsa Bentala, Bangkitkan Karsa”, talkshow Environmentalk bertujuan mengajak audiens untuk melihat, memikirkan solusi, dan mengambil tindakan terkait darurat sampah plastik. Terdapat dua pembicara yang dihadirkan pada talkshow ini, yakni Dila Hadju selaku founder dari platform digital @tumbuhijaurban dan Fano Alfian selaku co-founder dari Ailesh Power Co. Akun @tumbuhijaurban merupakan sebuah platform dengan fokus pendidikan yang menanamkan nilai-nilai hidup ramah lingkungan, sedangkan Ailesh Power Co. adalah startup yang berfokus pada pengembangan bioenergi dan pengelolaan sampah.Sesi Talkshow “Environmentalk”

Dalam sesi talkshow, Dila menjelaskan bahwa untuk memulai hidup minim sampah, terdapat tiga tindakan yang dapat dilakukan secara perorangan: meminimalisir produk sekali pakai, memilih/memilah produk dan kegiatan terkait dengan dampaknya bagi lingkungan, dan mencari tahu informasi terkini terkait dengan gaya hidup ramah  lingkungan. “Yang penting kita berusaha sendiri-sendiri dan nggak saling memarahi, lah, seperti itu, Sederhana, ya? Mudah-mudahan bisa dijalani dengan baik,” tuturnya. Pada sesi talkshow pula, pembicara Fano Alfian menyebutkan bahwa kolaborasi masyarakat sangat diperlukan dalam upaya pengelolaan sampah. Bentuk kolaborasi yang dimaksud adalah pengendalian dan pencegahan yang berbasis riset antarbidang studi. Menurutnya juga, inovasi dalam gaya hidup minim sampah memiliki peran penting. “Kita seharusnya memang bisa menghasilkan suatu hal yang sifat inovasinya nggak hanya sampai berhenti di publikasi atau karya tulis, tapi bagaimana inovasi ini bisa kita aplikasikan,” tambahnya. (Yumna dan Anggun).

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Pentas Ambal Warsa 51 Swagayugama : Berbangga Diri Menjadi Pelestari