hujan dan cerita ringan
Photo by Anna King on Unsplash

Hujan dan Cerita Ringan

Cerita ringan antara si gadis dan si pemuda di kala hujan

Hujan, itulah yang mereka hadapi sore itu. Begitu deras sehingga kedua anak manusia berlainan gender itu harus berhenti dan berteduh di teras sebuah rumah tak berpenghuni yang terletak di pinggir jalan yang minim bangunan itu. Sambil sesekali meratapi keadaan mereka yang sudah basah kuyup. Raut wajah m­­­ereka seakan berkata, “Mengapa hujannya harus turun sekarang?”

Mereka mencoba melihat sekitar. Sepi. Tidak ada orang yang melintasi jalan yang biasanya ramai itu. Jalan yang jarang dilalui kendaraan bermesin, melainkan ramai diisi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Mungkin itulah salah satu kelebihan dari daerah countryside seperti ini. Anak-anak yang berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki atau bersepeda, orang dewasa yang dengan senang hati menyapa, dan udara sejuk yang tak pernah mengecewakanmu.

Langit mendung di sana menandakan hujan ini akan bertahan lama. Membuat pemuda itu mendecih kesal lalu angkat bicara setelah beberapa menit hening, beradu dengan suara hujan dan gemuruh yang beberapa kali menyambar.

“Ini semua gara-gara kau, Lucy,” Pemuda itu membiarkan angin menyapu rambutnya seraya mengeluh pada gadis cantik yang tidak lama lagi menginjak usia 17 tahun di sampingnya. Suaranya terdengar lirih, dikalahkan oleh suara hujan yang tak henti membasahi bumi. Iris coklat pemuda itu hanya terlihat setengah, menatap entah apa ke arah depan.

“A-apa? Salahku?” gadis yang dipanggil Lucy itu mengerutkan dahinya. Ia mencoba menerka dosa apa yang ia perbuat sehingga mereka berdua berada dalam kondisi seperti saat ini.

“Tentu saja, Jidat. Memangnya siapa yang merengek minta kembali ke sekolah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal?”ujar lelaki yang kini sedang mengacak-acak rambut basah milik gadis yang kerap disapa ‘Jidat’ itu.

“Huh… Sudah kewajiban bagi seorang lelaki bernama Ren untuk mengantar kekasihnya mengambil ponsel yang tertinggal, tahu!” sahut gadis yang memang berjidat sedikit lebar itu dengan penekanan saat menyebut nama kekasihnya yang menyebalkan ini. Sesaat ia menggembungkan pipi, melihat kekasihnya menyeringai mendengar si ‘Jidat’ mengakui kesalahannya, masih dengan posisi mengacak rambut.

Beberapa saat kemudian suasana kembali hening. Sepertinya tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Bukannya segan atau enggan, namun Ren kelihatan sedang mengotak-atik ponsel merahnya. Ia tampak sedang mengetik sesuatu, entah apa.

Sejenak Lucy teringat hari ketika ia menemukan surat dari Ren di loker sepatunya. Ia melirik ke arah Ren lalu tanpa sadar ia terkekeh kecil. Suaranya hampir tidak terdengar sebab beradu dengan suara hujan. Namun demi jidat Lucy yang lebar, telinga Ren bisa mendengar Lucy bersuara.

“Hm…? Ada apa?” tanya Ren masih dengan raut wajah yang biasanya, datar.

“Ti-tidak apa,” jawab Lucy cukup terkejut.

Mendengar jawaban Lucy, Ren melanjutkan kegiatannya. Lucy hanya tersenyum tipis, melihat wajah imut kekasihnya. Tanpa sadar tubuh rampingnya menggigil kedinginan saat angin berhembus melalui teras itu. Ia segera memegang erat kedua lengannya, membuat gesture yang biasa dilakukan seseorang saat kedinginan. Ren yang melihat hal itu dari sudut matanya dengan sigap mengambil jaket miliknya dari dalam tas, yang memang sengaja tidak ia kenakan agar tidak basah terkena hujan.

“Ini. Cepat pakai sebelum kau sakit,” ujar Ren sambil menaruh jaketnya di bahu Lucy. Ekspresinya datar, walaupun sebenarnya rasa khawatir menyelimuti dirinya.

“A-ah, terima kasih,” Lucy segera mengenakan jaket yang masih harum itu. Parfum yang biasa kekasihnya gunakan, Lucy sudah hafal.

“Maaf aku tidak menyadarinya sedari tadi,” kini raut wajah Ren terlihat menggambarkan penyesalan.

“Mmm…” Lucy menggelengkan kepala sambil tersenyum manis.

“Tidak apa,” lanjutnya.

Perlahan hujan mulai mereda. Ren melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Pukul 5 sore. Itu berarti mereka sudah berteduh lebih dari setengah jam.

“Ini sudah terlalu sore. Sebaiknya kita pulang sekarang. Hujannya sudah mereda,” Ren menggenggam tangan Lucy. Lucy pun mengangguk pelan tanda setuju.

Keduanya pun segera mengambil langkah, membiarkan gerimis membasahi mereka. Jalan pulang keduanya dari sekolah memang searah, hanya saja rumah Ren lebih jauh dibandingkan dengan Lucy.

Rintik-rintik gerimis tidak terlalu membasahi jaket milik Ren, Lucy tau itu. Wangi yang ia sukai masih menempel di sana, tidak berkurang sedikit pun. Sepanjang jalan mereka tidak melepaskan genggaman tangan mereka.

Tak terasa sampailah sudah mereka di depan gerbang rumah Lucy. Rumah bertingkat dua yang dicat putih bernuansa istana itu tampak megah seperti biasanya. Halamannya yang luas tetap rapih walaupun sempat diguyur hujan deras. Lucy segera berpamitan sambil melepas jaket yang ia kenakan, berniat mengembalikannya. Ren hanya menggeleng dan mengatakan sesuatu seperti “kembalikan besok saja,” sambil mencubit pipi Lucy –hobi barunya— lalu pamit dan berjalan pulang. Gadis itu hanya tersenyum tipis lalu beranjak masuk, diam-diam berdoa agar esok hari sepulang sekolah hujan kembali turun.

Penulis: Andi Andika Rizky

More Stories
[SIKLUS April 2020] Psychology’s Take on Crisis and Emergency