Isu Kurikulum Penuhi Hearing Dekanat

Senin (10/6), Lembaga Mahasiswa Psikologi menggelar Hearing Dekanat di gedung G-100. Acara ini menghadirkan pihak dekanat dan sekertaris kepala program studi S1 sebagai pembicara. Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00 WIB tersebut memberi kebebasan mahasiswa untuk berbicara pada pihak fakultas. “Ini merupakan salah satu jalur komunikasi antara dekanat dengan mahasiswa,” terang Ade Triani, ketua panitia.

Dialog membahas beberapa permasalahan yang ada di Fakultas Psikologi. Salah satunya mengenai fasilitas penunjang kuliah seperti ruang kuliah yang dianggap kurang layak. Selain itu, Anggrelika, mahasiswa Psikologi 2012 menuturkan bahwa praktikum biopsikologi sangat kurang terfasilitasi. “Kami mau praktikum tidak ada alat, padahal sebulan ada delapan praktikum,” terangnya.

Rahmat Hidayat, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, meminta maaf atas masalah ruang kuliah yang belum terselesaikan hingga saat ini. Namun, ia menerangkan bahwa hal itu akan segera diperbaiki. Ia mengaku telah merencanakan perombakan total gedung K selama masa liburan semester. “Kita akan sesuaikan ruang kelas dengan kebutuhan kurikulum baru, seperti pengadaan kelas besar dan laboratorium,” ujarnya.

Selain fasilitas, masalah kurikulum 2011 juga menjadi salah satu pertanyaan ketika sesi dialog. Cendy, mahasiswa Psikologi 2011 menyatakan kekecewaannya kepada kurikulum tersebut. “Saya dan teman-teman bosan menjadi angkatan percobaan,” ungkapnya. Ia merasa bahwa kurikulum 2011 belum memiliki perencanaan yang matang. Hal ini terlihat dari rencana pembelajaran yang belum selesai disusun, bahkan ketika mata kuliah tersebut sudah berjalan. “Salah satu asisten bercerita, silabus kuliah itu ada yang disempurnakan oleh asisten, sebab dosen membuatnya dengan tidak jelas. Kok bisa?” imbuhnya.

Mendengar pernyataan tersebut, Supra Wimbarti, Dekan Fakultas Psikologi, berdalih bahwa yang fakultas lakukan adalah perbaikan yang terus menerus, bukan percobaan. Namun ia mengaku baru mengetahui bahwa ada silabus yang disempurnakan oleh asisten dosen. “Kalau silabus itu, berarti memang kesalahan prosedur, seharusnya tidak boleh begitu,” katanya. Amitya Kumara, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menambahkan bahwa untuk selanjutnya, ketiadaksiapan ini sudah diantisipasi. “Untuk semester depan, sudah kami pertimbangkan termasuk beban tugas yang ada. Rapatnya juga sudah dimulai sejak saat ini,” ujarnya.

Masalah kurikulum 2011 lainnya diungkapkan oleh Clara, mahasiswa Psikologi 2011. Ia mengeluhkan keberadaan asisten dosen, terutama dalam Mata Kuliah Observasi Wawancara (OW). Ia merasa bahwa beberapa asisten belum benar-benar memahami tugasnya sebagai asisten praktikum. “Kalau ditanya oleh mahasiswa, asisten terkadang bingung mau menjawab apa. Waktu janjian praktikum juga sering molor. Asisten seharusnya memiliki komitmen,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Cendy. Menurutnya, beberapa asisten praktikum OW yang berasal dari S2 belum mampu menjalankan tugasnya dengan baik. “Asisten dari S2 itu, beberapa ada yang tidak berasal dari S1 UGM. Mereka belum pernah merasakan praktikum OW, bagaimana bisa membimbing?” ujarnya.

            Menjawab keluhan soal asisten, Supra mengatakan bahwa seharusnya mahasiswa bersyukur bisa mendapat asisten praktikum dari S2. “Di luar negeri, asisten tidak ada yang S1, semuanya S2. Seharusnya memang begitu,” ujarnya. Namun ia juga mengatakan bahwa telah terjadi kecelakaan, jika ada asisten praktikum OW justru belum pernah mendapat praktikum tersebut. “Itu harus diperbaiki, akan kami cek lagi,” tambahnya.

Kurikulum 2011 juga menimbulkan pertanyaan dalam pengelolaan program exchange. Clara mengatakan bahwa ia belum mendapat kepastian soal prosedur exchange dengan kurikulum saat ini. “Saya pernah bertanya pada Bu Amitya, kemudian diminta bertanya pada Pak Amrizal. Jawabannya saat itu adalah angkatan 2011 belum bisa mendaftar exchange karena saat itu belum ada ketentuannya,” terangnya. Mengenai hal itu, Supra menuturkan bahwa akan segera disusun cara agar mahasiswa 2011 bisa mendaftar exchange. “Seharusnya, apapun kurikulumnya tidak menghalangi exchange,” imbuhnya.

Melihat adanya beberapa keluhan mengenai kurikulum 2011, Haryanto F.R, Sekertaris Kepala Program Studi S1mengatakan bahwa saat ini kurikulum masih dalam pengecekan yang intens. Ia juga berharap bahwa kurikulum 2011 tidak menjadi produk gagal. “Kalau sekarang masih ada beberapa kekurangan, harap maklum,” ujarnya.

 Selain kurikulum, dialog juga diwarnai beberapa masalah lain. Salah satunya disampaikan Maman, mahasiswa Psikologi 2010. Ia bercerita bahwa mahasiswa sempat ada yang menerima tagihan puluhan juta rupiah karena beasiswa dari pemerintah daerah asal mereka tidak kunjung turun. Maman berharap fakultas bisa membantu mengatasi hal semacam itu. “Kalau hanya mahasiswa yang maju, kami tidak punya power ke rektorat,” ungkapnya. Untuk itu, Supra mengaku bahwa fakultas juga akan memberi bantuan jika diminta. “Tapi, kita belum dapat berbuat banyak mengenai hal tersebut,” tutupnya.

Mengamati diskusi yang berlangsung, Nina, salah satu peserta, merasa bahwa jawaban yang diberikan fakultas masih merupakan jawaban yang normatif. Ia juga mengatakan bahwa acara ini justru kurang apresiasi. Namun demikian, ia berharap apa yang disampaikan tetap bisa direspon oleh fakultas. “Semoga ada gerakan nyata untuk perbaikan,” tuturnya.

Demi memastikan perbaikan tersebut, Ade menerangkan bahwa panitia sebelumnya sempat menawarkan surat pernyataan yang ditandatangani oleh pembicara. Hal ini untuk memberi perjanjian bahwa pernyataan-pernyataan dalam acara ini akan dilakukan. Penawaran tersebut lalu ditolak oleh pihak dekanat. Meski begitu, Ade berharap kegiatan ini tetap dapat membuat mahasiswa lebih peduli pada fakultasnya. “Hari ini saja tidak cukup, untuk seterusnya, semoga lebih banyak lagi yang bisa disampaikan,” pungkasnya. [Shiane]

More Stories
Suarakan Kesehatan Mental bersama SWO