Karen Horney: Mengenal The Feminist Psychoanalyst

If I couldn’t be beautiful, I decided I would be smart.” —Karen Horney.

Bicara perihal psikologi wanita tentu tak akan lepas dari sosok bernama Karen Horney. Karen Horney memang terkenal akan temuan feminine psychology dan kritik serta usulannya terhadap pemikiran-pemikiran bapak psikologi, Sigmund Freud. Karen Danielsen Horney lahir di Eilbek, Jerman pada 18 September 1885 dari pasangan bernama Berndt Wackels Danielsen dan Sonni. Ayahnya merupakan seorang pelaut yang bersifat keras, religius, pendiam, dan juga jarang ada di rumah karena aktivitas melautnya. Ibunya merupakan seorang freethinker yang cantik dan menarik. Kedua orang tua Horney kerap berselisih paham dan berargumen hebat, Sonni bahkan pernah berkata bahwa keputusannya untuk menikahi Berndt─ayah Karen Horney­─bukanlah karena cinta, namun semata-mata hanya karena takut melajang hingga usia tua. Selain itu, Horney juga merasa iri terhadap kakak laki-lakinya yang bernama Berndt, dia merasa orang tua dan orang-orang di sekitarnya lebih menyayangi Berndt dibanding dirinya. Kecemburuan Horney terungkap dalam buku hariannya, “It was always my pride that in school I was better than Berndt, that there were more amusing stories about me than about him” (Horney, 1980, p. 252). Pengalaman masa kecil Horney tersebutlah yang memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran dan idenya di kemudian hari.

Walaupun tanpa seizin ayahnya, Karen Horney bersikeras untuk menuntut ilmu kedokteran di University of Freiburg pada tahun 1906. Tepat pada waktu itu, teori psikoanalisis Freud menjadi terkenal dan menjadi pembicaraan hebat di kalangan akademisi bidang kedokteran dan neuropsikologi. Hal tersebut yang kemudian mempengaruhi Horney untuk fokus mendalami bidang psikoanalisis dan merumuskan teori kepribadian.

Ketika tumbuh dewasa, Horney menyadari bahwa ia mengalami banyak sekali hostility (permusuhan) semasa kecilnya. Hal itulah yang menjadi dasar konsepsi teori kepribadian miliknya dimana ia berpandangan bahwa masa kecil seorang individu akan banyak membentuk kepribadiannya di masa dewasa. Akan tetapi berbeda dengan Freud, Horney lebih menekankan faktor sosial dibandingkan dengan faktor biologis. Ia juga berpendapat bahwa setiap anak didominasi oleh safety need, yaitu kebutuhan anak akan keamanan dan kepuasan yang cukup. Apabila safety need tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan basic anxiety (kecemasan dasar) dan basic hostility (permusuhan dasar) yang diyakini sebagai pembentuk perilaku neurosis.

Pemikiran-pemikiran Horney terhadap psikoanalisis memang banyak dipengaruhi oleh Freud, namun tak jarang pemikirannya juga berseberangan dengan pemikiran Freud terkait psikologi wanita. Horney menentang keras konsep penis envy karena merasa pandangan tersebut sangat merendahkan wanita. Ia berpandangan bahwa rasa iri yang dimiliki wanita terhadap pria lebih disebabkan oleh peran pria dalam kostruksi sosial yang selalu superior, sehingga menyebabkan wanita dinomorduakan dan dikesampingkan hak-haknya. Alih-alih setuju dengan konsep penis envy, Horney mengajukan konsep womb envy di mana ia percaya bahwa pria justru mengalami perasaan iri karena mereka tidak bisa mengandung dan melahirkan.

Selain mengenai konsep penis envy, Horney juga memberikan kritik tajam terhadap beberapa pemikiran Freud yang lain. Hal ini yang kemudian dipersoalkan oleh ilmuwan dan anggota perhimpunan psikoanalisis New York karena dianggap tidak menghargai pandangan Freud. Meskipun Horney kerap menghadapi banyak tantangan dalam membuahkan gagasan-gagasannya, namun tak dapat dipungkiri bahwa kontribusinya sangat berpengaruh dan bermanfaat dalam perkembangan ilmu psikologi.

Penulis: Nabila Rosa

Referensi:

Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2012). Theories of Personality (10th ed.). Wadsworth, USA: Cengage Learning.

Horney, K. (1980). The adolescent diaries of Karen Horney. New York: Basic Books. [Diaries written 1899–1911]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Elegan Menerima Kekalahan