Ketika Psikologi Bicara Game

dok launching game 1Sejak permainan modern berkembang di Indonesia, mulai bermunculan para penggemar, pecandu, komunitas-komunitas pengguna dan badan usaha yang berkecimpung di dunia tersebut. Game juga disebut-sebut dapat mempengaruhi perilaku dan pikiran penikmatnya. Fenomena ini membuat Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa Psikomedia tertarik mengangkat tema tersebut ke dalam majalah.

Pada Sabtu (17/3) Psikomedia melakukan launching dan talkshow “Game: Kupas Tuntas Warna-Warni Dunia Game” di Fakultas Psikologi. “Tujuan acara ini adalah untuk meresmikan sekaligus mempublikasikan majalah baru Psikomedia yang bertajuk Game kepada masyarakat,” jelas Almas Safira, ketua Panitia. Dia menambahkan, acara tersebut merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tahun.

Badan pers ini mengundang 3 narasumber dari berbagai kalangan, Taufik Akbar Rizki Yunanto (gamer), Fauzan Heru Santhoso (Dosen Psikologi) dan Gathot Fajar (developer games Indonesia). Ketiga narasumber berusaha memb
ahas game dari tiga perspektif yang berbeda, sesuai kapasitas mereka. Talkshow dibuka dengan penuturan pecandu games, Taufik. “Sewaktu SMA, saya pernah membolos hanya untuk main game online bersama teman-teman. Waktu itu, padahal sedang pesantren kilat dan gerbangnya ditutup. Kami meloncati gerbang lalu ramai-ramai bermain game online itu,” akunya.

Menurut Fauzan, perilaku tersebut merupakan salah satu dampak negatif dari game. “Saya pikir itu seperti juga kecanduan yang lain, narkoba misalnya. Kalau mereka sampai kecanduan, bukan hanya bolos, mereka juga bisa menghabiskan uang jutaan rupiah untuk game,” kata dia. Pernyataan tersebut mendapatkan konfirmasi Taufik. “Saya pernah menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk bermain game online. Tapi, uang itu ternyata habis dalam waktu sangat sebentar,” tuturnya. Menurut Gathot, fenomena kecanduan tersebut memang salah satu yang dikembangkan para developer. “Mereka meriset untuk melihat kira-kira pangsa pasar mereka akan kecanduan pada game yang seperti apa,” jelasnya.

Walaupun seringkali dinilai negatif, terdapat banyak sisi positif dari game. “Game dapat dijadikan sarana edukasi. Saya dan kawan-kawan pernah memperkenalkan tentang wayang seperti Gathot Kaca dan Arjuna melalui game,” kata Gathot. Game juga menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Indonesia. “Indonesia punya talent di dunia game. Saya yakin para developer game Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan yang di luar,” tegas Gathot. Menurutnya, salah satu game developer internasional juga membuka cabang di Indonesia karena alasan tersebut.

Selain edukasi, game juga dapat menjadi ajang bersosialisasi dan menambah kenalan. “Saya memiliki banyak teman sesama gamer. Ada juga organisasi terstruktur. Jadi tidak benar kalau mengatakan semua gamer itu introvert dan tidak suka bergaul,” jelas Taufik. Senada dengan Taufik, Fauzan mengatakan bahwa dari hasil penelitian, game justru dapat meningkatkan jiwa kepemimpinan penggunanya. Walaupun demikian, ia tetap menekankan bahwa dunia game yang merupakan dunia maya jelas berbeda dengan dunia riil yang ditinggali para gamer.

Setelah talkshow ditutup, kegiatan dilanjutkan dengan proses launching majalah yang ditandai dengan pemotongan pita. Acara kemudian ditutup setelah memberikan hadiah kepada pengunjung yang beruntung, pemberian kenang-kenangan kepada pembicara dan hiburan. Ketika ditanya mengenai kendala, Almas mengaku ada beberapa masalah dalam penyelenggaan acara ini. “Ketika persiapan ada masalah birokrasi dengan pihak fakultas. Kalau saat hari H, karena cuaca yang buruk yaitu sempat hujan, membuat peserta datang terlambat,” terangnya.

Terlepas dari hal tersebut, Muhammad Ghufran Ashrofi, salah seorang pengunjung menyatakan bahwa acara ini sudah berlangsung dengan baik. “Jujur aku tertarik sekali dengan tema ini. Pembicaranya sudah bagus, pesertanya juga. Saya berharap masih ada kelanjutan dari sini,” pungkas Ashrofi. [Mega]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Milly & Mamet & Kelucuannya & Kariernya & Keluarganya & Bukan Tentang Cinta & Rangga