Kriptomnesia: Plagiarisme yang Tidak Disengaja

Plagiarisme adalah suatu tindakan mengutip, menjiplak, atau mengakui karya milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Tindakan ini sangat dikecam oleh para akademisi, termasuk di kampus kita tercinta ini. Universitas Gadjah Mada bahkan telah menerbitkan buku Panduan Anti Plagiarisme yang berisi definisi, jenis, pencegahan, dan sanksi dari tindakan plagiarisme(Istiana & Purwoko, 2016). Sanksi dari tindakan plagiarisme telah ditentukan oleh Undang‐Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 25 ayat 2 dan pasal 70 yang pada intinya berisi siapapun yang melakukan plagiarisme akan dicabut gelar akademiknya serta diancam pidana penjara selama paling lama dua tahun atau denda sebesar paling banyak 200 juta rupiah.

Tentunya, setelah mengetahui sanksi di atas, pasti kalian akan berpikir dua kali untuk melakukan plagiarisme dan akan berusaha untuk menghindarinya. Namun, tahukah kalian bahwa plagiarisme dapat dilakukan secara tidak sengaja?

Fenomena plagiarisme tidak sengaja yang terkenal dialami oleh salah satu tokoh dunia yang namanya termasyhur di kalangan masyarakat, yaitu Helen Keller (Bailey, 2014). Ia pernah menulis cerita berjudul The Frost King yang kemudian diterbitkan di majalah sekolahnya dan di koran-koran lokal. Seiring berjalannya waktu, cerita tersebut menjadi semakin terkenal. Namun, beberapa orang mulai menyadari bahwa cerita oleh Keller memiliki kesamaan dengan buku karangan Margaret Canby yang berjudul The Frost Fairies. Keller menyatakan bahwa ia tidak mengingat pernah membaca buku tersebut, namun salah satu teman Keller mengakui bahwa ia pernah membacakan buku tersebut kepada Keller.

Fenomena ini juga dialami oleh George Harrison, seorang gitaris dalam band The Beatles (Draaisma, 2015). Harrison merilis lagu berjudul “My Sweet Lord” pada tahun 1970. Namun, tanpa sadar, lagu yang ia tulis memiliki kesamaan dengan lagu “He’s So Fine” oleh The Chiffons yang dirilis pada tahun 1963. Oleh karena itu, Harrison dituntut oleh perusahaan produksi lagu tersebut dengan tuduhan plagiarisme dan harus membayar hingga setengah juta dolar. Wah, mengerikan sekali, ya?

Beberapa kasus di atas merupakan contoh dari kriptomnesia, yaitu plagiarisme karya milik orang lain yang terjadi secara tidak sadar. Ini merupakan salah satu fenomena dari misatribusi sumber memori yang memiliki arti kesalahan dalam mengatribusi sumber dari suatu memori. Marcia Johnson (dalam Goldstein, 2015) mengungkapkan bahwa mekanisme yang terlibat dalam misatribusi sumber memori adalah sama dengan mekanisme pembentukkan memori secara umum. Memori yang diterima oleh manusia tidak hanya tersusun atas objek, peristiwa, atau informasi apa yang ingin diingat. Namun, memori juga tersusun dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, pengetahuan, pengalaman, dan persepsi seseorang. Unsur-unsur inilah yang dapat menyebabkan kesalahan dalam menerima dan menyimpan suatu memori.

Pikiran manusia merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Bahkan hingga saat ini masih banyak perdebatan mengenai proses-proses mental yang terjadi saat kita menyimpan suatu memori dalam pikiran kita. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kesadaran kita mengenai kesalahan-kesalahan memori yang mungkin terjadi dalam situasi tertentu yang kita hadapi. Jangan sampai kita merugikan diri kita sendiri maupun orang lain. [Carissa]

Referensi:

Bailey, J. (2014, April 17). Plagiarism Taboo Topics: Cryptomnesia. Retrieved November 26, 2017, from PlagiarismToday: https://www.plagiarismtoday.com/2014/04/17/plagiarism-taboos-cryptomnesia/

Draaisma, D. (2015, Mei 5). The Science of ‘Accidental’ Joke-Stealing and Plagiarism. Retrieved Agustus 28, 2017, from Science of Us: http://nymag.com/scienceofus/2015/05/science-of-joke-stealing-and-plagiarism.html

Goldstein, E. B. (2015). Cognitive Psychology: Connecting Mind, Research, and Everyday Experience, 4th Edition. Stamford: Cengage Learning.

Istiana, P., & Purwoko. (2016). Panduan Anti Plagiarisme. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

 

 

 

More Stories
Anak Psikologi Digusur?