Martin Seligman: Mengubah Haluan Psikologi Menjadi Lebih Positif

Pendekatan studi psikologi yang positif dan humanis telah menjadi salah satu hal yang kerap dibahas oleh pakar psikologi terdahulu. Namun, baru pada akhir abad kedua puluh Martin Seligman mengkajinya secara lebih dalam dan memperkenalkannya pada khalayak luas. Seligman menjadi pionir dalam perkembangan ranah psikologi positif yang berfokus pada pengembangan karakter positif dan kesejahteraan individual.

Menjelang pertengahan abad ke-20, beberapa ahli psikologi mulai menyadari bahwa ilmu psikologi tidak terbatas pada pembahasan mengenai psikopatologi semata. Para pakar humanistik seperti Maslow, Rogers, dan Fromm secara intensif membahas psikologi positif, yang berfokus pada kebahagiaan, kesejahteraan individu, dan kesehatan mental. Meskipun demikian, psikologi positif belum menjadi sebuah ranah keilmuan khusus hingga akhir dekade 90-an, ketika Martin E. P. Seligman mempublikasikan teorinya mengenai psikologi positif secara global.

Seligman dikenal sebagai seorang penulis, praktisi, dan peneliti di bidang ilmu psikologi, serta merupakan salah satu presiden American Psychological Association (APA). Namun, kiprahnya dalam menjadikan psikologi positif sebagai ranah kajian tersendirilah yang membawa namanya sebagai salah satu pakar psikologi terkemuka di era kontemporer. Ia lahir di Albany, New York, Amerika Serikat, pada tanggal 12 Agustus 1942. Mulanya, Seligman tidak secara langsung berkecimpung di bidang psikologi; ia justru memperoleh gelar sarjana di bidang ilmu filsafat dari Universitas Princeton pada tahun 1964.

Menjelang kelulusannya, Seligman memperoleh beberapa tawaran pendidikan pascasarjana. Di antaranya adalah melanjutkan studi di bidang filosofi analitis di Universitas Oxford dengan beasiswa, serta mempelajari psikologi eksperimen pada hewan di Universitas Pennsylvania. Seligman menjatuhkan pilihannya pada Universitas Pennsylvania, dan lulus dengan gelar Ph.D. di bidang psikologi pada tahun 1967. Selama masa studinya di Universitas Pennsylvania, Seligman berfokus pada studi mengenai depresi.

Pada tahun 1967, ia bersama beberapa koleganya mencetuskan teori mengenai ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Penemuan ini merupakan dampak dari hasil yang tidak terduga dari eksperimennya mengenai depresi pada anjng. Dalam eksperimen tersebut, anjing-anjing yang memperoleh perlakuan eksperimen diletakkan di sebuah kandang dan diberikan sengatan listrik. Pada percobaan kedua, kelompok anjing yang sama kembali memperoleh sengatan listrik dengan intensitas yang sama seperti sebelumnya, namun di luar kandang. Anjing-anjing tersebut memilih untuk diam dan tidak berusaha menghindari sengatan listrik.

Meskipun hasil yang diperoleh tidak memiliki koneksi dengan tujuan awal, eksperimen ini membawa Seligman pada kesimpulan bahwa hewan memiliki kemampuan untuk “belajar untuk menerima dan menahan kondisi yang tidak menyenangkan serta memilih untuk tidak menghindarinya, sekalipun kondisi tersebut dapat dihindari”. Seiring waktu, teori Seligman ini dikembangkan dan diterapkan dalam mempelajari fenomena-fenomena psikologis pada manusia, khususnya menyangkut depresi. Penemuan ini merupakan salah satu kontribusi terbesar Seligman bagi psikologi, dan teori learned helplessness menjadi salah satu rujukan utama bagi para praktisi, terutama di bidang klinis.

Teori learned helplessness menjadi batu loncatan bagi Seligman dalam menciptakan teori optimisme yang dipelajari (learned optimism) dan psikologi positif secara umum. Setelah beberapa eksperimen lanjutan mengenai learned helplessness, Seligman bertanya mengapa beberapa subjek mampu mengatasi kondisi yang tidak menyenangkan. Ia menemukan bahwa salah satu komponen kunci untuk menolak ketidakberdayaan adalah optimisme. Melalui serangkaian studi dan eksperimen, Seligman menemukan bahwa kondisi merugikan yang dialami oleh seseorang dapat dihindari dengan cara memandang permasalahan tersebut melalui sudut pandang yang lebih positif. Salah satu penggambaran dari learned optimism, menurut Seligman, adalah cara memandang gelas “setengah penuh” alih-alih “setengah kosong”.

Pada 1999, ketika Seligman menjabat sebagai presiden APA, ia menjadikan psikologi positif sebagai tema utama pada konvensi psikologi di tahun yang sama. Langkah ini membantu memperkenalkan psikologi positif pada khalayak yang lebih luas, serta menjadi batu loncatan bagi perkembangan bidang tersebut. Seusai masa jabatnya, Seligman menjadi salah satu profesor kehormatan di departemen psikologi Universitas Pennsylvania. Pada 2002, ia menempati urutan ketiga puluh satu sebagai psikolog dengan sitasi terbanyak di abad kedua puluh oleh APA; di tahun selanjutnya, ia mendirikan dan menjadi ketua program Master of Applied Positive Psychology (MAPP) di almamaternya.

Dalam pembahasannya mengenai psikologi positif, Seligman cenderung menitikberatkan urgensi pencapaian well-being (kesejahteraan) individu. Di tahun 2004, bersama dengan Christopher Peterson, ia mempublikasikan Character Strengths and Virtues (CSV), sebuah buku yang berisi kategorisasi enam karakter positif yang dapat dimiliki individu untuk mencapai kesejahteraan: kebijaksanaan, keberanian, kemanusiaan, keadilan, pengendalian diri, dan transendensi. Seligman mendeskripsikan karya ini sebagai bentuk yang lebih positif dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Kemudian pada Flourish (2011), ia menggagas metode pengukuran kesejahteraan psikologis melalui lima aspek yang disebut PERMA: positive emotion (emosi positif), engagement (minat), relationships (hubungan interpersonal), meaning (makna kehidupan), dan accomplishment (pencapaian). Seligman telah mendedikasikan karirnya untuk mengubah ranah ilmu psikologi menjadi lebih positif, dengan menjadikan kesejahteraan dan kebahagiaan individu sebagai salah satu fokus utama studi. [Royyan]

 

Sumber gambar:
https://pi.tedcdn.com/r/pe.tedcdn.com/images/ted/464ab07ec4d4bb056256c343837a3a2ced132996_1600x1200.jpg?cb=05112016&quality=89&w=800

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Resenpsy: Get Out (2017)