Ribuan buruh melakukan unjuk rasa ketika memperingati Hari Buruh Sedunia di jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (1/5). Dalam aksinya mereka menuntut hentikan perampasan upah buruh dan berikan jaminan sosial bagi rakyat yang sepenuhnya di tanggung negara. Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

May Day: Suara Perjuangan yang Tak Pernah Mati

Ribuan buruh melakukan unjuk rasa ketika memperingati Hari Buruh Sedunia di jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (1/5). Dalam aksinya mereka menuntut hentikan perampasan upah buruh dan berikan jaminan sosial bagi rakyat yang sepenuhnya di tanggung negara. Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

Tepat 1 Mei 2017 hari ini, rakyat Indonesia merayakan Hari Buruh Internasional atau yang akrab dikenal dengan May Day. Hari ini, berbagai aksi massa buruh terjadi di beberapa daerah di Indonesia untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Dilansir dari tirto.id, aksi massa buruh terjadi di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Bekasi, dan Jakarta. Upah yang layak dan sistem kerja yang baik masih menjadi tuntutan para buruh Indonesia. Hal ini tentu mengundang banyak perhatian dari masyarakat. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah, apa sesungguhnya yang melatarbelakangi peringatan May Day di Indonesia? Mengapa setiap peringatan May Day, tuntutan yang diajukan oleh para buruh terhadap pemerintah masih seputar upah yang layak dan sistem kerja yang memperhatikan kesejahteraan buruh? Benarkah, hingga sampai saat ini, kaum buruh masih menjadi kaum marjinal dan tertindas? Semua pertanyaan diatas membawa saya pada sebuah fakta yang menarik.

Pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013. Penetapan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional ini melalui proses yang sangat pelik dan perjuangan panjang setelah sebelumnya pemerintah dari era presiden Soeharto hingga era pertama presiden SBY menolak tuntutan menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional, dikarenakan berbagai alasan dan kepentingan politik pada zamannya. Setahun setelah ditetapkannya peraturan pemerintah tersebut, ratusan ribu buruh di berbagai daerah menggelar aksi demonstrasi turun ke jalan dan menyampaikan sepuluh tuntutan buruh. Beberapa diantara tuntutan tersebut adalah menolak penangguhan upah minimum, permintaan jaminan kesehatan, penghapusan outsourcing, pengangkatan pegawai dan guru honorer menjadi PNS, penyediaan transportasi publik dan perumahan murah untuk buruh, serta program wajib belajar dua belas tahun dan beasiswa hingga perguruan tinggi bagi anak buruh. Pada tahun 2015, aksi massa buruh kembali terjadi dan kali ini kompas.com menyatakan bahwa aksi May Day Indonesia tahun  2015 merupakan aksi May Day terbesar di dunia dengan 3,5 juta buruh sebagai partisipan. Pada tahun 2015 tersebut, permintaan upah yang layak masih menjadi tuntutan diikuti dengan permintaan jaminan pensiun buruh dan menolak kenaikan harga BBM serta permintaan mengakhiri keserakahan perusahaan. Sedangkan pada tahun 2016, sekitar satu juta buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Indonesia (GBI) melakukan aksi serentak di seluruh provinsi di Indonesia. Aksi ini kembali mengajukan tuntutan terhadap penolakan upah murah dengan meminta pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015. Selain itu, aksi massa buruh juga menolak adanya Rancangan Undang-Undang Tax Amnesty yang dianggap merugikan buruh karena buruh membayar pajak.

Tahun ini, peringatan Hari Buruh Internasional kembali dilakukan melalui aksi demonstrasi. Tuntutan yang diajukan pada aksi hari ini pun tak lepas dari isu upah murah dan jaminan kesehatan yang terangkum dalam tiga tuntutan buruh, yaitu, meminta pemerintah untuk menghapuskan sistem outsourcing dan pemagangan, jaminan pensiun buruh yang disamakan dengan pegawai negeri sipil, serta permintaan untuk mencabut Peraturan Pemerintah no 78 tahun 2015 untuk menolak upah murah bagi buruh. Jika kita mencoba untuk menganalisis peringatan Hari Buruh ini,  aksi-aksi yang dilakukan dari tahun 2014 sampai tahun 2017 selalu berbentuk aksi demonstrasi dengan tuntutan upah yang layak bagi buruh. Mengapa harus demonstrasi? Mengapa kita tidak pernah mendengar atau melihat peringatan Hari Buruh dengan cara lain seperti senam bersama, donor darah, atau yang lainnya yang tidak menguras tenaga seperti long march yang selama ini dilakukan?

Dari berbagai tuntutan yang diajukan, berdasarkan pemahaman saya yang pendek ini, tidak salah rasanya jika saya mengatakan bahwa buruh di Indonesia belum mencapai kesejahteraan yang seharusnya. Adanya diskriminasi strata sosial antara buruh dan pegawai negeri bisa dikatakan salah satu indikasinya. Tuntutan upah yang layak juga menjadi indikasi bahwa buruh tidak mendapatkan upah yang sesuai dengan kerja keras yang telah dilakukan. Padahal, buruh juga merupakan tenaga kerja yang sudah seharusnya diperlakukan sama seperti tenaga kerja lainnya. Namun, sikap dari perusahaan dan minimnya perhatian dari pemerintah terhadap buruh membuat jarak antara buruh dan tenaga kerja lainnya terlihat sangat jauh.

Dalam teori psikologi yang saya pelajari, Abraham Maslow mengatakan bahwa kebutuhan fisiologis merupakan hierarki paling dasar yang harus dipenuhi oleh manusia untuk dapat bergerak memenuhi kebutuhan selanjutnya. Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori ini, saya memandang bahwa benar adanya kita sebagai manusia harus mampu memenuhi kebutuhan fisiologis dari hari ke hari. Jika upah yang layak saja masih menjadi masalah bagi buruh, bagaimana buruh dapat memenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa aman yang merupakan dasar dari kebutuhan manusia? Sungguh hal yang memprihatinkan ketika jutaan rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai buruh saat ini masih harus terkungkung untuk memenuhi kebutuhan paling dasar bagi manusia.

Saya pikir saat ini saya dapat memahami, mengapa aksi demonstrasi ini tak pernah mati dari tahun ke tahun. Atas nama perjuangan, demi hak-hak yang sudah sepantasnya didapatkan oleh buruh, momentum peringatan Hari Buruh Internasional ini sudah sepatutnya kita jadikan sebagai pengingat bagi semua orang bahwa di negeri di mana hak untuk bersuara ini dilindungi, ada hak-hak jutaan rakyat Indonesia yang belum terpenuhi. Bahwa, disaat saya masih asyik-asyiknya dengan drama korea, ada jutaan rakyat Indonesia yang bergelut dengan kebingungan bagaimana harus bertahan hidup dari hari ke hari. Bahwa Indonesia kita, kawan, masih tidak baik-baik saja. [Nabila]

 

Referensi :

http://bisnis.liputan6.com/read/2935037/ini-3-isu-yang-diusung-buruh-di-aksi-may-day-2017

http://bisnis.liputan6.com/read/2489944/satu-juta-buruh-gelar-aksi-peringati-may-day-2016

http://lampung.tribunnews.com/2016/05/01/ini-4-tuntutan-buruh-se-indonesia-pada-may-day-2016

http://news.okezone.com/read/2015/04/29/337/1142225/10-tuntutan-buruh-pada-may-day-2015

http://nasional.kompas.com/read/2015/04/29/20542351/3.5.Juta.Buruh.Turun.ke.Jalan.May.Day.di.Indonesia.Diklaim.Terbesar.di.Dunia

http://nasional.kompas.com/read/2014/05/01/0823038/Ini.Sepuluh.Tuntutan.Buruh.di.May.Day.2014

http://www.antaranews.com/berita/388121/hari-buruh-1-mei-resmi-jadi-libur-nasional

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Inpsyration Class: Menyemai Benih Mahasiswa Berprestasi Fakultas Psikologi