Membangkitkan Kesadaran Skizofrenia lewat Schizophrenia Awareness Day

Skizofrenia… Bukan untuk dihina… Mereka manusia, butuh rangkulan kita… lalalalalala…. Kenali cirinya… Pahami tindakannya… Jangan jauhi dirinya… Karena kita bersaudara…

Kawasan Malioboro pada Minggu pagi kemarin (21/5) terlihat berbeda dari biasanya. Sekelompok mahasiswa yang mengenakan baju putih terlihat asyik menyanyikan sebuah lagu sembari mengangkat poster yang berisikan informasi dan ajakan mengenai skizofrenia. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UGM yang tergabung dalam lembaga mahasiswa sekaligus beberapa relawan yang pada hari itu mengadakan kampanye mengenai skizofrenia. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka memperingati Schizophrenia Awareness Day yang jatuh pada tanggal 24 Mei.

Rangkaian kegiatan Schizophrenia Awareness Day (SAD) ini merupakan program kerja Divisi Pengabdian Masyarakat LM Psikologi UGM. Setiap tahunnya, SAD diperingati dengan cara yang berbeda, seperti pada tahun lalu yang diperingati dengan kampanye #bebaspasung. Kampanye #bebaspasung yang dilakukan tahun lalu lebih berfokus pada penggunaan media sosial, seperti video online, poster dan pemasangan twibbon di media sosial. Sementara tahun ini, SAD diperingati dengan kampanye dan long march yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai skizofrenia dan ciri-cirinya serta cara menyikapi dan membantu orang dengan skizofrenia. Kepala Divisi Pengabdian Mayarakat, Khoiriyyatun Nisa, mengatakan bahwa banyak masyarakat yang belum memahami skizofrenia dan memperlakukan skizofrenia dengan kurang tepat seperti mengucilkan bahkan memasung. “Padahal, orang dengan skizofrenia membutuhkan social support yang besar dari lingkungan sekitar,” tambahnya.

Rangkaian acara SAD tahun ini memilih Malioboro sebagai tempat kampanye karena sebagai tempat umum sekaligus pusat kehidupan Yogyakarta, Malioboro dapat dengan mudah menjangkau berbagai lapisan masyarakat. “Selain bisa berkampanye kepada pengunjung, kita juga bisa berkampanye pada pedagang, tukang becak, bahkan kusir andhong,” tutur Khoiriyyatun. Rangkaian SAD kali ini diawali dengan menyebar info grafis mengenai skizofrenia di media sosial, pemakaian twibbon dan seruan untuk memperingati SAD, serta kampanye dan long march pada tanggal 21 kemarin.

Pada acara kampanye dan long march, sebanyak 45 relawan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Long march dimulai pada pukul 08.30 WIB dan dilakukan mulai dari Hotel Inna Garuda hingga depan pusat perbelanjaan Ramayana. Setelah itu acara dilanjutkan dengan kampanye skizofrenia yang dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang yang disebar ke berbagai titik di Malioboro. Kelompok-kelompok itulah yang berkewajiban untuk mengedukasi masyarakat mengenai skizofrenia; apa itu skizofrenia, gejala dan ciri-cirinya, serta penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu orang dengan skizofrenia. Kampanye ini diakhiri pada pukul 10.30 WIB.

Hal penting yang menjadi perhatian utama dalam kampanye dan long march kali ini adalah ajakan kepada masyarakat untuk tidak mengucilkan dan menjauhi orang dengan skizofrenia. Melalui kampanye ini masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap orang dengan skizofrenia. Masyarakat diminta untuk memberikan dukungan sosial sekaligus penanganan yang tepat dengan membawa orang dengan skizofrenia kepada psikiater atau psikolog. Dengan dukungan dan perhatian dari semua kalangan diharapkan orang dengan skizofrenia merasa tidak sendirian dan semakin semangat untuk sembuh.

Kampanye yang dilakukan oleh para relawan SAD ini mendapatkan tanggapan yang baik dari para pengunjung kawasan Malioboro. Tak sedikit, masyarakat yang diberikan sosialisasi juga membagikan kisah hidup mereka dalam menangani kenalan, keluarga, dan tetangga yang mengalami skizofrenia. “Kalau nggak ada sosialisasi seperti ini, orang-orang nggak bakal tahu mbak skizofrenia itu apa,” tutur salah seorang kusir andhong.

Kegiatan semacam ini diharapkan mampu mengedukasi masyarakat sekaligus meluruskan berbagai pandangan yang salah mengenai skizofrenia. Khoiriyyatun berharap dengan acara ini, masyarakat jadi lebih memahami skizofrenia dan memperlakukan orang dengan skizofrenia dengan lebih bijak. “Jangan memberikan stigma atau menjauhi mereka, karena mereka juga membutuhkan dukungan dari orang terdekat,” tutup Khoiriyyatun. [Hika]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
[Cerpen] Hyperthymesia’s Boy