Mengenal Gender Dysphoria, Sebuah Gangguan Identitas  

Istilah gender dysphoria secara luas mulai digunakan ketika resmi dicantumkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) edisi ke-V. Istilah tersebut menggantikan istilah Gender Identity Disorder (GID) yang dianggap bermasalah karena mengklasifikasikan orang-orang transgender sebagai sakit mental.  Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud gender dysphoria dan apa bedanya dengan GID?

Menurut DSM-V, gender dysphoria merujuk pada perasaan tidak nyaman yang ditimbulkan karena ketidakcocokan antara gender yang dirasakan dan dialami dengan gender yang ditetapkan sejak lahir. Baik GID dan gender dysphoria merujuk pada hal yang serupa yaitu ketidakcocokan gender yang dialami dan dirasakan dengan gender yang ditetapkan. Tetapi, gender dysphoria lebih menekankan pada rasa tidak nyaman yang dialami seseorang karena ketidakcocokan tersebut. Sedangkan, GID lebih fokus pada masalah identitas.

Orang-orang dengan gender dysphoria biasanya merasa tidak nyaman dengan gender yang ditetapkan, dengan tubuh mereka, atau dengan peran gender yang ditetapkan kepada mereka. Ketidaknyamanan tersebut memengaruhi mereka dalam berbagai hal, seperti perilaku dan cara berpakaian. Sebagian orang dengan gender dysphoria melakukan cross-dressing (tindakan menggunakan pakaian yang umumnya diasosiasikan dengan lawan jenis), sebagian ingin bertransformasi dalam kehidupan sosial seperti mengganti nama, sebagian lainnya ingin mengganti kelamin mereka dengan bantuan tindakan medis.

Apakah semua transgender mengalami gender dysphoria?

Seperti yang dikutip oleh LiveScience menurut Robin Rosenberg, seorang psikolog klinis, mengungkapkan bahwa ketidakcocokan gender yang ditetapkan dengan gender yang dialami dan dirasakan bukanlah sebuah penyakit dan tidak selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Banyak orang-orang transgender —orang-orang yang memiliki ketidakcocokan gender— tidak mengalami gender dysphoria. Orang-orang transgender mengatakan bahwa gender dysphoria adalah bagian yang terpisahkan dari transgender.

Gender Dysphoria dapat terjadi pada anak-anak, remaja, ataupun dewasa

Gender dysphoria dapat terjadi pada anak-anak, walaupun sebagian besar orang dengan gender dysphoria mulai merasakannya sejak masa pubertas. Menurut DSM-V, gender dysphoria pada anak-anak ditandai salah satunya dengan keinginan mereka untuk tumbuh menjadi lawan jenis, misalnya anak perempuan yang berkeinginan tumbuh menjadi seorang laki-laki dan memiliki penis. Sedangkan, pada remaja dan dewasa ditandai salah satunya dengan memiliki keinginan yang kuat untuk menghapus atau menghilangkan karakteristik sex primer atau sekunder pada tubuhnya. Pada beberapa anak dengan gender dysphoria, ketika beranjak remaja mereka tidak dapat mengidentifikasikan tubuh mereka sendiri, sehingga mereka kesulitan untuk mandi bahkan hingga melakukan self-harm (tindakan melukai diri sendiri). [alita]

 

Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

Parry, W. (2013, June 3). Normal or Not? When One’s Gender Identity Causes Distress. Retrieved August 11, 2017, from LiveScience: http://www.livescience.com/37087-dsm-gender-dysphoria.html. Diakses pada 11 Agustus 2017.

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Pembukaan Lustrum XI Fakultas Psikologi UGM