Mengubah Cemas Menjadi Santai

Kecemasan merupakan suatu respon alamiah terhadap stres yang dapat memengaruhi keadaan hidup seseorang secara berbeda. Kecemasan juga dapat muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi seperti lingkungan, perasaan yang ditekan ataupun penyebab fisik. Setiap dari kita pasti akan mengalami kecemasan dalam suatu titik dalam kehidupan. Dalam frekuensi yang sering kecemasan dapat berdampak negatif jika tidak dapat dikelola dengan baik. Lalu bagaimana cara kita mengelolanya?

Dalam kasus gangguan kecemasan kronis, pasien perlu dirujuk kepada profesional untuk mendapatkan bantuan. Namun, bagi gangguan kecemasan ringan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan dan mengubahnya menjadi hal yang menenangkan.

Pertama, hadirlah pada yang terjadi. Seringkali kita merasa gelisah terhadap suatu keadaan, tetapi kita tidak menyadari apa yang menyebabkan kegelisahan tersebut. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi kecemasan adalah menyadari apa sebenarnya penyebab kecemasan dan bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan kita. Saat kita mulai menyadari dan terbiasa dengan tanda-tanda kegelisahan, maka akan semakin mudah bagi kita untuk merespon pemicu tersebut dengan tenang.

Kedua, periksa pernapasan. Mungkin sebagian dari kita tidak memperhatikan napas, padahal mengatur pernapasan adalah salah satu langkah ampuh dalam mengelola dan mengurangi kecemasan. Dalam situasi tertentu yang memicu kecemasan, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tarikan napas dalam-dalam akan membuat kita menjadi semakin tenang dikarenakan lebih banyaknya oksigen yang dikirim ke otak, dan merangsang bagian sistem saraf yang bertanggung jawab terhadap relaksasi sehingga menenangkan tubuh. Saat memperhatikan napas, kita mengalihkan perhatian terhadap pikiran-pikiran yang disertai stres. Cara ini dapat membantu secara signifikan jika dilakukan sesering mungkin.

Ketiga, periksa pemikiran anda. Seringkali kita menemukan berbagai kejadian, orang dan situasi yang berpotensi memicu kecemasan, akan tetapi yang menentukan kita merasa cemas atau tidak adalah bagaimana cara kita memikirkan orang-orang, kejadian dan situasi tersebut. Menurut Psikolog Aaron Beck ada beberapa distorsi kognitif yang memicu stres dan kecemasan, di antaranya (1) All or nothing­ thinking, yaitu melihat hal dengan cara yang kaku atau salah, (2) Personalization atau menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang berada diluar kendali, (3) Catastrophizing, yaitu mengantisipasi dan memprediksi hal-hal dengan kemungkinan terburuk, dan (4) Magnifying atau melebih-lebihkan segala sesuatunya. Distorsi kognitif atau pemikiran irasional ini dapat memicu kecemasan, tetapi dengan membiasakan diri dan mengalihkan pemikiran maka kita akan mampu meminimalkan atau menghentikan kecemasan. Untuk itu, selalu berpikiran positif merupakan hal penting yang perlu dilakukan.

Ketika cemas, urgensi untuk melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru akan muncul, pikiran akan bergerak lebih cepat dari biasanya. Hal keempat yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan adalah dengan mengambil waktu untuk menanggapi. Ketika kita meluangkan waktu untuk menanggapi, kita akan lebih mampu untuk merespon secara efektif dan lebih mudah dalam berpikir jernih. Dalam suatu kondisi yang memicu kecemasan luangkan waktu untuk merespons, pikirkan hal yang sebenarnya sedang terjadi dan cara agar masalah selesai.

Menjaga kebugaran tubuh juga penting untuk meminimalkan rasa cemas. Istirahat yang cukup rutin berolahraga adalah caranya. Berolahraga berguna untuk menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani, seseorang yang cenderung rutin berolahraga ditemukan memiliki kondisi emosional yang lebih stabil dan lebih mampu untuk berpikir jernih dalam mengatasi masalah yang ada termasuk rasa cemas.

Itulah beberapa kiat untuk meminimalkan kecemasan. Cemas merupakan respon hal yang wajar dapat dirasakan setiap orang. Oleh karena itu, pastikan diri kamu bisa mengatasinya. Bila tidak, jangan sungkan untuk menceritakan ke orang lain atau tenaga kesehatan mental. Semoga bermanfaat! [ICHA]

Referensi

Ulyah, Shifatul. (2014). Efektifitas Terapi SEFT (Spiritual Emosional Freedom Technique) dalam Menurunkan Kecemasan. Doctoral Dissertation.

Fournier, Denis. (2017). From Panic to Peace. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/blog/mindfully-present-fully-alive/201708/panic-peace

National Institute of Mental Health. (2016). Any anxiety disorder among adults. Retrieved from https://www.nimh.nih.gov/health/statistics/prevalence/any-anxiety-disorder-among-adults.shtml

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Sikolastik 2014 ‘Travel The Words, Create The Memories’