Number

Cindy menemukan sebuah buku usang di loteng saat hendak mengambil mesin ketik milik ibunya. Sampul kulit dengan pembatas buku berupa bulu berwarna biru sangat menarik perhatiannya. Ia mengambilnya diam-diam dan memasukkannya ke dalam tas lalu bergegas menemui ibunya yang tengah duduk di meja kerjanya yang sudah berdebu.

“Kenapa lama sekali?” tanya Rossa, Ibu Cindy.

“Apa Ibu tahu kalau loteng itu berada di lantai tiga rumah ini?” sahut Cindy dengan nada ketus lalu meletakkan mesin ketik yang ia bawa dengan kasar. Ia pun beranjak keluar dari kamar ibunya.

“Kau akan pergi lagi? Tidak bisakah kau di rumah sehari saja? Apa yang kau lakukan di luar rumah sepanjang hari?” tanya Rossa.

“Aku akan mengerjakan tugas-tugas sekolahku bersama Ryan,” jawab Cindy berbohong.

“Kau berbohong lagi,” kata Rossa.

“Apa urusanmu? Selalu itu yang kau katakan padaku. Apa kau sudah merasa menjadi malaikat  pencatat dosa?” jawabnya ketus. Rossa tidak menjawab lagi, sudah lelah dengan hubungan mereka yang merenggang semenjak ia bercerai dengan suaminya.

“Aku peringatkan kau untuk tidak pergi,” kata Rossa kembali dengan tegas namun sama sekali Cindy tidak menghiraukannya dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

Cindy kembali lagi ke tepi sungai. Di sebuah batu besar yang sudah menjadi sarangnnya untuk membuang semua kesedihannya. Air matanya menetes semakin deras seiring waktu. Namun, ia teringat pada sebuah buku yang ia ambil dari loteng tadi. Sebuah kaligrafi unik terlampir di halaman pertama buku itu. NUMBER. Begitu bacanya. Ia pun membuka halaman selanjutnya.

“Sepertinya ini buku cerita karangan Ibu. Ceritanya sangat tidak masuk akal,” gumamnya. Namun demikian, halaman demi halaman tetap ia buka. Ia semakin hanyut dalam tulisan di buku tersebut sampai akhirnya petir mulai menyambar. Ia terkejut hingga buku itu terlempar ke tepi sungai. Ia pun hendak mengambil buku tersebut namun tak sengaja terpeleset dan tercebur ke sungai. Sayangnya, ia tak bisa berenang.

Cindy dengan panik mengepak-ngepakkan tangannya untuk bertahan hidup, namun hanya itu yang dapat ia lakukan dan ia sudah mulai kelelahan. Tubuh mungilnya mulai terbawa ke dalam arus sungai saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya menuju ke tepi. Ia tersenyum, bersyukur karena tahu dirinya akan selamat namun matanya sudah semakin berat lalu tertutup.

“Apa Adik baik-baik saja?” sayup-sayup Cindy mendengar suara lelaki yang tengah menggoyang-goyang tubuhnya. Ia pun memuntahkan sisa-sisa air tawar yang masih tersangkut di tenggorokannya.

“Lain kali kau harus hati-hati, kemarin hujan jadi tanah sangat licin. Apa Adik mau saya antar pulang?” tawar lelaki muda itu.

Cindy tidak menjawab, masih sibuk mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya apa yang sedang ia lihat. Di dahi lelaki tersebut memliki angka 3.907 berwarna merah.

“Adik?” Sahut pria muda itu lagi. Cindy pun akhirnya menjawab.

“Ah, iya. Saya baik-baik saja. Terima kasih banyak, Kakak sudah menolong saya. Apa Kakak baik-baik saja?” tanya Cindy kembali.

“Iya, saya baik-baik saja,” kata lelaki itu. Cindy semakin mengerjapkan matanya saat melihat angka di dahi lelaki itu berubah menjadi 3.908. Seketika ia ingat buku yang tengah ia baca sebelum terjatuh ke sungai. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa tokoh utama dan saudari-saudariya dapat melihat angka-angka terkait seseorang. Anak pertama dapat melihat berapa kali seseorang telah berbohong, anak kedua dapat melihat berapa kali seseorang telah tersakiti, dan anak terakhir dapat melihat berapa hari yang tersisa bagi orang tersebut. Cindy beberapa kali mencubit pipinya sendiri untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi, pria di hadapannya itu memiringkan kepalanya karena bingung dengan kelakuan Cindy.

“Kau tidak mimpi, kau benar-benar masih hidup,” katanya sambil tertawa kecil. “Kau tidak kedinginan? Bajumu basah. Ayo, aku akan mengantarmu pulang,” lanjutnya.

“Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Kakak juga pasti kedinginan,” kata Cindy.

“Tidak, aku sudah biasa seperti ini karena aku adalah nelayan,” kata pria itu, dan lagi-lagi angka di dahinya bertambah menjadi 3.909. Cindy membelalakkan matanya. Ia masih bingung dan mencoba memastikan.

“Apa kau bohong? Kau pasti kedinginan,” tanya Cindy kembali.

“Tidak, aku serius,” kata lelaki itu dan benar saja angka itu kembali bertambah. “Apa aku bisa melihat kebohongan seperti di dalam buku?” kata Cindy dalam hati.

“Ayo, aku antar kau pulang,” kata lelaki itu dan angka di dahinya tidak bertambah, Cindy pun berasumsi bahwa lelaki ini sedang jujur ingin mengantarnya pulang. Akhirnya dengan senang hati ia menerima tawaran tersebut.

Mereka mengendarai sepeda menuju rumah Cindy. Dalam perjalanan tersebut mereka saling berkenalan dan berbincang. Lelaki itu ternyata bernama Andy. Sesekali angka di dahi Andy bertambah saat Cindy menanyakan, “Apakah rumahmu di dekat sini?” dan ia menjawab, “Ya.” Atau, “Apa kau tidak lelah?” dan ia menjawab, “Tidak.”

Sesekali Cindy tersenyum mengetahui orang yang tengah memboncenginya ini adalah orang baik dan jujur. “Bagaimana bisa ia berbohong hanya 3.915 kali selama 18 tahun hidupnya? Bagaimana mungkin dalam hampir setengah umur hidupnya ia tidak berbohong?” batin Cindy. Mungkin karena Andy hidup sendirian, pikirnya.

“Apa ini rumahmu?” tanya Andy. Cindy mengangguk lalu beranjak masuk ke rumah tersebut. Sejujurnya itu bukanlah rumahnya melainkan rumah ayahnya, mereka sudah tidak tinggal bersama semenjak ia berusia 13 tahun.

Ayahnya tengah duduk sembari meminum obat di ruang tengah. Cindy pun menyapanya. Ayahnya menengok ke arahnya dengan wajah pucat sembari tersenyum kepada Cindy. Ia kembali melihat angka di dahi ayahnya, tertulis 2.998. Itu angka yang sangat sedikit untuk ukuran orang berumur 56 tahun untuk berbohong. “Ayahku benar-benar orang yang jujur. Apa itu angka yang patut bagi orang dewasa?” pikirnya.

“Ayah, kau sedang sakit?” tanyanya.

“Tidak, ayah baik-baik saja.” Kata ayahnya, namun tidak sesuai ekspektasi, angka di dahi ayahnya tidak bertambah walaupun jelas-jelas beliau sangat pucat dan berbicara diselingi batuk-batuk yang tidak jarang.

Setelah berganti pakaian, Cindy pun melangkah menuju kulkas untuk melihat apa yang bisa ia makan. Namun, yang ia temukan justru kulkas yang kosong melompong yang bahkan sudah tidak dingin lagi. Ia pun bertanya pada ayahnya.

“Apa ayah sudah makan?” tanyanya. Ayahnya mengangguk, lalu terdengar suara perutnya yang melengking. Beliau menyengir bingung layaknya orang katahuan bebohong. Namun yang membuat Cindy bingung justru angka di dahi ayahnya yang tidak juga bertambah.

“Apa itu bukan jumlah bohong?” pikirnya lagi.

Waktu hampir menuju tengah malam. Cindy beranjak untuk tidur di sebelah ayahnya yang tengah sakit, namun tiba-tiba suara ketukan pintu mengganggu damainya suasana rumah itu. Ayahnya mengintip dari jendela dan segera membukakan pintu.

“Di mana anakku?” terdengar suara lantang seorang wanita. Cindy sudah menghela nafasnya kasar-kasar semenjak ia mengetahui bahwa si pengetuk pintu adalah Rossa, ibunya.

Tidak lama kemudian Rossa muncul di hadapan Cindy dan langsung menarik tangannya untuk pulang. Cindy meronta tak ingin pulang bersama ibunya. Ia memohon kepada ayahnya untuk menghentikan ibunya membawanya pulang, namun beliau hanya diam dan tersenyum sayu menyuruh Cindy menurut pada ibunya. Saat itulah ia melihat angka di dahi ayahnya bertambah, ia mengingat kembali cerita dari buku di loteng. “Apakah itu jumlah perasaan Ayah saat ia tersakiti?” batinnya. Dalam kebingungan tersebut Cindy pun tanpa sadar mengikuti ibunya menuju ke luar rumah.

“Aku harap aku tak akan pernah kemari lagi,” kata Rossa kepada sang mantan suami untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan rumah itu. Benar saja, kata-kata Rossa adalah penyebab ke-3000 kali ayah Cindy tersakiti. Cindy tidak henti menangis melihat ayahnya dari kejauhan.

Cindy pun melepaskan tangan ibunya sesaat setelah melihat ayahnya menutup pintu rumahnya. Ia sangat marah sampai ia berteriak pada ibunya.

“Aku benci Ibu!” bentaknya. Dengan wajah serius ibunya menatapnya.

“Kau berbohong lagi,” jawabnya dengan singkat.

“Ibu bahkan tidak bisa membuktikan bahwa aku berbohong!” bentaknya lagi.

“Memang tidak, tapi aku selalu tahu kapan kau berbohong,” jawab ibunya lagi. Saat itulah Cindy menyadari angka di dahi ibunya yang menunjukkan angka 30. Ia mulai berpikir apakah ibunya memiliki kemampuan seperti dirinya saat ini? Ia pun mulai menduga-duga. Tidak mungkin angka itu menunjukkan jumlah kebohongannya. Ia pun kembali menerka, apakah itu jumlah perasaannya saat tersakiti? Jika iya, maka ia adalah orang yang sangat dingin. Dalam keheningan mereka, terdengar dentingan lonceng jam kota. Cindy dan ibunya sama-sama menoleh ke arah suara. Tanpa sadar Cindy menghitung dentingan jam tersebut dan tepat pada dentingan ke-12, ia kembali menatap ibunya. 29. Air mata Cindy kembali menetes.

Ibunya pun menatapnya sambil tersenyum sayu. “Jadi, angkaberapa yang tengah kau lihat?”

Fin.

More Stories
#OneStudentOneTumbler Ajak Mahasiswa Kurangi Penggunaan Botol Plastik