Pareidolia: Permainan Persepsi Yang Mengagumkan

Pernahkah kamu melihat awan yang menyerupai wajah manusia, hewan, dan benda-benda lainnya? Atau pernahkah kamu melihat sesosok wajah menyeramkan dalam secangkir kopimu? Atau mungkin melihat figur tokoh terkenal yang muncul pada roti panggangmu saat sarapan tadi pagi? Jika ya, mungkin kamu sedang mengalami sebuah fenomena yang disebut dengan pareidolia.

Pareidolia adalah kemampuan untuk mengenali huruf maupun bentuk dalam konteks yang tidak biasa. Fenomena ini merupakan sebuah pengalaman melihat pola atau hubungan dari informasi yang acak ataupun tidak bermakna yang kemudian dipersepsikan menjadi sesuatu yang memiliki makna (Lazzaro dkk., 2013). Pareidolia merupakan fenomena yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari manusia, biasanya berupa awan yang berbentuk seperti binatang dan wajah manusia atau permukaan bulan yang terlihat seperti wajah seseorang.

Pareidolia termasuk ke dalam ilusi optik yang terjadi ketika stimulus eksternal memicu individu untuk memersepsi bagian objek yang sebenarnya “tidak ada”. Persepsi ini melibatkan perpaduan yang tidak tepat antara representasi internal dalam diri manusia dengan input sensori. Meskipun sebenarnya manusia memiliki kemampuan untuk membedakan gambar yang sebenarnya dengan gambar yang berasal dari persepsi subjektif, namun dalam hal ilusi optik seperti pareidolia, keadaan pikiran dan pengalaman masa lalu dapat “menipu” persepsi manusia. Hal ini karena pikiran manusia cenderung melihat apa yang ingin dilihatnya (Lazzaro dkk., 2013). Selain itu, pikiran manusia juga memiliki kecenderungan untuk menambahkan, menghilangkan dan mengorganisasi kembali informasi yang diterimanya dari sistem sensori. Pengorganisasian informasi yang berlangsung dengan cepat dan kompleks inilah yang sering memunculkan persepsi yang salah terhadap suatu objek, seperti pareidolia.

Pareidolia dapat terjadi dalam berbagai bentuk, namun yang paling sering dialami oleh manusia adalah face pareidolia. Face pareidolia terjadi ketika seseorang memersepsi sebuah benda mempunyai komponen serupa dengan wajah, seperti; alis, mata, hidung, dan mulut. Tak jarang, orang yang mengalami face pareidolia melihat benda-benda tersebut memiliki ekspresi emosi yang kerap ditemui pada wajah manusia seperti marah, sedih, dan bahagia. Face pareidolia ini membuktikan bahwa sistem visual manusia sangat peka dan efisien dalam memersepsi wajah (Leopold & Rhodes, 2010). Hal ini terjadi karena sejak dilahirkan ke dunia, manusia sudah belajar untuk mendeteksi pola wajah seseorang, terutama wajah ibunya. Kemampuan tersebut berkembang menjadi kemampuan untuk mendeteksi ekspresi emosi sederhana, seperti marah dan senang, dan akan terus berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja (Leopold & Rhodes, 2010). Kemampuan ini menyebabkan persepsi otomatis manusia terhadap komponen-komponen objek yang serupa dengan komponen wajah, seperti mata, hidung, dan mulut yang kemudian dianggap sebagai wajah sungguhan.

Mekanisme face pareidolia maupun pareidolia yang lain bukan hanya melibatkan persepsi pada indera penglihatan, namun juga melibatkan bagian-bagian tertentu dalam otak manusia. Salah satu bagian otak yang bernama fusiform face area (FFA) akan teraktivasi ketika seorang individu melihat bentuk sebuah wajah. Aktivasi pada area FFA ini bukan hanya terjadi ketika manusia melihat wajah yang sesungguhnya, namun juga teraktivasi ketika manusia mengalami face pareidolia (Liu dkk., 2014). Bagian FFA yang akan lebih teraktivasi ketika mengalami face pareidolia adalah area sebelah kanan. Semakin kuat aktivasi pada FFA kanan, maka semakin kuat pula face pareidolia yang dialami oleh individu tersebut. Sementara itu sisi lain dari fusiform face area, yaitu FFA bagian kiri, akan lebih teraktivasi ketika individu memersepsi suatu elemen bukan sebagai wajah (Liu dkk., 2014). Dengan kata lain, individu tersebut mengalami pareidolia dalam bentuk yang lain seperti bentuk tubuh binatang, benda rumah tangga, atau benda-benda lainnya.

Fenomena pareidolia ini merupakan sebuah ilusi persepsi yang melibatkan proses kompleks dalam pikiran manusia. Fenomena ini membuktikan bahwa pemrosesan informasi dalam pikiran manusia memiliki komponen top-down yang kuat yang memampukan manusia memersepsi sebuah benda memiliki “wajah” meskipun dengan terbatasnya sumber informasi (Liu dkk., 2014). Keterbatasan sumber informasi (stimulus) mengakibatkan fenomena pareidolia bersifat subjektif dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, hubungan tiap objek, mood, serta keadaan pikiran.

Pareidolia memberikan pengalaman persepsi yang luar biasa dan terkadang menyenangkan untuk dialami. Melalui ilusi ini, manusia dapat merasakan benda-benda yang sebenarnya tidak memiliki pesan khusus menjadi lebih atraktif dan bermakna. Namun, perlu diingat bahwa pareidolia yang dilihat oleh mata hanyalah sebuah ilusi dan permainan persepsi. Karena pareidolia terjadi secara otomatis, cepat, tidak memerlukan kesadaran serta rasionalisasi, biasanya orang tidak sadar bahwa persepsi mereka sedang “ditipu” oleh ilusi pareidolia (Lazzaro dkk., 2013). Oleh karena itu, setiap individu perlu lebih bijak dalam menyikapi fenomena pareidolia agar ilusi ini tidak mengaburkan makna yang sebenarnya dari sebuah objek. [Hika]

 

Referensi:

Lazzaro, Paolo D., Murra, Daniele., & Schwortz, Barrie. (2013). Pattern recognition after image           processing of low-contrast images, the case of the Shroud of Turin. Journal of Pattern           Recognition, 46, 1964-1970.

Leopold, David A., & Rhodes, Gillian. (2010). A Comparative View of Face Perception. Journal of           Comparative Psychology, 124, 233-251.

Liu, Jiangang., Li, Jun., Feng, Lu., Li, Ling., Tian, Jie., & Lee, Kang. (2014). Seeing Jesus in toast:           Neural and behavioral correlates of face pareidolia. Journal of Cortex, 53, 60-77.

Sumber gambar: cdn(dot)idntimes(dot)com

 

 

 

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Joker: Hidup dalam Genre Komedi Tragis