Pentas Ambal Warsa 51 Swagayugama : Berbangga Diri Menjadi Pelestari

 

 

 

 

Psikomedia, Yogyakarta Swagayugama merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Gadjah Mada yang berfokus pada bidang kesenian. Berdiri sejak 6 Maret 1968 silam, Swagayugama kini telah berusia 51 tahun. Selama perjalanannya, Swagayugama menjadi wadah bagi penggiat kesenian Jawa klasik gaya Yogyakarta Mataraman, khususnya tari dan karawitan dengan gendhing-gendhing klasik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejalan dengan visi Swagayugama, yaitu menjadikan kesenian Jawa gaya Yogyakarta yang adiluhung supaya tetap lestari, pada peringatan hari ulang tahun yang ke 51 Swagayugama mengadakan Pentas Ambal Warsa 51. Pentas ini dilaksanakan di aula Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada Sabtu, 27 April 2019 pukul 19.00 WIB. Perayaan ambal warsa tahun ini menghadirkan karya dengan sentuhan inovasi namun tetap berpegang teguh pada prinsip dasar tari dan karawitan klasik gaya Yogyakarta. Pentas tahun ini mengusung tema “Berbangga Diri Menjadi Pelestari”.

Mendekati dimulainya acara, para pengunjung yang terdiri dari anak-anak sampai orang tua mulai memadati aula Gelanggang Mahasiswa UGM. Mereka sangat antusias untuk menonton pentas ambal warsa ini.

“Saya sangat suka nonton acara-acara kebudayaan kaya gini, jadi bisa ikut nguri-uri budaya Jawa,” ujar Puput, salah satu pengunjung.

Pentas Ambal Warsa 51 dibuka dengan alunan gendhing dari tim karawitan Swagayugama. Tidak terlewat pula sambutan dari Ketua Swagayugama, Amara Arvitha Mayangsari dan Kasubdit Organisasi dan Fasilitas Mahasiswa, Dr. SIndung Tjahyadi M.Hum. Dalam sambutannya, Amara mengungkapkan bahwa di era sekarang kaum milenial perlu aktif terlibah dalam melestarikan kebudayaan. Dr. Sindung juga mengatakan perlunya riset-riset untuk memperdalam berbagai karya atau potensi yang ada, serta dapat mensosialisasikannya kepada masyarakat dan kaum milenial.

Pentas Ambal Warsa 51 juga menampilkan tarian-tarian dengan iringan karawitan. Pentas tarian yang pertama yaitu penampilan tarian Nawung Sekar yang merupakan tari dasar gaya Yogyakarta. Tarian ini mengandung berbagai gerakan dasar, sebagai bentuk pengenalan ragam-ragam gerakan pada para penari. Tari Nawung Sekar dibawakan oleh 7 anak-anak perempuan dari Taman Pamulangan Seni Budaya Pakembinangun. Pentas selanjutnya adalah penampilan tarian Sari Kusuma yang dibawakan oleh 9 penari wanita. Tarian ini menceritakan tentang gambaran perjalanan seorang gadis yang belajar menari, dari awal mencoba hingga berkembang menjadi lebih baik.

Setelah menampilkan tarian-tarian, pentas dilanjutkan dengan konser karawitan “Kidung Senja di Kota Jogja” yang dikomposeri oleh Jagad Mellian Tejondaru. Dibawakan oleh 20 anggota tim karawitan, konser karawitan berlangsung meriah dengan sentuhan musik modern dan penggunaan gitar. Selain menampilkan pentas kesenian, pada perayaan ambal warsa ini panitia juga membagikan doorprize  bagi para pengunjung.

Tiba saatnya pada penampilan yang ditunggu-tunggu, yaitu sendratari Buriswara Rante. Sendratari ini dipandu oleh penata tari Putra Jalu Pamungkas, S.Sn. dan penata iringan Bayu Purnama, M.Sn. Sendratari ini dibawakan oleh 22 orang penari, yang terdiri atas 9 penari wanita dan 13 penari laki-laki. Penampilan sendratari semakin memukau dengan tatanan cahaya dan musik karawitan yang sangat mendukung suasana pentas. Tidak lupa busana serta tata rias yang dikenakan oleh penari juga turut mendukung penampilan sendratari ini. Sendratari Burisrawa Rante ini berisi pesan yang mendalam tentang kehidupan, yaitu hidup seakan membutuhkan masalah supaya kita tahu bahwa kita memiliki kekuatan untuk melaluinya, butuh pengorbanan supaya kita dapat merasakan kerja keras, butuh air mata supaya kita tahu perasaan untuk merendahkan hati, butuh dicela supaya kita tahu cara untuk menghargai, butuh orang lain supaya kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Pada intinya, cerita dalam sendratari ini mengajarkan bahwa kita tidak bisa menjadi seperti orang lain, dan orang lain pun tidak bias menjadi seperti kita.

                                   

Setelah berakhirnya sendratari Burisrawa Rante, berakhir pula Pentas Ambal Warsa ke 51 ini. Acara ditutup dengan foto bersama seluruh penari dan tim karawitan. (Anggun)

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Tips Membagi Waktu di Perkuliahan untuk Camaba