Pentas Besar KRST 2015: Keluarga “Bahagia”

Sabtu (6/6) lalu Panggung Tari Tedjokusumo Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta diriuhkan oleh Pentas Besar KRST bertajuk Keluarga Bahagia. Pentas teater berdurasi dua jam ini bercerita tentang Seno dan keluarganya yang bermasalah. Kisah ini dimulai dengan adegan Seno (M. Naufal Azmii), Mawarni (Gita Putri Kahar), Lana (Nisa Ramadani), dan Adam (Syaiful Tholif) yang tengah menikmati sarapan mereka. Selain sarapan, makan siang dan makan malam adalah kegiatan rutin keluarga kecil Seno. Bisa berkumpulnya keluarga mereka dalam satu meja makan menjadi gambaran kecil kebahagiaan keluarga Seno. Namun, di balik itu semua ada rahasia-rahasia yang dipendam masing-masing anggotanya.

Seno, sang kepala keluarga sekaligus kepala cabang di sebuah bank swasta besar ternyata memiliki impotensi. Berbagai cara ia lakukan agar bisa sembuh dari gangguan syahwatnya itu. Ia kerap bermasturbasi dengan koleksi video pornonya, bahkan sampai menggunakan foto anak perempuannya sendiri. Namun, hal tersebut tetap tidak dapat membuatnya ereksi. Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan penjual jamu (Fikriani Anasih). Awalnya, Seno hanya ingin meminta jamu untuk obat impotensinya, tetapi si Mbok Jamu justru ingin membantu dengan memberikan solusi lain. Mbok Jamu pun kemudian bermeditasi untuk memanggil roh yang bisa memberikan jawaban atas masalah yang menimpa Seno. Tiba-tiba cahaya di panggung menggelap dan hanya cahaya merah yang menonjol menyoroti Mbok Jamu, pertanda ia telah dimasuki roh.

Keterbukaan, adalah jawaban yang diberikan roh dalam tubuh Mbok Jamu. Seno tidak percaya dan tidak puas dengan jawaban itu. Ia tetap ragu untuk terbuka pada keluarga, terutama pada istrinya. Seno pun mencoba mengusir kegusarannya dengan mencoba masturbasi lagi dan gagal. Ia pun frustrasi dan pergi dari rumahnya sejenak.

Cerita kemudian dilanjutkan dengan adegan perselingkuhan yang dilakukan Mawarni dan Yuda (Hatmaji Ismu). Keadaan rumah yang sepi membuat Mawarni bebas mengeluhkan impotensi suaminya dan bahtera rumah tangganya yang yang terombang-ambing pada Yuda. Yuda yang memang sudah mengetahui hal tersebut menyikapinya dengan santai. Pada akhirnya mereka pun tergoda untuk berhubungan intim.

Adegan dibuka kembali dengan cerita dari Lana, putri sulung Seno dan Mawarni. Lana tiba di rumahnya dalam keadaan mabuk berat. Lana mengeluhkan masalahnya dengan Brandon, kekasihnya. Ia frustrasi dan tidak terima karena diperlakukan seperti pelacur. Sementara itu, Mawarni dan Yuda masih berhubungan intim tanpa disadari Lana.

Kemunculan Adam menjadi hiburan segar sejenak bagi audiensi. Adam, sosok polos dan lucu itu menemukan celana dalam ketika menyapu ruang tamu. Ia memutuskan untuk bertanya pada kakaknya yang tengah tertidur. Adegan demi adegan berlanjut menceritakan adu mulut yang lucu antara kakak dan adik itu. Sampai tibalah pembicaraan mereka ke hal-hal yang menjurus ke permasalahan keluarga mereka. Lana yang masih setengah mabuk mengatakan bahwa ia pernah melihat Seno tengah bermasturbasi menggunakan fotonya. Lana pun hanya bisa menunjukkan kemarahannya dengan berteriak dan memaki-maki ayahnya dihadapan Adam. Adam yang polos dan tidak tahu-menahu soal masturbasi pun penasaran dan terus memaksa kakaknya untuk memberi tahu. Lana pun akhirnya mau memberi tahu Adam, namun dengan cara yang membuat penonton menahan nafas. Lana mempraktikkan caranya langsung kepada Adam.

Cerita semakin menuju ke puncaknya. Penonton pun dibuat ternganga dengan penampilan para aktor dan aktris yang tengah menunjukkan adegan seks dalam dua kamar yang berbeda. Lana dengan Adam, serta Mawarni dengan Yuda. Tibalah Seno yang terkejut mendapati rumahnya berantakan. Seno pun kemudian masuk ke kamarnya yang sedang “digunakan” Mawarni dan Yuda. Tidak disangka, Seno yang terkejut dengan apa yang ia lihat pun juga terkejut karena ia mendadak sembuh. Seno akhirnya bisa ereksi berkat melihat istrinya berhubungan intim dengan orang lain.

Dimulai dengan adegan makan bersama, cerita ini juga ditutup dengan adegan yang sama. Mawarni tengah menyiapkan makan malam dengan wajah hangat seperti biasanya. Seno pun bergabung dengan wajah yang juga cerah. Adam dengan terpaksa membujuk kakaknya untuk segera makan. Akhirnya, keluarga kecil itu pun duduk bersama di ruang makan. Menyantap makan malam mereka dengan kebahagiannya masing-masing.

Untuk sesaat cahaya menggelap, kemudian hanya ada cahaya hijau yang menyoroti keluarga Seno yang tadi tengah sarapan. Dengan ekspresi muka datar dan suasana yang terkesan horor, mereka menyanyikan sebaris lagu Satu-Satu. “Satu…dua…tiga… sayang semuanya.” Pentas pun selesai dan dilanjutkan dengan sesi sharing, diskusi, dan foto bersama penonton.

Muhammad Iqbal, sang sutradara, memang sukses membuat penonton terperangah. Dalam pentas ini, ia memang ingin menunjukkan pesan moral tentang keterbukaan. Keterbukaan adalah hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap keluarga. Dengan terbuka, keluarga dapat saling memahami masalah masing-masing anggotanya. Iqbal memang bercita-cita membuat pementasan tentang keluarga. Kali ini KRST kebetulan bisa memfasilitasinya untuk mewujudkan impiannya membuat pementasan bertemakan keluarga.  Menurutnya, keluarga adalah sekumpulan individu yang belum tentu berhubungan darah dan memiliki hubungan sangat erat serta keterbukaan satu sama lain. [Irmarinda]

Dok. Psikomedia
Dok. Psikomedia
Dok. Psikomedia
Dok. Psikomedia
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Anak Psikologi Digusur?