Pentas Besar KRST 2018: Virtual Realita

Kamis, 15 November 2018 lalu, sebuah pentas digelar di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta. Pentas bertajuk Virtual Realita dibawakan oleh salah satu BKM seni di kluster Humaniora bernama Keluarga Rapat Sebuah Teater, salah satu BKM yang ada di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Pentas ini disutradarai oleh Ahmad Adlan Arief serta asisten sutradara, Vinny Marviani.

Virtual Realita, menceritakan tentang dua insan yang terkekang oleh tuntutan sosial, namun berusaha mencari kehidupan melalui game online. Ryan (Fajar Ibrahim), seorang pemuda berusia 27 tahun, pengangguran yang dihantui kegagalan dalam memenuhi tuntutan kerja. Nike (Syarifa Yurizdiana), seorang siswa SMA yang terbebani oleh tuntutan akademik dari orang tua dan lingkungan sosialnya.

Terdapat dua setting di atas panggung, setting realita yang diperlihatkan dengan adanya kamar dari Ryan dan Nike serta setting virtual yang nantinya akan diisi oleh karakter-karakter virtual dari Ryan bernama StaticX (Krismoni Mahendra), karakter dengan senjata berupa sniper dan karakter dari Nike bernama Ameyumi (Puti Indah Julito), karakter dengan senjata berupa katana.

Kisah dibuka dengan Nike melakukan gantung diri di kamarnya dan terdengar suara pembaca berita yang memperdengarkan berita seputar bunuh diri siswi SMA, kemudian lampu mati. Setelah itu, terdengar musik yang menandakan dunia virtual diikuti masuknya karakter StaticX dan Ameyumi. Mereka melakukan percakapan seputar game tersebut. Setelahnya diperlihatkan kehidupan sehari-hari dari Ryan dan Nike. Ryan tidak banyak keluar dari kamar. Di kamar itu dia hanya makan dan bermain game online. Hubungan Ryan dengan keluarganya juga tidak begitu baik. Kemudian ditunjukkan Ryan berdialog dengan StaticX seputar dunia yang disebut game sampah oleh Ryan.

Yeah, bukankah begitu? Dunia ini adalah game sampah. Tujuh miliar pemain bergerak seenaknya, tanpa obyektif atau aturan yang jelas. Kau akan kena penalti jika terlalu banyak menang ataupun terlalu banyak kalah. Kau akan ditekan jika terlalu banyak diam, dan akan dijauhi kalau terlalu banyak bicara. Tanpa obyektif, tanpa parameter, bahkan genrenya saja tidak jelas. Tapi setiap orang menilai, dan menghakimi berdasarkan aturan yang mereka tetapkan seenaknya sendiri. Apa itu kalau bukan game sampah?!” Begitulah kiranya dialog milik Ryan tentang dunia realita ini.

Di sisi lain, Nike, siswi SMA yang terbebani akan tuntutan akademik, terutama dari ibunya. Kehidupan sehari-hari hanya diisi dengan belajar dan belajar, karena seringkali ibunya mengawasi Nike ketika Nike sedang belajar. Namun sesekali ketika sedang tidak diawasi, dia curi-curi kesempatan untuk bermain game online. Bagi ibu Nike, Nike harus memanfaatkan setiap detiknya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi kesuksesan masa depannya bukannya untuk bermain HP bahkan game online.

Suatu hari, kehidupan mereka berdua mulai berubah. Ryan mulai berpikir untuk mencoba mencari pekerjaan lagi, meskipun Ryan juga berpikir kemungkinan dia akan gagal. Namun, ayah Ryan tetap mendukung apapun yang akan terjadi nantinya. Meskipun hubungan Ryan dengan ayahnya sempat memburuk, tetapi itu tidak membuat ayah Ryan lantas juga membenci Ryan, justru ayah Ryan tetap menemani Ryan di saat-saat terburuknya, bahkan ketika Ryan memulai untuk “keluar” dari kamarnya ayah Ryan senantiasa mendukung keputusan Ryan.

Sebaliknya, kondisi Nike justru semakin memburuk sejak dia ketahuan bermain game online oleh ibunya. Laptop Nike diambil, dan Nike tidak mempunyai dunia lagi untuk menjadi dirinya sendiri karena beban akademik di dunia realita itu terlalu berat untuknya. Lebih parahnya lagi ibu Nike terus menuntut Nike untuk belajar, bahkan ketika belajar ibu Nike lebih ketat mengawasinya.

Hari terus berganti, Ryan semakin membaik karena sudah mendapat pekerjaan dan akan memulai hari pertamanya bekerja, namun Nike semakin memburuk, Nike menjadi sangat depresi karena tidak mempunyai dunia yang di dalamnya dia bisa menjadi dirinya sendiri. Kisah ditutup dengan pembacaan berita seperti adegan yang pertama dengan pembaca beritanya adalah Ryan. Namun sebelum itu, terdapat dialog yang seru antara Nike dan Ameyumi. Nike mempertanyakan tentang kenyataan hidup yang sedang dijalaninya, kenyataan yang di dalamnya hanya mengikuti ekspetasi dari ibunya. Selama pembicaraan tersebut, Ameyumi mengarahkan katananya ke arah Nike. Nike berkata, dia tidak bisa hidup dalam realita yang seperti itu, dan memutuskan untuk mencari realita yang lain, setelah itu ditutup dengan Nike menusukkan katana ke badannya.

Menurut penulis, pesan yang dapat diambil adalah game online itu tidak sepenuhnya buruk, tidak sepenuhnya membuang-buang waktu. Game online adalah salah satu sarana untuk bersenang-senang agar kemudian seseorang bisa kembali ke realita dalam kondisi yang lebih baik, karena apabila realita hanya dipenuhi oleh pekerjaan entah itu akademik maupun pekerjaan yang sesungguhnya dan tidak diimbangi dengan refreshing itu bisa membuat individu merasa tertekan, stres, depresi, bahkan hingga bunuh diri.

Pesan lain yang dapat diambil adalah, butuh peran keluarga untuk mengembalikan seseorang yang apabila sudah terlalu jauh terperangkap di dunia virtual, tidak lantas dihujat dan dibenci begitu saja. Jadi, ketika seseorang tersebut memutuskan kembali dan keluarga juga masih mau menerimanya, dia akan semakin yakin untuk kembali ke realita yang sesungguhnya. (Fitri)

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Bosan