‘Dihakimi’ online karena suatu pernyataan atau perbuatan insensitive di masa lampau mungkin sudah jadi kejadian yang cukup awam, ya. Namun, pernahkah kamu melihat mulai maraknya orang-orang dihakimi karena tidak terlihat menyuarakan suatu isu yang sedang hangat secara publik? Sebut saja, isu Black Lives Matter di Amerika Serikat yang panas beberapa bulan lalu. Punya platform besar, tapi tidak dimanfaatkan dengan baik, katanya. Kalau tidak me-repost, menulis, atau mengganti foto profil untuk menunjukkan dukungan terhadap isu yang hangat tersebut secara publik, bisa dianggap tidak punya empati.

           Aksesibilitas terhadap informasi yang semakin mudah didapatkan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam perilaku masyarakat di dunia maya. Tak terkecuali, mudahnya diskusi-diskusi dan perbincangan terkait isu-isu hangat. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian banyak kalangan adalah adanya cancel culture, ‘budaya’ baru untuk secara kolektif menyatakan tidak lagi memberikan dukungan terhadap seseorang yang dianggap melakukan kesalahan fatal. Dewasa ini, cancel culture sendiri menjadi budaya yang cukup problematik karena tolok ukur ‘fatal’ ini dirasa sebagian kalangan menjadi konyol, atau konsekuensinya yang tak setimpal dengan perbuatannya.

           Namun, cancel culture hanyalah secuil bagian dari permasalahan yang lebih besar. Beragamnya platform media sosial dan mudahnya aksesibilitas terhadapnya juga membuka pintu bagi permasalahan baru: performative activism. Performative activism–atau aktivisme performatif–adalah salah satu bentuk aktivisme atau perjuangan yang sesuai namanya, berorientasi pada ‘performansi’ atau pertunjukan. Dengan adanya penekanan pada pertunjukan, aktivisme performatif bergantung pada gerakan simbolis, seperti pergantian foto profil, post dukungan secara publik di media sosial, dan lain lain-lain. Perlu digarisbawahi bahwa aktivisme pada umumnya, memang memiliki aspek simbolis sebagai bagian dalam pergerakannya. Di sisi lain, aktivisme performatif bergantung pada aspek simbolis ini.

           Influencers, atau figur publik yang memiliki platform besar dan diasumsikan memiliki pengaruh besar pada pengikutnya, merupakan sasaran empuk bagi masyarakat untuk mempertanyakan kontribusinya terhadap isu tertentu. Pada saat isu #BlackLivesMatter kembali menghangat pada tahun lalu setelah tewasnya George Floyd, misalnya, banyak influencers yang dikritik atas kontribusi mereka yang cenderung performatif. Banyak video influencers yang berpose di lokasi protes massa terkait isu rasisme di Amerika Serikat yang beredar di media sosial, yang kemudian dihujani kritik karena dianggap menjadikan momentum protes menjadi panggung bagi mereka (Paul, 2020 & Froelich, 2020).

           Selain itu, UNICEF Swedia juga pernah meluncurkan kampanye “Likes Don’t Save Lives” pada tahun 2013, menekankan bahwa kampanye ini tidak menentang adanya kegiatan mengajak kesadaran secara virtual, tetapi likes semata pun tidak akan membantu masalah kelaparan, vaksin, dan lain-lain secara langsung (Khazan, 2013). Dari kedua peristiwa tersebut, perlu diingat bahwa bukan berarti setiap orang diminta untuk langsung mendedikasikan waktu, uang, atau tenaganya dalam membantu masalah, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap permasalahan perlu diselesaikan secara kolektif dengan lebih dari sekadar unggahan dukungan di publik. Akan selalu ada aksi nyata yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini.

           Apakah influencers yang melakukan aktivisme performatif tidak memberikan pengaruh baik? Tidak sedrastis itu juga, sih. Sebagai figur publik dengan pengaruh yang besar, tentu pernyataan dukungan mereka terhadap isu tertentu membawa masyarakat luas menjadi lebih paham tentang isu yang sedang diperjuangkan bersama dan untuk hal ini, kita dapat berterima kasih. Namun, jika orientasi dari adanya dukungan ini memang hanya performatif, hanya sebagai legitimasi partisipasinya dalam isu tersebut, dan hal ini terjadi secara kolektif dalam skala yang lebih besar ke depannya, maka di sini masalah akan timbul. Keresahan tadi hanya menjadi panggung pertunjukan dan ajang kepedulian saja, tanpa ada perubahan yang progresif. Esensi dari adanya kampanye sosial adalah menyelesaikan masalah itu sendiri, bukan apakah sosok tertentu sudah menunjukkan dukungannya atau tidak.

           Meski mudah dipahami sebagai konsep, standar suatu tindakan masuk ke dalam aktivisme performatif sendiri masih bersifat subjektif. Toh, tidak semua orang bisa menjadi juri untuk memutuskan apakah niat sosok tertentu menunjukkan dukungannya memang karena hanya untuk citra diri yang lebih baik, atau memang benar-benar peduli. Oleh karena itu, keresahan terhadap aktivisme performatif ini mungkin bisa dijadikan refleksi pribadi terlebih dahulu: apakah ketika mendukung sesuatu, kita lebih peduli terhadap bagaimana orang memandang kita terkait posisi kita, atau memang karena kepedulian terhadap isu itu sendiri? Dengan lebih memahami bagaimana aktivisme performatif secara masif dapat menghambat progresivitas isu, kita bisa memulai untuk menghindarinya dan mulai untuk memperjuangkan sesuatu secara progresif, sesuai kapasitas masing-masing.

            Bila platform besar yang dimiliki influencers dapat dianalogikan sebagai panggung, maka sekiranya perlu diingat bahwa memperjuangkan isu memerlukan upaya yang goes beyond the stage. Sangat disayangkan apabila dukungan tadi hanya dilakukan di atas panggung pertunjukan tanpa adanya kepedulian yang nyata. Berpose di tengah protes, mengunggahnya, lalu selesai. Sebaliknya, sebagai penonton, tidak adil pula bagi masyarakat untuk menilai suatu sosok hanya dari apakah ia sudah memanfaatkan platform online-nya terkait suatu isu atau belum. Seperti yang sudah disebutkan, dukungan terhadap suatu isu lebih dari sekadar apa yang ada di ‘panggung’, atau dalam hal ini, apa yang suatu figur pilih untuk tunjukkan secara publik. Some people actually get things done outside the spotlight.

           Tulisan ini bukan merupakan kritik yang mendiskreditkan upaya yang sudah dilakukan secara virtual untuk menaikkan isu tertentu. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali bagaimana kita sebagai masyarakat dapat menggerakkan sesuatu tidak hanya untuk pertunjukan, and feel good about ourselves semata. Apabila kamu sudah mengerahkan kapasitas terbaikmu, yang mana adalah menaikkan kesadaran sekitar secara virtual, maka bagus! Tulisan ini juga bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa kita tidak dapat menilai keterlibatan, pandangan, maupun kepantasan seseorang hanya dari apakah seseorang sudah menunjukkan stance-nya di media sosial. That it takes more than just likes, retweets, and profile pictures to prove someone cares about the issues in the world.

            

Penulis : Nuhida Kinansa Husainy

Editor : Septania Nurdika Putri

Pustaka

Froelich, P. (2020, June 6). Influencer slammed for using Black Lives Matter protest as photo opp. New York Post. Diakses dari https://nypost.com/2020/06/06/influencer-slammed-for-using-black-lives-matter-protest-as-photo-opp/

Khazan, O. (2013, 30 April). UNICEF Tells Slacktivists: Give Money, Not Facebook Likes. The Atlantic. Diakses dari https://www.theatlantic.com/international/archive/2013/04/unicef-tells-slacktivists-give-money-not-facebook-likes/275429/

Paul, K. (2020, June 11). ‘Stop treating protests like Coachella’: influencers criticized for capitalizing on movement. The Guardian. Diakses dari https://www.theguardian.com/media/2020/jun/11/influencers-protests-staged-photos-black-lives-matter

Baca tulisan lain : https://psikomedia.net/epilog-2020/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *