Zaman sekarang, penggunaan smartphone adalah gaya hidup tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kemudahan dalam menjalin komunikasi menjadi alasan utama mengapa smartphone manjadi primadona saat ini. Dulu, definisi komunikasi hanya terbatas pada tatap muka ataupun melalui faksimile dan surat. Kini, mengirim pesan hanya perlu waktu sepersekian detik (tentu saja apabila ada sinyal dan kuota). Keberadaan smartphone telah merevolusi cara berkomunikasi. Keberadaan smartphone telah merevolusi peradaban manusia.

Sayangnya, kemudahan yang ditawarkan oleh smartphone berbanding lurus dengan risiko kurang baik yang mengancam. Penggunaan smartphone mengurangi interaksi sosial secara nyata (Turkle, 2012). Salah satu dampak negatif dari masifnya penggunaan smartphone adalah perilaku phubbing. Phubbing berasal dari kata phone dan snubbing, yang didefinisikan sebagai kecenderungan seseorang untuk fokus pada smartphone dibanding interaksi sosial secara langsung dalam setting situasi sosial (Chotpitayasunondh & Douglas, 2016). Alih-alih berinteraksi sosial secara langsung, orang yang melakukan phubbing akan memilih bermain dengan smartphone-nya.

Perilaku phubbing memiliki gejala khas, di antaranya adalah :

  1. Ketidakmampuan untuk mengontrol penggunaan ponsel dan internet secara seharusnya.
  2. Perasaan takut terlewat peristiwa besar yang terjadi di internet.
  3. Ketidakmampuan untuk menahan godaan membuka smartphone.
  4. Kesulitan dalam menjaga eye-contact saat menggunakan smartphone.
  5. Mengabaikan interaksi lain yang sedang terjadi dalam kelompok..

Efek yang ditimbulkan dari perilaku phubbing ini beragam. Pertama, komunikasi dunia nyata akan semakin renggang. Yah, gimana enggak renggang, waktunya bersosialisasi malah main smartphone. Kedua, lawan bicara merasa tidak dihargai. Ini sangat jelas. Ada orang berbicara di depanmu dan kamu malah asyik sendiri dengan smartphone-mu. Terakhir, kamu akan semakin kesulitan untuk mengontrol perilaku phubbing yang kamu lakukan.

Lebih parahnya lagi, ketika seseorang menjadi phubber (orang yang melakukan phubbing) di tengah kelompoknya, tindakannyasecara tidak langsung menegaskan bahwa perilaku phubbing itu hal yang lumrah, sehingga menjadikan perilaku phubbing sebagai siklus berulang di tengah kelompok tersebut (Chotpitayasunondh & Douglas, 2016). Padahal, menurut penelitian yang dilakukan oleh Hanika pada tahun 2015, seseorang yang melakukan phubbing ternyata merasa terganggu jika orang lain melakukan hal serupa.

Haduh, gimana sih, ini?
Enggak mau diperlakukan seperti itu, tapi memperlakukan orang lain seperti itu.
Ya sudah, ambil jalan tengahnya saja: letakkan smartphone-mu dan mulailah menyapa orang di sekitarmu.

Penulis: Naufal Shabri
Editor: Septania Nurdika

Referensi

Chotpitayasunondh, V., & Douglas, K. M. (2018). The effects of “phubbing” on social interaction. Journal   of Applied Social Psychology, 48(6), 304–316. doi:10.1111/jasp.12506 
Chotpitayasunondh, V., & Douglas, K. M. (2016). How “phubbing” becomes the norm: The antecedents and consequences of snubbing via smartphone. Computers in Human Behavior, 63, 9–18. doi:10.1016/j.chb.2016.05.018 
Hanika, I. M. (2015). Fenomena Phubbing Di Era Milenia (Ketergantungan Seseorang  Pada Smartphone Terhadap Lingkungannya). Jurnal Interaksi, (Online),  Vol. 4, No. 1
Karadağ, E., Tosuntaş, Ş. B., Erzen, E., Duru, P., Bostan, N., Mızrak Şahin, B.,  Babadağ, B. (2016). The virtual world’s current addiction: Phubbing. Addicta: The Turkish Journal on Addiction, 3, 250–269. http://dx.doi.org/10.15805/ addicta.2016.3.0013
Turkle, S. (2012). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. New York, NY: Basic Books.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *