Polemik Pembangunan Bandara Kulon Progo

Polemik Pembangunan Bandara Kulon Progo

Sabtu (15/3), Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Equilibrium menyelenggarakan Launching Majalah Equilibrium. Launching majalah yang bertajuk Pembangunan Bandara ini bertempat di Restoran Dapoer Djamoer, Yogyakarta. Hadir Juhri Iwan Agriawan, Peneliti Ahli Bandara di Pusat Studi Transportasi dan Logistik dan Sani Roychansyah,  dosen arsitektur UGM sebagai pembicara.

Sebelum mengawali pembahasan tentang pembangunan bandara, Astri, Pimpinan Redaksi BPPM Equilibrium, menerangkan latar belakang umum mengenai pengambilan tema majalah tersebut. “Bandara merupakan masterpiece sebuah kota dan ingin meningkatkan awareness mahasiswa dan masyarakat Yogyakarta terhadap pembangunan bandara di Kulon Progo,” imbuh Astri. Astri menambahkan isu pembangunan bandara telah berhembus sejak tahun 2005. Data dari Angkasa Pura, pengembang proyek bandara di Kulon Progo, merencanakan tahun 2017 bandara tersebut akan mulai dioperasikan. Bersebrangan dengan Angkasa Pura, masyarakat Kulon Progo sendiri belum tersosialisasi dengan baik mengenai info pembangunan bandara itu. “Sampai tahun 2014 isu ini masih mengalami polemik dan pembangunan bandara menjadi momen krusial bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya,” tutup Astri.

Pembicaraan Astri mengenai latar belakang pembangunan bandara daerah Kulon Progo dilanjutkan oleh Iwan yang memberi materi mengenai teknis transportasi udara di Indonesia. Ia menerangkan, Indonesia mempunyai 300 bandar udara, tetapi hanya 20% yang bisa di darati oleh pesawat yang menjangkau jarak jauh atau dengan kata lain memiliki panjang landasan sampai 1500 kilometer. Bandara di Yogyakarta, termasuk dari salah satu yang tidak memiliki cukup tempat untuk pesawat mendarat. Oleh karena itu, banyak maskapai luar negeri, misalnya Singapura, yang tidak berani membuka penerbangan ke Yogyakarta dikarenakan daerah yang rawan.

Sementara itu, Roy, menerangkan tentang planning pembangunan sebuah bandara dan pengaruh keberadaan bandara terhadap keberfungsian suatu daerah. Ia menjelaskan banyak area yang perlu dikenalkan, salah satunya Kulon Progo. Melalui pembangunan, kita nantinya akan bisa melihat pengembangan kota Yogyakarta secara keseluruhan. Yogyakarta yang menjadi ibukota DIY dan merupakan pusat ekonomi dan pemerintahan bisa lebih di optimalkan.

Nadia, Pimpinan Umum BPPM Equilibrium, menerangkan bahwa tema pembangunan bandara dipilih untuk menjadi suatu sarana mengangkat suara masyarakat Kulon Progo. “Majalah ini ingin membuka cakrawala masyarakat mengenai proyek yang akan dieksekusi. Kami sendiri berharap ada tindak lanjut pemerintah terhadap nasib rakyat kedepannya,” pungkas Nadia. Andi,salah satu peserta mengatakan bahwa launching ini membuatnya tergugah atas isu-isu yang sedang berkembang di Yogyakarta. “Terimakasih telah mengangkat tema ini semoga mahasiswa dan masyarakat bisa lebih tersosialisasi akan hadirnya majalah ini,” celotehnya. Setelah berjalannya talkshow, audiens tidak hanya disuguhkan isu tentang bandara. Alunan akustik dan jamuan makan malam pun memperindah acara pada malam itu. [Magda, Ester]

 

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Kuisioner Koran Dinding Mahasiswa