Prokrastinasi : Menjadi Solusi?

Menunda pekerjaan mungkin dapat mengurangi stres dan kecemasan. Namun, menunda tidak dapat mengurangi beban pekerjaan. Lantas bagaimana mengatasinya?

Seberapa sering Anda menunda pekerjaan? Kalau Anda sangat sering mengalihkan tugas, Anda mungkin telah melakukan prokrastinasi. Prokrastinasi adalah perilaku mengalihkan tugas yang berprioritas tinggi dengan tugas yang lebih rendah prioritasnya. Psikolog sering mengaitkan perilaku ini dengan tindakan mengurangi stres dan kecemasan (Fiore, 2006).

Orang yang melakukan prokrastinasi disebut dengan prokrastinator. Seorang prokastinator biasanya melakukan penundaan karena menganggap dia mampu mengerjakan tugas dalam setengah waktu yang diberikan. Namun, kenyataanya tugas tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Kemudian orang tersebut merasa kesulitan dan tidak dapat mengatasinya. Selain itu, seorang prokastinator biasanya juga seorang yang memiliki self-confidence rendah. Hal tersebut menjadikan dirinya merasa tidak mampu mengerjakan tugas dan akhirnya menundanya.

Seorang prokrastinator beralasan bahwa dia terlalu sibuk dengan tugas lain. Frustrasi dengan tugas juga dapat membuat orang menunda tugasnya. Selain itu, orang menunda pekerjaan karena merasa penundaaan tersebut dapat mengurangi beban. Namun, kenyataanya beban hanya berkurang pada saat itu saja (Reinecke, dkk, 2016).

Penelitian di Amerika dan Kanada menunjukkan bahwa 57% waktu di rumah, 32% waktu bekerja, dan 40% waktu di sekolah/kampus digunakan untuk prokrastinasi (Lavoie dan Pychyl, 2001). Penelitian lain mengungkapkan prokrastinasi juga berhubugan dengan perilaku perfeksionis (Foster, 2007). Perilaku perfeksionis menyebabkan orang tersebut terlalu berpikir apa yang terbaik sehingga memakan waktu dan akhirnya menunda tugasnya.

Terdapat beberapa tips untuk mencegah prokrastinasi. Pertama, buatlah to-do-list tentang deadline penugasan. Kemudian kerjakan tugas yang tidak disukai terlebih dahulu. Kurangi gangguan, seperti mematikan smartphone. Pastikan tidur dan makan teratur. Terakhir, ingatkan pada diri sendiri bahwa tugas harus diselesaikan. [Faqih, Haqqi]

 

Referensi :

Fiore, Neil A (2006). The Now Habit: A Strategic Program for Overcoming Procrastination and Enjoying Guilt- Free Play. New York: Penguin Group.

Foster, J. F. (2007).Procrastination and Perfectionism: Connections, Understandings, and Control. Gifted Education International,23(3), 264-272.

Lavoie, J. A., & Pychyl, T. A. (2001). Cyberslacking and the Procrastination Superhighway: A Web-Based Survey of Online Procrastination, Attitudes, and Emotion. Social Science Computer Review,19(4), 431-444.

Reinecke, Leonard., Meier Adrian., Aufenanger, Stefan. (2016). Permanently online and permanently procrastinating? The mediating role of Internet use for the effects of trait procrastination on psychological health and well-being,12(55128), 1-19.

More Stories
Ketika Psikologi Bicara Game