Apa Itu Pensiun?

Seperti yang sudah kita ketahui, pensiun adalah ketika seseorang sudah tidak bekerja lagi karena telah memasuki masa usia lanjut, ataupun sukarela atas permintaan pribadi. Menurut Kubicek dkk., (2011) pensiun merupakan transisi besar dalam kehidupan seseorang yang telah lanjut usia. Transisi ini mengantar pada tahap baru dalam perjalanan hidup, yang membutuhkan penyesuaian rutinitas sehari-hari dan kontak sosial. Faktor-faktor yang membantu orang untuk mengatasi perubahan akibat transisi ini adalah sumber daya pribadi, sosial, dan keuangan (Szinovacz, 2003).

Batas Usia Pensiun

Menurut Stuart (dalam El-din dkk., 2012) batasan usia pensiun biasanya berkisar antara 55 hingga 70 tahun. Namun, batasan usia pensiun dapat berbeda-beda di setiap negara dan bergantung pada beberapa faktor. Di Indonesia penetapan usia pensiun, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun, berlaku mulai Januari 2019 pemerintah menetapkan awal usia pensiun yaitu ketika memasuki usia 57 tahun, tetapi penetapan masa pensiun ini juga bergantung pada beberapa faktor seperti profesi serta ketentuan tempat kerja.

Alasan Penetapan Usia Pensiun

Jika ditinjau berdasarkan rentang perkembangan manusia (psikologi perkembangan), usia seseorang yang memasuki awal masa pensiun yang telah ditetapkan, yaitu sekitar usia 57 tahun, termasuk ke dalam fase dewasa pertengahan. Lebih lanjut dalam Santrock (2018), dijelaskan bahwa fase dewasa tengah adalah periode perkembangan dari sekitar 40 tahun hingga 60 tahun.

Fase dewasa tengah adalah masa untuk mengembangkan keterlibatan dan tanggung jawab pribadi serta sosial. Dalam fase ini, seseorang akan membantu generasi berikutnya agar menjadi individu yang lebih kompeten dan matang. Selain itu, fase ini biasanya akan dipergunakan seseorang untuk mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier. Pada fase dewasa tengah ini, fungsi organ dan kesehatan seseorang mulai mengalami penurunan. Salah satu penurunan fungsi organ adalah pada paru-paru. Ada sedikit perubahan dalam kapasitas paru-paru pada seseorang yang telah memasuki usia dewasa menengah. Santrock (2018) menuliskan bahwa pada fase usia dewasa tengah, protein dalam jaringan paru-paru menjadi kurang elastis. Perubahan ini, dikombinasikan dengan pengerasan bertahap pada dinding dada, menyebabkan berkurangnya kapasitas paru-paru untuk memindahkan oksigen dari udara yang dihirup menuju ke pembuluh darah.

Tidak lama setelah penetapan awal usia pensiun, seseorang akan memasuki fase dewasa lanjut pada usia sekitar 60 tahun. Fase dewasa lanjut adalah masa peninjauan hidup, pensiun dari pekerjaan, dan penyesuaian peran sosial baru yang melibatkan penurunan kekuatan dan kesehatan (Santrock, 2018). Selanjutnya dijelaskan juga bahwa pada fase dewasa lanjut, resiko seseorang mengalami disabilitas fisik akan mengalami peningkatan. Pada fase ini, seseorang akan mengalami perubahan fisik yang sangat terlihat, seperti mengalami penurunan berat badan, rambut menjadi berwarna putih dan keriput wajah semakin terlihat.  Selain itu, pada masa dewasa akhir seseorang akan lebih rentan terhadap resiko penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, penyakit sendi dan lain-lain.

Umumnya, perusahaan juga akan mempertimbangkan perubahan yang dialami seseorang sesuai rentang perkembangannya. Contoh sederhananya, pertimbangan ini digunakan untuk tetap mempekerjakan atau melakukan pemberhentian terhadap pekerjanya. Perusahaan akan memberhentikan seseorang yang sudah lanjut usia dengan alasan mereka—pekerja lanjut usia—kurang cepat dalam bekerja, kurang memenuhi persyaratan standar kualitas yang ditentukan perusahaan, dan secara fisik kurang mampu memenuhi kebutuhan perusahaan yang mengakibatkan kurang efektif dalam produktivitas. Melihat berbagai perubahan yang terjadi pada awal fase dewasa tengah hingga dewasa akhir, maka seseorang dapat menjadikannya sebagai pertimbangan untuk menentukan waktu yang tepat untuk mengambil pensiun.

Keputusan dalam menentukan masa pensiun juga dapat dipengaruhi oleh faktor kesiapan seseorang untuk menghadapi masa pensiun. Kesiapan pensiun adalah penerimaan, kesiagaan, dan kesediaan seseorang terhadap keseluruhan perubahan yang terjadi dimana ia tidak lagi bekerja dan diwujudkan dalam bentuk tingkah laku (Wardana, 2014). Seseorang yang telah mempersiapkan pensiun sejak dini, akan memiliki resiko lebih rendah dalam mengalami rasa cemas dan ketakutan. Semakin baik kesiapan diri seseorang saat akan memasuki masa pensiun, maka kemungkinan besar akan semakin nyaman saat menikmati masa-masa pensiunnya. Pada umumnya, seseorang yang telah mengambil pensiun akan merasa lebih tenang karena terbebas dari tuntutan pekerjaan yang mengekang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Lindwall, M. dkk., 2017) dapat diketahui bahwa seseorang yang sudah pensiun menunjukkan kesehatan psikologis yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang masih bekerja. Selain itu dibandingkan dengan seseorang yang bekerja, seseorang yang pensiun memiliki skor lebih tinggi pada beberapa variabel kesehatan psikologis (kepuasan hidup, kualitas hidup, dan kebebasan). Mereka juga melaporkan stres dan depresi yang lebih rendah dibandingkan ketika masih bekerja.

Efek Samping Pensiun

Di sisi lain, banyak juga seseorang yang tidak siap dan menganggap pensiun sebagai suatu masa yang menimbulkan ketakutan dan rasa khawatir. Osborn, J. (2012) mengatakan bahwa ada efek psikologis yang akan dialami seseorang ketika memasuki masa pensiun, di antaranya adalah:

  • Gangguan identitas parsial
  • Melemahnya pengambilan keputusan
  • Kepercayaan diri yang berkurang
  • Rasa ‘kosong’ setelah pensiun
  • Pencarian keterlibatan yang berarti dalam masyarakat
  • Memikirkan struktur kehidupan selanjutnya,
  • Mengalami penuaan
  • Kegelisahan akan datangnya kematian
  • Pemeliharaan hubungan sosial yang kritis
  • Aktualisasi diri
  • Rasa cemas akan kegiatan yang harus dilakukan setelah pensiun

Ada beberapa hal lain yang juga dicemaskan oleh mereka yang merasa tidak siap untuk menghadapi masa pensiun. Kecemasan ini didasari oleh hilangnya interaksi sosial pada lingkungan saat ia bekerja, menurunnya penghasilan yang tentunya akan memengaruhi ekonomi keluarga, dan kehilangan jabatan serta fasilitas yang mengakibatkan timbulnya rasa perubahan status sosial. Kecemasan akan ketidaksiapan menghadapi masa pensiun ini merupakan hal yang wajar. Seseorang yang mengalami hal-hal demikian dapat dikatakan sedang mengalami Post Power Syndrome. Hasanah, A. (dalam Indarwati dkk., 2017) mendefinisikan Post Power Syndrome sebagai fenomena psikologis yang kurang stabil dan muncul ketika seseorang turun dari posisi yang sebelumnya dipegang, ditandai dengan perasaan murung, sakit, mudah tersinggung dan merasa tidak berharga.

Cepat atau lambat, masa pensiun akan menghampiri kita pada akhirnya. Pensiun merupakan masa transisi berat yang akan dialami oleh semua orang pada umumnya. Kita dapat mempersiapkan diri atau hanya berpangku tangan untuk menunggu masa pensiun tiba. Tentunya setiap orang memiliki keputusannya masing-masing dalam menentukan kapan dia akan mengambil masa pensiun. Namun, akankah lebih baik jika kita mempersiapkan diri untuk menghadapi masa pensiun agar dapat meminimalisasi dampak dari pensiun bagi kehidupan kita nantinya.

Penulis: Fajrul Falah H
Editor: Septania Nurdika

Referensi

El-din, S. B., Mohamed, G. R., & El-Maged, M. A. H. (2012). Pre-retirement education program fof faculty of nursing employees in el-minia university. Journal of American Science, 8(2), 192-193.

Indarwati, R., Nursalam, N., Hargono, R., Suprajitno, S., Haryanto, J., Fauziningtyas, R., & Pratama, R. (2017). ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING POST-POWER SYNDROME AND QUALITY OF LIFE IN THE ELDERLY. Belitung Nursing Journal3(5), 450-461. doi: 10.33546/bnj.92

Kubicek, B., Korunka, C., Raymo, J. M., & Hoonakker, P. (2011). Psychological well-being in retirement: the effects of personal and gendered contextual resources. Journal of occupational health psychology16(2), 230–246. https://doi.org/10.1037/a0022334

Lindwall, M., Berg, A., Bjälkebring, P., Buratti, S., Hansson, I., & Hassing, L. dkk. (2017). Psychological Health in the Retirement Transition: Rationale and First Findings in the HEalth, Ageing and Retirement Transitions in Sweden (HEARTS) Study. Frontiers In Psychology8. doi: 10.3389/fpsyg.2017.01634

Osborn, J. (2012). Psychological Effects of the Transition to Retirement. Canadian Journal Of Counselling And Psychotherapy46(1), 45-58.

Santrock, J. W. (2018). A topical approach to life-span development (9rd ed.). New York: McGraw-Hil

Szinovacz, M. E. (2003). Contexts and pathways: Retirement as institution, process, and experience. In G. A. Adams & T. A. Beehr (Eds.), Retirement: Reasons, processes, and results (pp. 6–52). New York, NY: Springer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *