Psikologi UGM Melihat Tantangan Dikti (Publikasi Jurnal)

Merespon surat edaran yang dikeluarkan Dikti, kemungkinan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada akan memberlakukan peraturan tersebut. Berdasarkan keterangan Subandi, kemungkinan, penulisan skripsi sebagai syarat kelulusan akan digantikan oleh penulisan jurnal ilmiah. “Ini baru diperkirakan, mungkin nanti nggak ada skripsi, tapi langung nulis naskah publikasi. Tapi itu mungkin, belum dibicarakan,” kata Subandi.

Menurut Subandi, tidak terdapat perbedaan besar di antara penulisan skripsi dan jurnal ilmiah, “Jadi sebenarnya skripsi sama naskah publikasi itu sama, tapi diperpendek. Kan lebih muh to malahan. Kalau skripsi kan panjang.” Senada dengan Subandi, Helly pun merasa tidak merasa keberatan apabila jurnal ilmiah dijadikan syarat kelulusan mahasiswa. “Kalo saya jadi mahasiswa di Fakultas Psikologi, nggak terlalu pusing, nggak ada sesuatu yang heboh, karena sistemnya sudah menuju ke sana,” tutur Helly.

Menurut Helly, apabila memang jurnal sebagai syarat kelulusan ini diberlakukan, yang paling berefek adalah mahasiswa program S3 karena terbitnya harus di taraf internasional. Sedangkan bagi S1 tidaklah serumit itu. Helly mengungkapkan bahwa persoalan yang perlu dipikirkan adalah proses publikasi. “Hanya saja yang menjadi fokus kita sekarang adalah bagaimana mempublikasikan naskah publikasi yang sudah disiapkan mahasiswa itu. Jika memang memungkinkan, memungkinkan, dapat menduduki peringkat nasional,” tambah Helly.

Senada dengan Helly, Subandi mengatakan syarat apabila Fakultas Psikologi UGM sebenarnya tidak memiliki masalah dengan publikasi, “Seharusnya, sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi UGM tidak perlu merasa kesulitan, karena seperti yang sudah-sudah, skripsi sudah ada naskah publikasinya,” terang Subandi. Selama ini Fakultas Psikologi UGM sudah memberlakukan hal itu. Setiap skripsi selalu disiapkan naskah publikasinya, hanya saja memang dalam hal mempublikasikannya naskah tersebut membutuhkan proses,

Sekarang, pihak fakultas sudah mempersiapkan adanya jurnal online untuk memudahkan mahasiswanya dalam membuat jurnal dan membuat forma penulisannya. Dalam penulisan jurnalnya pun, mahasiswa tidak perlu berpikir terlalu rumit, karena penulisan jurnal sudah memiliki formatnya sendiri. “Mahasiswa bisa melihat dari jurnal sehari-hari yang biasanya sudah sering ditugaskan dosen untuk di-review oleh mahasiswanya. Format seperti itulah yang akan digunakan sebagai syarat kelulusan,” ujar Helly. Selain itu untuk mempermudah publikasi jurnal ilmiah, juga dapat dilakukan dengan working papers. “Bentuknya sendiri bisa bermacam-macam, bisa working papers, bisa monografi, atau buku yang diedit oleh sesesorang. Bisa juga nanti mengumpulkan naskah yang temannya sama, kemudian ditulis sebagai monograf , kemudian dibuat bentuk buku, dimana di setiap buku itu terdapat ISBN-nya (International Standard Book Number, Red),” tambah Helly.

Masih menurut Helly, selain proses publikasi, permasalahan lain yang perlu dipikirkan adalah proses kelulusan mahasiswa. Helly khawatir apabila proses penerbitan jurnal ilmiah akan mengganggu proses kelulusan mahasiswa. “Apabila proses kelulusannya harus menunggu diterbitkannya jurnal ilmiah tersebut, sementara proses penerbitan memakan waktu yang lama, maka proses kelulusan juga akan terhambat,” tutup Helly. [Sartika Kurniawati, Selvyana Mega, Khosyi Ibrahim, A’yunin Akrimni]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Pentas Ambal Warsa 51 Swagayugama : Berbangga Diri Menjadi Pelestari