Resiliensi: Tetap Tegar Menghadapi Cobaan

Sepanjang kehidupan, manusia selalu dihadapkan pada perubahan dan permasalahan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi hal-hal tersebut yaitu dengan resiliensi.

Resiliensi mengacu pada kemampuan beradaptasi atau menjaga kesehatan mental meski tengah mengalami kesulitan (Wald, dkk, 2006). Seseorang yang resilien mampu mengontrol emosi, tingkah laku, dan atensi dalam menghadapi setiap masalah. Dia juga mampu secara cepat kembali pada kondisi sebelum trauma. Kemudian ia dapat beradaptasi pada kondisi stres yang ekstrem.

Resiliensi dipengaruhi oleh berbagai faktor (Herrman, dkk, 2011). Faktor yang pertama yaitu faktor personal, meliputi personality traits (openness, ekstraversi, dan agreeableness), lokus kontrol internal, mastery, efikasi diri, self-esteem, interpretasi kognitif, serta optimisme. Faktor selanjutnya adalah faktor biologis. Perkembangan struktur otak yang dipengaruhi oleh lingkungan membawa dampak yang signifikan terhadap resiliensi seorang individu. Faktor terakhir yaitu faktor lingkungan. Pada lingkungan tingkat mikro, dukungan sosial yang meliputi hubungan dengan keluarga dan orang-orang di sekitar, berkorelasi dengan tingkat resiliensi seseorang. Selain itu, pada level makro – lingkungan sekolah, masyarakat, budaya, spiritual dan agama – juga berkontribusi pada tingkat resiliensi.

American Psychological Association menyebutkan beberapa cara untuk menumbuhkan resiliensi. Cara pertama yang bisa dilakukan adalah jalin hubungan dengan orang lain. Berikutnya, hindari menganggap suatu masalah sebagai sesuatu yang tidak dapat diatasi. Ketiga, terima perubahan sebagai bagian dari kehidupan. Selanjutnya, ciptakan suatu tujuan yang realistis. Kemudian, hadapi masalah yang ada daripada menghindarinya. Mencari kesempatan untuk mengeksplor diri juga termasuk cara menumbuhkan resiliensi. Di samping itu, jaga persepsi positif terhadap diri sendiri juga merupakan hal yang penting. Cara berikutnya, pertimbangkan hal tersebut dalam konteks yang lebih luas. Selain itu, bayangkan apa yang diinginkan daripada mengkhawatirkan apa yang ditakutkan. Terakhir, perhatikan diri sendiri, terutama kebutuhan dan perasaan.

Menumbuhkan sikap resilien sejak awal perkembangan seseorang dirasa sangat perlu (Rodriguez, dkk, 2015). Orang tua dan guru di sekolah merupakan pihak yang penting dalam menanamkan pengetahuan mengenai resiliensi pada anak-anak. Hal tersebut baik dilakukan agar kelak di kehidupan, anak-anak mampu mengatasi masalah yang ditemui. [Sifa & Alita]

 

Referensi

Herrman, H., Stewart, D.E., Granados, N.D., Berger, E.L., Jackson, B., & Yuen, T. (2011). In Review : What is Resilience?. The Canadian Journal of Psychiatry, 56(5), 258-265.
Rodriguez, T.M., Masso, X.G., Galan, A.S., Moral, J.C.M., & Ano, P.S. (2015). Resilience Patterns: Improving Stress Adaptation Based on an Individual’s Personal Features. The International Journal of Aging and Human Development , 80(4), 316-331.
The Road to Resilience. Diakses pada 15 September 2017 dari http://www.apa.org
Wald, J., Taylor, S., Asmundson, G.J.G., Jang, K.L., & Stapleton, J. (2006). Literature review of concepts . Toronto: DRDC Toronto Research Center.

 

More Stories
Workshop Jurnalistik