Seminar Keprofesian: Kiat-kiat Komunikasi yang Impresif

“Komunikasi tidak hanya meninggalkan kesan, tetapi juga meninggalkan makna yang mendalam…”

Departemen Akademik dan Keprofesian Lembaga Mahasiswa Psikologi UGM telah sukses menggelar seminar Speak Your Words Impressively! Pada Sabtu (6/6) lalu. Seminar ini berlangsung sejak pukul 08.30-15.00 WIB di ruang G-100 Fakultas Psikologi UGM. Pembicara yang kece-kece pun turut hadir memotivasi para peserta. Sebagai pembuka materi seminar, dosen Fakultas Psikologi UGM, Lu`luatul Chizanah menyampaikan perihal komunikasi secara luas, seperti definisi komunikasi, elemen komunikasi, umpan balik dan umpan maju dalam berkomunikasi, jenis komunikasi berdasarkan konteks, gangguan saat berkomunikasi, serta prinsip humanistik dalam komunikasi efektif. Dari semua materi tersebut, yang perlu digarisbawahi adalah rasa empati yang harus ada saat komunikasi, yakni dengan cara mendengarkan. Mendengarkan berbeda dengan mendengar. Mendengarkan berarti kita berusaha memahami dan memposisikan diri sebagai orang yang bercerita. Dosen yang akrab disapa Lulu ini berkata, “Anda bukan seorang evaluator, jadi dengarkan saja siapapun yang bercerita kepada Anda tanpa Anda beri penilaian kepada mereka.” Lain halnya dengan mendengar, mendengar hanya seperti angin lalu saja. Nah, setelah mendengarkan, tahap selanjutnya adalah merespon dengan mendengarkan aktif. Contohnya:

Kasus: suatu ketika dosen memberi nilai C untuk paper yang sudah saya buat dengan sungguh-sungguh.

Kira-kira respon yang mana yang harus Anda berikan?

  1. “Ah, tidak terlalu jelek, rata-rata memang mendapat nilai C. Saya juga..”
  2. “Ya sudahlah. Lagipula ini semester terakhir.”
  3. “Seharusnya kamu bersyukur, dua teman kita mendapat nilai D lho…”
  4. “Kamu mendapat nilai C untuk tugas yang sudah kamu kerjakan salama berminggu-minggu. Kedengarannya kamu benar-benar marah dan kecewa..”

Respon yang paling tepat adalah 4. Respon 4 menunjukkan adanya empati dan penerimaan terhadap orang yang bercerita kepada kita, sehingga orang tersebut merasa dipahami. Peserta pun menjadi lebih paham bagaimana harus berkomunikasi secara impresif dan efektif.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Artinya, pembicara kedua siap membagikan pengalaman menarik dalam dunia komunikasi. Beliau adalah seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Manajemen Kebijakan Publik, UGM. Tidak hanya berpredikat sebagai mahasiswi, gelar Dimas Diajeng Sleman 2014, Duta Pariwisata 2014, dan Putri Indonesia perwakilan DIY 2015 sudah diperolehnya. Ia juga pernah memimpin salah satu sanggar kesenian di UGM dan mengikuti festival tari nasional dan internasional. Segudang prestasi yang ia dapatkan tidak lepas dari skill public speaking yang ia tekuni. Annisa Yunas Hermanto, yang akrab dipanggil Icha adalah pemilik penghargaan-penghargaan tersebut. Icha bercerita tentang pencapaiannya bisa menjadi 3 besar Putri Indonesia 2015 mewakili Yogyakarta. Ia juga membagikan tips tampil percaya diri di depan banyak orang. Berikut tipsnya:

  1. Sebarkan aura positif. Senyum itu perlu.
  2. Cari tahu dengan siapa kita akan berbicara, lalu panggil nama orang tersebut ketika kita berbicara. Menurut Mbak Icha, nama adalah sebuah penghargaan. Jadi ketika kita sebut namanya, mereka yang kita ajak bicara merasa terhormat.
  3. Jika sedang berjuang dalam hal apapun, jangan pikirkan hasil. Namun, lakukan sesuatu karena kita ingin tahu sejauh mana diri ini mampu.

Selain tiga tips tersebut,  Icha juga membagikan moto hidupnya, “Bring out the best of yourself” dan “The best revenge is to improve yourself”. Singkatnya, cara melatih percaya diri adalah dengan melawan rasa takut, begitu menurut Icha. “Because sometimes, be careless is good. Jadi PD aja,” ungkapnya.

Setelah Icha bertutur tentang pengalaman dan tipsnya, sesi berikutnya adalah sesi training yang bertajuk Interpersonal Communication. Kali ini, Eureka Consultant mendampingi peserta berlatih berkomunikasi dengan menggunakan simulasi-simulasi. Sebelum training dimulai, Mohammad Genta Mahardhika sebagai pimpinan Eureka Consultant memberi pengantar bahwa komunikasi interpersonal sangat penting untuk mewujudkan Golden Generation 2045. “Dengan interpersonal communication, setiap orang mampu menjadi leader with positive character, have an effective communicationand have an outstanding career,” tutur Genta.

Berikut adalah beberapa tips dari Genta untuk menjadi interpersonal communicator yang profesional:

Basic 1:

hindari mengeluh, hindari mencaci. Orang tidak akan suka jika bertemu hanya untuk mengeluh, mengekurakan unek-unek yang berlebihan, bahkan sampai mencaci orang lain.

Basic 2:

jabat tangan yang profesional dan senyuman itu penting. Kuncinya, ketika jabat tangan, jangan terlalu dekat ataupun terlalu jauh.

Jabat tangan profesional.

Jabat tangan yang profesional.
Dok. Psikomedia

Kaki yang terbuka ketika jabat tangan menandakan bahwa orang tersebut terburu-buru.

Dok. Psikomedia
Dok. Psikomedia

Basic 3:

fokus pada kelebihan seseorang dan menjaga kekurangan seseorang. Ketika kita bertemu dengan siapapun baik teman lama di lingkungan kerja maupun orang yang belum kita kenal di lingkungan formal, cobalah untuk memikirkan kelebihan dia lalu pujilah dia. Kesan pertama sangat berarti.

Menjelang sore hari, seminar sampai pada penghujung acara. Tiga pembicara sudah menyuguhkan “menu” komunikasi yang impresif. Para peserta pun terlihat antusias selama mengikuti rangkaian acara seminar. Suguhan materi yang menarik dan dibutuhkan memang menjadi daya tarik bagi peserta. Selain itu, banyak ilmu yang didapatkan yang mungkin tidak diajarkan dalam perkuliahan. [Ersya]

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
SUPREMASI 2019 : SUARA MASYARAKAT PSIKOLOGI