Simfoni Hujan

Saat aku menengadahkan kepalaku ke atas, gumpalan awan berwarna hitam terlihat berarak-arakan di langit. Tidak menunggu lama, kilatan petir muncul kemudian diiringi oleh setetes air yang perlahan meluncur turun ke bawah. Tetesan air itu pun perlahan menderas, membuat siapapun yang masih berada di sekolah memilih lebih baik terjebak di sini daripada harus pulang dengan keadaan basah kuyup. “Kamu belum pulang?” Terdengar sapaan bernada ringan di belakang telingaku.

Aku menoleh. Kudapati teman sekelasku, Dominic, memasang senyum  tiga jari khasnya. Aku menggeleng.

“Hujan.” Aku mengalihkan pandangku pada derasnya air yang turun dari langit tesebut. “Kamu sendiri kenapa belum pulang?”

“Alasan yang sama. Hujan. Dan aku nggak bawa payung.” Dia nyengir sambil melirik payung putih yang kugenggam dengan tangan kanan. “Mungkin aku bakalan terjebak di sini sampai pagi, kecuali kamu mau minjemin payungmu ke aku.”

“Nggak mau!” Aku menolaknya sambil memasang tampang galak.

Dominic tertawa kecil. “Bercanda.”

Dominic mengambil satu langkah mendekatiku. Posisinya sekarang berada persis di sebelahku. Bohlam yang dipasang di ujung koridor membuat wajahnya terlihat lebih jelas. Aku bisa melihat dagunya yang lancip dan rahangnya yang kokoh. Dominic sama sepertiku, tidak memiliki hidung yang mancung. Tapi menurutku, hidungnya yang kecil dan bulat itu sangat cocok dengan wajahnya yang masih seperti bocah.

Tangan Dominic terulur ke depan. Menyentuh air yang jatuh dari atap sekolah. Percikan hujan yang jatuh ke telapak tangannya  mengenai muka dan kemeja putihnnya. Pemuda itupun tersenyum. Tuh kan, bukan hanya wajahnya tapi sifatnya juga masih seperti bocah.

“Sepertinya aku udah nggak pantas lagi bermain air seperti ini, ya?” Dominic menoleh. Wajahnya dipenuhi titik-titik air.

Aku mengangkat bahu. Memasang wajah, ya… baguslah kalau kamu sadar. Dominic demi melihat wajahku tersenyum jahil, mengibaskan tangannya yang basah. Aku buru-buru mengangkat kedua tangan, membentuk tameng di depan wajah. Tertawa. Dominic berusaha menarik tanganku, lantas kembali melemparkan segenggam air. Aku terlambat menghindar. Air hujan itu telak membasahi wajah dan ujung rambutku. Dingin.

Dominic tertawa puas. Kini giliranku yang menjulurkan tangan ke bawah sisi-sisi atap, mengumpulkan amunisi, lantas membidiknya tepat ke wajah Dominic. Strike. Dia yang sedang dalam posisi tidak siap gelagapan karena seranganku.

“Kamu curang!”

“Siapa duluan yang mulai?” Aku menjulurkan lidah.

Dominic mengelap wajahnya dengan ujung kemeja. Aku demi melihatnya melakukan itu mengulurkan sebuah sapu tangan putih yang sebelumnya sudah kugunakan. Dia menerimanya. “Terima kasih.”

Kami berdiri bersisian dalam diam. Tenang, menyimak suara tetes-tetes air yang jatuh mengenai atap, meskipun dengan satu tangan masih terjulur menampung air hujan. Masing-masing dari kami siap dalam posisi perang dengan persediaan amunisi di tangan.

“Kamu bohong, kan?” ujar Dominic tiba-tiba. Tatapannya masih memandang lurus ke arah derasnya hujan.

Aku menarik tanganku dari air. “Soal apa?”

“Alasanmu masih berada di sekolah. Kamu bohong kan?” Dia ikut-ikutan menarik telapak tangannya.

Aku diam. Tidak menjawab.

“Kamu belum pulang karena menunggu Randy, kan? Bukan karena hujan.”

Dominic benar. Tebakannya tepat. Alasanku masih berada di sekolah hingga sekarang adalah Randy.

Randy merupakan sahabat baikku sejak bayi. Kami sudah menghabiskan waktu lebih dari lima belas tahun bersama. Rumahnya berada persis di samping kanan rumahku. Bersahabat dengannya membuatku mengenal pemuda itu luar dan dalam. Tertawa, menangis, saling menjahili, bertengkar sudah pernah kulakukan bersamanya. Aku tahu segala akal bulusnya, juga kebaikan-kebaikan kecil yang selalu dia lakukan. Kami dekat. Sangat dekat, bahkan aku merasa lebih dekat dengannya daripada adik kandungku sendiri.

Aku mendongak. Memandang siluet samping wajah Dominic, kemudian tertawa kecil. “Randy selalu tidak pernah membawa payung ke sekolah,” ujarku.

“Ternyata kamu masih perhatian yaa sama dia.” Nada suara Dominic seakan sedang menelan sesuatu yang pahit. Sedikit tercekat.

“Dia sudah pulang.” Dominic berkata lagi.

“Huh?”

“Randy sudah pulang sejak satu jam yang lalu, sama Zahra.”

Mendengarnya hatiku mencelos. Tanpa sadar aku sudah menggenggam gagang payung di tangan kananku begitu erat. Rasanya seperti ada puluhan panah yang menghujam jantungku saat ini. Sakit. Tapi rasa sakit itu tidak kutunjukkan di depan Dominic. Sebagai gantinya, sebuah senyum kupaksakan untuk mengembang di wajahku. Kemudian aku tertawa kecil. Tawa yang sarkastik dan melambangkan sakit yang kurasakan.

“Aku bodoh ya,” ujarku. Mendadak aku merasakan mataku mulai panas.

“Huh.” Dominic tertawa kecil. Tangan kanannya kembali terjulur ke arah tampias air hujan.

“Aku bodoh karena mengkhawatirkan orang yang sudah memiliki pacar. Pasti sudah ada orang lain yang akan menjaganya.” Aku terdiam sebentar. “Aku… sudah pasti dilupakan.”

Seseorang pernah berkata padaku, tidak akan ada benar-benar persahabatan antara laki-laki dan perempuan, karena suatu saat nanti pasti salah satu dari mereka akan jatuh cinta. Dan itulah yang sedang kurasakan.

Aku jatuh cinta dengan Randy. Entah ini bisa disebut cinta atau bukan. Tapi yang jelas, semenjak memasuki masa SMA, aku merasa ingin mendapatkan perhatian lebih darinya. Aku ingin Randy melihatku. Namun bukan sebagai sahabat masa kecilnya, tetapi sebagai seorang perempuan. Perempuan utuh yang mungkin bisa menjadi pendamping hidupnya kelak. Dan sayangnya, Randy tidak peranah memandangku seperti itu.

Memikirkan perasaan ini, membuat mataku panas. Genangan air yang tertumpuk di sana, semakin banyak dan kini mencoba meluncur turun. Tepat ketika tetes air pertamanya jatuh ke pipiku, Dominic melemparkan segenggam air hujan dari telapak tangannya. Air itu telak mengenai wajahku. Mengaburkan antara air hujan dan air mataku yang sebenarnya.

“Jangan menangis,” ujarnya pelan.

Dominic menyodorkan handuk putih milikku yang tadi digunakannya. Aku menerimanya kemudian mengeringkan wajahku.

“Disini bukan hanya kamu yang bodoh. Aku juga.” Pandangan matanya menatap lurus ke arah rinai hujan yang masih cukup deras. “Aku begitu bodoh menunggu seseorang yang bahkan hanya mengingat orang lain.”

“Maaf,” gumamku pelan.

“Nggak papa. Bukan salahmu kalau kamu suka sama Randy. Sama kayak aku, bukan salahku juga kalau aku menyukaimu.”

Mendengar kalimatnya membuatku makin merasa bersalah. “Maaf,” ujarku sekali lagi.

Dominic menunduk. Mata hitamnya memandang milikku. “Aku nggak masalah kalau kamu nggak pernah ingat perasaanku. Aku juga nggak masalah kalau hanya Randy satu-satunya orang yang selalu kamu pikirkan. Jadi sekali lagi kamu nggak perlu minta maaf.”

Keheningan tercipta di antara aku dan Dominic. Hanya suara konstan dari air hujan satu-satunya yang terdengar. Sebuah petir terlihat membelah langit, membuat suasana menjadi terang benderang untuk sesaat. Tapi sayangnya petir itu tidak mampu membuat segala perasaan ini menjadi terang pula.

“Aku harus bagaimana?” ujarku sambil memandangi kubangan air yang tercipta di depan koridor sekolah.

“Apanya?”

“Perasaan ini? Aku harus bagaimana? Apakah aku harus melupakannya agar perasaan milikmu bisa selalu kuingat? Atau bagaimana?”

Dominic tersenyum. “Jangan lakukan apapun,” Dominic berhenti sebentar “Jangan! Apalagi mencoba melupakannya. Karena sesungguhnya, melupakan hanyalah salah satu cara untukmu terus mengingat-ingat akan hal itu. Melupakan hanya akan membuatmu terus berjalan di tempat. Melupakan malah membuatmu kembali teringat oleh perasaan sukamu padanya. Pada akhirnya kamu hanya akan terus berputar-putar di masalah yang sama, kalau kamu terus memaksa untuk melupakan.”

“Tapi tanpa melupakan, aku nggak akan pernah mengingat perasaanmu padaku.”

“Aku nggak masalah. Aku akan tetap menunggumu, sampai akhirnya kamu akan ingat padaku dengan sendirinya. Karena setiap orang berhak memilih apa yang mau dia ingat dan lupakan.” Senyum tiga jari khas Dominic kembali tercetak di wajah manisnya. Melihatnya entah kenapa membuatku semakin merasa bersalah.

“Dom…” Aku mendongak. Meskipun memasang sebuah senyum, dapat kulihat dengan jelas gumpalan air menumpuk di mata hitamnya.

“Aku duluan, Zah,” pamitnya.

Dia membenarkan posisi ransel di bahunya, sebelum menembus derasnya hujan yang masih turun. Tanpa payung, dia berlari-lari kecil menuju halte bus yang berada di depan sekolah. Aku termangu, menatap punggung Dominic yang perlahan-lahan menghilang dihalangi hujan. Sekali lagi rasa sesal menghinggapi hatiku.

Haruskah aku melupakan perasaanku pada Randy, agar aku memiliki ruang yang lebih banyak untuk mengingat Dominic? Ataukah aku membiarkan saja perasaan itu tetap ada? Aku tidak tahu.

Hujan masih dengan derasnya jatuh menyelimuti bumi. Masih bersama dengan air mataku yang juga menderas jatuh mengalir ke pipi. [Sarah]

 

Sumber gambar: https://diahkurnia(dot)wordpress(dot)com/

 

 

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
CERIA, Langkah Sederhana Mencegah Bunuh Diri