Stendhal Syndrome, Tertakjub oleh Seni!

Seberapa seringkah Anda mengunjungi museum setiap tahunnya? Tapi bagimana jika Anda saking terkesima dengan seni Anda dapat menjadi pusing atau mungkin berhalusinasi? Mungkin saja anda memilik Stendhal Syndrome atau Sindrom Stendhal. Apa itu Stendhal Syndrome atau Sindrom Stendhal? Yuk! Dengarkan penjelasannya dibawah ini

 

Apa itu Stendhal Syndrome?

Stendhal Syndrome (Sindrom Stendhal) yang biasanya dikenal sebagai Florence Syndrom adalah sebuah sindrom yang menyebabkan penderitanya mengalami pusing, jantung berdetak sangat cepat serta berhalusinasi ketika melihat sesuatu yang indah atau karya seni. Sindrom ini berasal dari nama seorang penulis asal Perancis yang bernama Henri-Marie Beyle. Stendhal adalah nama samaran dari Henri – Marie Beyle. Beyle atau Stendhal tertakjub akan keindahaan kota Florence di Italia. Ia menggambarkan perasaan itu “Seperti jantung yang berdebar sangat kencang, diikuti oleh perasaan yang menyebabkan hidupmu hilang, berjalan dengan sensasi yang ingin membuatmu jatuh”

 

Menurut psychoanalysis tentang Stendhal Syndrome ……

“Artistic Enjoyment” atau kenikmatan yang bersifat artistik diterapkan sebagai pendekatan terhadap sindrom ini (Guerrero, Rosselló, & Ezpeleta, 2010). Pendekatan ini adalah pendekatan kompleks yang bersifat psikologis yang dimana sang observer dalam bentuk seni. Dalam hal ini ada tiga variabel dan satu kontstanta yang diterapkan oleh Dr. Magherini:

  1. “Primary Aesthetic Experience” : pendekatan dengan cara hubungan internal yang terbentuk oleh dari awalnya kehidupan.
  2. “The Strangeness”:  Dalam pendekatan ini, persepsi dari seni sendiri dapat membawa kita kembali pada sirkumstansi tertentu.
  3. “Selected Fact” : Ada saatnya persepsi pada seni berkembang besar terhadap sang observer
  4. “Artistic Value” : Seni memiliki arti tersendiri dengan karakteristiknya sendiri, dapat berarti sebuah simbol atau memilik konten tersendiri.

 

Fakta tentang Stendhal Syndrome

 

  1. Stendhal Syndrome atau Sindrom Stendhal adalah sebuah sindrom yang dicetus oleh Graziella Magherini pada tahun 1979 yang dimana sindrom ini berdasarkan nama seseorang penulis asal Perancis, Henri – Marie Belye. Pada tahun 2009, seorang pria ditemukan mengalami paranoid setelah menghabiskan liburan di Florens. Dilansir dari  British Medical Journal Case Reports, kasus ini menjelaskan pasien sangat bersemangat untuk mengunjungi jembatan Ponte Veccio dan setelah itu, ia mengalami disorientasi dan “florid persecutory ideation” (ide persekutor yang jerau) (Nicholas, 2009).
  2.  Tak hanya takjub terhadap seni, Stendhal Syndrome atau Sindrom Stendhal juga bisa terjadi terhadap sejarah, budaya dan agama (Datta, 2017). Venice Syndrome atau Sindrom Venesia adalah sebuah kondisi tingkah laku yang terkait dengan Italia, yang dimana kabarnya ada sekitar 51 wanita dan pria dari berbagai belahan dunia melakukan upaya bunuh dari pada tahun 1988 sampai 1995 yang diketahui aksi mereka untuk pergi ke Venesia adalah sebagai tempat untuk bunuh diri. [Icha]

 

Referensi

Bamforth I. Stendhal’s Syndrome. British Journal of General Practice. 2010; 945-946. doi: 10.3399/bjgp10X544780

Datta, S. (2017). Stendhal Syndrome: A Psychological Response Among Tourists. Psychology and Cognitive Sciences – Open Journal, 3(2), 66-73. doi:10.17140/pcsoj-3-125

Guerrero, A., Rosselló, A. B., & Ezpeleta, D. (2010). Stendhal syndrome: Origin, characteristics    and presentation in a group of neurologists. Neurología (English Edition), 25(6), 349-356. doi:10.1016/s2173-5808(10)70066-3

 

  1. Senang sekali bisa dapat informasi baru dari artikel ini yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Karena baca artikel ini saya jadi tertarik untuk baca postingan lain dari bppm psikomedia. Tetapi mungkin ada beberapa hal yang mungkin dapat lebih baik ke depannya mengenai tulisan kalian. Dari artikel ini saya merasa ada beberapa bentuk penulisan yang kurang elaboratif, contohnya di bagian perspektif psychoanalysis. Di dalam paragraf ini banyak menggunakan istilah yang kurang umum untuk pembaca dan konsepnya sendiri kurang dijelaskan. Sehingga sedikit sulit untuk mengambil informasi dalam paragraf tersebut. Penjelasan yang lebih elaboratif mungkin akan bermanfaat tidak hanya bagi pemahaman pembaca sendiri, tetapi mungkin dapat memudahkan apabila ada orang di luar sana yang bertanya mengenai stendhal syndrome. Sekian saran saya semoga berkenan dan dapat diterima mohon maaf apabila ada kesalahan. Semoga psikomedia dapat selalu bermanfaat bagi pembacanya. Terimakasih!

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Rasa Itu Masih Sama