Studi Pentas KRST 2016: Nirwana Berduri

IMG_20160507_195448.jpg

Tahun ini, KRST (Keluarga Rapat Sebuah Teater) kembali menggelar agenda rutin mereka, studi pentas (stupen). Stupen kali ini diselenggarakan sebagai proyek untuk anak-anak yang baru bergabung dengan KRST. Anak-anak baru tersebut diberi tantangan untuk membuat sebuah pentas setelah belajar beberapa waktu di KRST.

Tahun ini, KRST mengangkat tema perdagangan orang (trafficking), yang berjudul Nirwana Berduri. Cerita Nirwana Berduri tersebut merupakan adaptasi naskah Cerita Cibinong dalam Film Perempuan Punya Cerita karya sutradara Nia Dinata.

Nirwana  Berduri menceritakan tentang kehidupan Esi dan anaknya yang masih SMP, Maesaroh. Esi adalah seorang cleaning service di klub malam Merem Melek. Awalnya, kehidupan Esi dan Maesaroh biasa-biasa saja, hingga suatu ketika Esi mengetahui Maesaroh sedang melakukan perbuatan tidak pantas dengan Narto, kekasihnya. Esi pun akhirnya memutuskan untuk pergi dengan Maesaroh meninggalkan tempat tinggalnya yang dulu dan tinggal di tempat Cicih, seorang biduan di tempat kerja Esi.

Perpindahan Esi ke tempat Cicih ternyata membawa bencana baru. Maesaroh terbujuk oleh iming-iming Mansur, kenalan Cicih. Maesaroh pun pergi ke kota bersama Cicih dan Mansur tanpa sepengetahuan Esi. Sayangnya, tidak seperti yang ditawarkan Mansur ketika membujuk rayu Cicih dan Maesaroh dulu. Setelah tiba di kota, Cicih tidak mendapatkan pekerjaan seperti yang ia harapkan. Lebih mengejutkan lagi, Maesaroh ternyata menjadi korban trafficking oleh Mansur.

Setelah mengetahui kejahatan Mansur, Cicih akhirnya pulang. Tangisan dan penyesalan yang ia bawa ternyata tak membuat luluh hati Esi. Esi yang sudah terlanjur marah semakin hancur perasaannya setelah mengetahui hal yang terjadi pada anaknya.

Pentas tersebut disajikan kurang lebih lima puluh menit di selasar gedung D Fakultas Psikologi UGM. Pentas ini disutradarai oleh Syarifa Yurizdiana sekaligus sebagai pemeran Esi dan Alfan Fahri sebagai pimpinan produksi. Pemeran-pemeran lainnya yaitu Eko Setyowati, Joanna Gautami, Arthur Nikijuluw, Ammar Luaiyyan, Kusuma Amir, dan Rifka Singgih Maulida.

Pesan moral yang dapat diambil dari stupen ini adalah jangan mudah tertipu dengan bujuk rayu atau tawaran pekerjaan yang muluk-muluk dari orang yang baru saja dikenal. Tawaran kerja sudah menjadi modus operasi bagi para pelaku kegiatan trafficking untuk menjebak calon korbannya. Menurut UNICEF, terdapat sekitar 1,2 juta anak diperdagangkan setiap tahunnya. Kebanyakan dari mereka diperdagangkan untuk eksploitasi seks. Hal tersebut tidak terlepas dari keuntungan yang begitu menggiurkan, diperkirakan industri perdagangan anak mampu mencetak uang 12 miliar dollar per tahunnya. Semoga dengan adanya studi pentas ini, masyarakat luas lebih waspada akan perdagangan orang dan mampu melindungi dirinya maupun sanak keluarganya dari trafficking. [Tholif]

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Menyiapkan Diri untuk Menghadapi Kesempatan