Thirteen Reasons Why: Kaulah Alasanku Mengakhiri Hidup

 Judul Buku        : Thirteen Reasons Why

Penulis                : Jay Asher

Tahun Terbit     : 2007

Penerbit              : Razorbill

Tebal                    : 288 halaman

Thirteen Reasons Why dimulai ketika Clay Jensen menerima paket kotak sepatu yang berisi tujuh kaset di depan rumahnya, tanpa ada alamat pengirim. Ketujuh kaset tersebut berisi rekaman suara seseorang yang telah meninggal, gadis yang bunuh diri dua minggu lalu, Hannah Baker. Dalam rekamannya, Hannah menyebut tiga belas alasan dan tiga belas orang yang bertanggung jawab atas keputusannya untuk mengakhiri hidup, “…dan jika kamu mendengarkan kaset-kaset ini, kamu adalah salah satu alasannya,” begitu kalimat awal Hannah yang membuat Clay sangat terkejut sekaligus ketakutan, dan tidak habis pikir alasan ia menerima kaset tersebut.

Melalui setiap sisi pada setiap kaset, Hannah menceritakan pengalaman buruk dan gelap yang ia alami, yang disebabkan oleh ketiga belas nama penerima kaset tersebut. Merasa tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Hannah, gadis yang sebenarnya ia sukai, Clay menghabiskan hari-harinya mendengarkan kaset tersebut, mendatangi tempat-tempat yang Hannah sebutkan sebagai lokasi saat semua masalah terjadi.  Mulai dari Justin Foley, hingga nama-nama yang tidak ia duga, Clay akhirnya mengetahui sosok sebenarnya Hannah Baker dan kisah hidupnya yang pahit.

Dalam novel ini, Jay Asher dengan gamblang mengungkap sisi gelap kehidupan remaja, pada budaya barat, tentunya. Alkohol, perundungan, bunuh diri, juga seks bebas diceritakan dengan penuturan yang begitu grafis dan deskriptif. Jay Asher berhasil menghadirkan cerita yang anti-mainstream dan realistis dengan menyuguhkan cerita yang tidak berakhir bahagia, bahwa bunuh diri tidak selalu dapat dicegah, bahwa seseorang pada akhirnya menyerah. Sayangnya, karakter-karakter yang diceritakan dalam novel ini hanya dibentuk berdasarkan yang Hannah sampaikan dalam kasetnya.

Jay Asher berhasil menyampaikan pesan untuk berhati-hati dalam memperlakukan orang lain, karena efeknya mungkin tidak pernah kita duga, seperti yang dikatakan Hannah, “Everything affects everything”.  Dalam ceritanya, Jay Asher secara tersirat juga mengatakan pada pembaca bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk bunuh diri dan akan selalu ada seseorang yang menolong kita. Akan tetapi, novel ini harus dibaca dengan penuh kehati-hatian, terutama oleh orang-orang yang mengalami hal serupa dengan Hannah. Jika gagal meresapi pesan yang hendak disampaikan, Thirteen Reasons Why bisa menjadi pemicu untuk bunuh diri, dengan terinspirasi oleh Hannah Baker yang berhasil mengakhiri hidupnya dengan dramatis.

Thirteen Reasons Why adalah cerita yang gelap dan pahit. Novel ini menyisakan kesedihan bagi pembacanya, memberikan kesan yang sangat mendalam sehingga berhasil membuat pembaca sulit untuk move on dari kisah hidup Hannah Baker. Mengingat banyaknya konten seksual yang mendominasi cerita, novel yang telah dijadikan film seri di Netflix ini tidak direkomendasikan untuk usia di bawah 17 tahun. Bagaimanapun juga, Thirteen Reasons Why merupakan bacaan yang sangat direkomendasikan bagi siapapun yang tertarik dengan dunia psikologi dan ingin mendalami dinamika psikologi remaja. [Rahma]

Sumber gambar: http://craborchardlibrary.com/home/thirteen-reasons-why/

 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Psikologi UGM Melihat Tantangan Dikti (Publikasi Jurnal)