Tugu, Saksi Mata Euforia Kelulusan SMA

Siswa SMA Kolose de Britto menyanyikan marsnya pasca long march dari sekolah sampai Tugu Jogja (26/5)

Tugu Jogja, sebagai landmark Kota Yogyakarta menjadi saksi luapan kegemberian beberapa SMA. MAN Yogyakarta I atau Mansa melakukan long march menuju Tugu. Para siswa mengenakan seragam lengkap dengan tempelan sticker bertuliskan, “SAYA SALAH 1 DARI 229 SISWA MANSA YANG LULUS/TIDAK LULUS”. Barisan paling depan membawa kain putih panjang yang dicoreti tanda tangan siswa.

Hal serupa dilakukan oleh SMA John de Britto selang satu jam setelahnya. Tradisi turun temurun yang dilakukan SMA khusus pria ini dihadiri oleh sekitar 700 siswa. Mereka bukan hanya siswa kelas XII, tapi juga siswa kelas X, XI, dan alumni yang ikut secara sukarela. “Ini murni inisiatif dari anak-anak, mereka mau ke Tugu atau tidak itu terserah mereka,” jelas Frater Tama, selaku salah satu pengajar SMA John de Britto.

Usai pengumuman di sekolah, para siswa melakukan ritual berjalan kaki menuju Tugu, lalu berfoto di depannya, di susul menyanyikan Mars De Britto sebelum kembali berjalan kaki menuju sekolah. Perwakilan dari pihak sekolah sampai beberapa saat sebelum rombongan siswa. Mereka menggunakan mobil yang membawa air mineral untuk dibagikan pada para siswa peserta long march.

Keikutsertaan ini merupakan wujud dukungan sekolah akan aksi siswa-siswanya tersebut, “Sekolah hanya mengantisipasi supaya tidak konvoi, ngomong yang provokatif dan sebagainya. Intinya, kalau kamu (siswa SMA John de Britto, red) lulus, maka kamu lulus dengan baik-baik. Maka datang ke sini dengan nyaman, lalu selesai. Mereka tidak akan mencorat-coret seragam mereka juga, sebagai wujud man for others,” kota Frater Tama. Man for others adalah pedoman siswa-siswa John de Britto, “Artinya manusia bagi sesama, jadi kalau ada orang butuh seragam, bisa disumbangkan,” jelas Amarda, alumni SMA John de Britto, 2010.

Padmanaba, yakni SMA 3 Yogyakarta, mengungkapkan kebahagiaannya dengan cara yang berbeda. Mereka terlihat membagikan nasi kotak pada bebrapa tukang becak di seputaran Tugu. Amel dan Tito menjelaskan bahwa siswa kelas XII berpencar membagikan 670 kotak nasi di tiga titik berbeda, “Kita bagi nasi kotak sama 50 sembako. Nasi kotak dibagikan di tiga spot, Tugu, Lempuyangan, dan Alun-alun Utara – Malioboro”. Sasarannya adalah para tukang becak, tukang parkir, dan pengemis, “Sekalian makan siang, mbak.” ujar Tito. Sementara, sembako dibagikan oleh pengurus OSIS, “Biasanya ke beberapa pegawai sekolah dan mereka yang tidur di gedek,” tambah Tito.

Dua rombongan siswa SMA lain juga terlihat melintas melewati perempatan Tugu. Keduanya mengendari sepeda motor. Rombongan pertama melintas pukul 12.03 dengan membunyikan klakson. Selisih 50 menit berikutnya, rombongan kedua melintas tanpa klakson. Mereka menggunakan seragam yang penuh coretan spidol maupun spay paint warna-warni. Namun identitas sekolah tidak berhasil diketahui. Meski menggunakan klason, rombongan tidak menimbulkan kericuhanan.

I Ketut Witera, polisi lalu lintas yang bertugas saat itu di perempatan Tugu, mengatakan bahwa sejauh itu selebrasi yang dilakukan di seputaran Tugu cukup tertib. Sebagai upaya pencegahan, polisi telah siaga di beberapa titik. Polisi pun dikerahkan di sekolah-sekolah untuk berjaga-jaga, mendata, dan memberikan himbauan untuk tertib lalu lintas.  (Luisa Krismaningrum)

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Rasa Itu Masih Sama