WANITA RUMAH SEBELAH: Suara yang Meresahkan

Kamar mandi, sebuah ruang privat yang seharusnya menjadi hak setiap orang untuk melakukan aktivitas apapun, termasuk menyanyi. Namun, apa jadinya jika aktivitas menyanyi di kamar mandi menjadi suatu hal yang meresahkan banyak orang? Akibatnya, menyanyi di kamar mandi pun menjadi hal yang terlarang untuk dilakukan. Bagi yang telah membaca cerita pendek “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya Seno Gumira Ajidarma tentu tidak asing dengan ulasan cerita tersebut.

Kisah tentang wanita yang sedang menyanyi di kamar mandi ini pun kembali diangkat oleh generasi baru Teater Gadjah Mada (TGM) dengan tajuk “Wanita Rumah Sebelah” pada hari Sabtu (30/05) lalu. Namun, berbeda dengan naskah aslinya, Suluh Senja—selaku sutradara—mengambil sudut cerita yang berbeda, yaitu pada salah seorang istri yang merasa suaminya menjadi ‘korban’ suara wanita rumah sebelah. Bekerjasama dengan Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST), pementasan ini diselenggarakan di selasar G-100 Fakultas Psikologi UGM dan disajikan dalam penataan panggung yang unik seperti arena. Pementasan ini dibuka dengan sukses oleh KRST yang menampilkan drama pendek berjudul Asal Duga. Bercerita tentang kebiasaan menggosip kaum perempuan di sebuah kompleks perumahan, yang berawal dari sebuah dugaan.

Lampu mulai meredup, hanya lampu berwarna biru yang dibiarkan menyala. Satu per satu wajah bercat layaknya pemain pantomim mulai memasuki tempat pementasan. Sebelum pementasan dimulai, Suluh Senja memperkenalkan diri dan mengupas sekilas tentang Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi yang semula berjudul Kamar Mandi. Lampu kembali redup. Para pemain tampak sedang menata dua buah kotak dan sebuah meja kayu kecil sehingga terlihat seperti ruang tamu. Bunyi gayung yang sedang menghajar bak mandi, suara byar-byur dan suara desahan wanita yang sedang mandi pun mengawali pementasan ini.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pementasan ini berkisah tentang seorang istri yang merasa resah dengan suara wanita yang sedang menyanyi di kamar mandi pada jam-jam tertentu. Suara wanita yang berasal dari sebuah kos-kosan yang diduga milik Zus ini bukanlah suara biasa. Suara Zus yang mendesah dan serak-serak basah tersebut ternyata mampu menciptakan daya imajinasi yang tidak-tidak. Setiap lelaki yang mendengar suara Zus saat menyanyi di kamar mandi merasa sangat terangsang dan menimbulkan daya khayal yang sensual dan erotis. Sang istri merasa sangat resah akan perubahan yang terjadi pada suaminya yang diduga akibat menjadi ‘korban’ suara Zus. Sang istri dan ibu-ibu lain yang merasa resah kalau bapak-bapak berpikiran mesum tentang Zus dan menjadikan Zus sebagai objek seksual mereka. Karena resah, mereka pun berbondong-bondong mendatangi rumah pak RT. Mereka meminta pak RT untuk melarang Zus menyanyi di kamar mandi, bahkan kalau perlu mengusirnya dari kampung mereka. Permintaan mereka pun dikabulkan oleh pak RT. Zus berhasil diusir dari kampung dan pindah ke kondominium.

Suatu malam, sang istri menghampiri suaminya yang sedang asik memainkan ponselnya. Sang istri mengeluhkan keadaan rumah tangga mereka yang belum dikaruniai seorang anak, padahal usia pernikahan mereka sudah sepuluh tahun. Lalu sang istri mengajak suaminya ke kamar untuk berhubungan. Pada awalnya sang suami menolak dengan alasan belum jam tidur. Sang istri pun langsung berpikiran negatif, menduga suaminya masih terpengaruh oleh suara Zus. Hari berikutnya sang istri berkeluh kesah kepada temannya bahwa saat dia berhubungan, sang suami membayangkan dirinya sebagai Zus.

Suatu hari, saat Sang istri, pak RT, dan hansip sedang bercakap-cakap di sebuah teras, tiba-tiba saja mereka teringat oleh Zus yang biasanya mandi pada jam itu. Mereka juga membayangkan suara Zus saat sedang menyanyi di kamar mandi, suaranya yang mendesah dan serak-serak basah. “Tolong, tolong, tolonggg!” terdengar suara teriakan ibu-ibu kampung tersebut yang semakin lama terdengar semakin keras dan gaduh. Pementasan pun berakhir.

Seusai pementasan, sesi diskusi selama 30 menit mengenai pementasan Wanita Rumah Sebelah pun dibuka. Berbagai pertanyaan, kritik, saran, maupun sekadar apresiasi dari penonton silih berganti berdatangan. Apresiasi mengenai penataan panggung, lampu LED, make up, hingga desahan suara wanita yang sedang mandi yang menjadi tanda pergantian adegan pementasan. Tidak seperti cerita aslinya, dalam pementasan ini memang ada tidak memperlihatkan sosok Zus secara nyata, tetapi hanya melalui suaranya yang mendesah dan serak-serak basah. [Rias]

Dok. Psikomedia

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed
More Stories
Fasilitas: Tuntutan Awal untuk Dekan